Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Pelaku Usaha Tekstil Lokal Sekarat! Terhimpit Harga Bahan Baku dan Banjir Pakaian Impor
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Fokus

Pelaku Usaha Tekstil Lokal Sekarat! Terhimpit Harga Bahan Baku dan Banjir Pakaian Impor

Pelaku usaha tekstil rasanya sedang sekarat. Selain terhimpit harga bahan baku yang melejit, juga terjepit membanjirnya pakaian impor murah.

R. Izra
Last updated: Juni 12, 2026 10:33 am
By R. Izra
3 Min Read
Share
PELAKU USAHA TEKSTIL - Ilustrasi pedagang pakaian sedang melayani pembeli. (ai)
PELAKU USAHA TEKSTIL - Ilustrasi pedagang pakaian sedang melayani pembeli. (ai)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG – Pelaku usaha tekstil sedang menghadapi situasi yang nggak mudah. Di saat harga bahan baku terus naik akibat pelemahan rupiah, mereka juga harus berhadapan dengan membanjirnya produk impor murah yang makin mudah ditemukan di pasaran.

Kondisi ini membuat banyak pedagang lokal berada di posisi serba salah. Harga modal naik, tapi menaikkan harga jual juga bukan keputusan yang gampang karena konsumen punya banyak pilihan yang lebih murah.

Hal itu dirasakan langsung oleh Edi Gunawan (36), pelaku usaha tekstil yang sudah tujuh tahun berkecimpung di bisnis tersebut. Menurutnya, persaingan dengan produk impor kini semakin berat dibanding beberapa tahun lalu.

Bacaaja: Siasat Perajin Tempe agar Harga Tak Naik di Tengah Himpitan Lesunya Rupiah
Bacaaja: Saat Rupiah Terus-terusan Nyungsep, Presiden Prabowo Buka Kran Impor Pangan dari Prancis

“Banyak barang dari luar yang masuk ke Indonesia. Kaus, kemeja, dan produk tekstil lainnya dijual murah. Kita jadi susah bersaing,” ujar Edi, Kamis (11/6/2026).

Menurutnya, produk impor yang dijual dengan harga rendah membuat pasar semakin kompetitif. Sementara di sisi lain, harga kain lokal justru terus mengalami kenaikan karena biaya produksi ikut terdorong oleh menguatnya dolar AS.

Akibatnya, pedagang lokal harus menghadapi dua tekanan sekaligus. Modal usaha membengkak, sementara ruang untuk menaikkan harga jual semakin terbatas.

Kalau harga dinaikkan, pelanggan bisa beralih ke produk yang lebih murah. Tapi kalau harga dipertahankan, keuntungan yang didapat semakin tipis.

“Nggak gampang. Semua serba naik, tapi pembeli juga maunya harga tetap murah,” katanya.

Tantangan lain yang tak kalah berat adalah kebutuhan modal yang besar. Dalam bisnis tekstil, pembelian kain dari pabrik biasanya harus dilakukan dalam jumlah banyak.

“Kalau ambil ke pabrik minimal sekitar 2.000 meter. Modalnya bisa puluhan juta rupiah hanya untuk satu warna kain,” jelasnya.

Dengan harga kain yang terus naik, kebutuhan modal otomatis ikut membengkak. Sementara kondisi pasar belum sepenuhnya pulih dan penjualan masih cenderung fluktuatif.

Meski begitu, Edi memilih tetap bertahan. Baginya, industri tekstil bukan hanya soal bisnis, tetapi juga menyangkut banyak orang yang menggantungkan hidup dari sektor ini. Mulai dari pekerja pabrik, penjahit, pelaku konveksi, hingga pedagang kecil di pasar.

“Ya mau bagaimana lagi, usaha harus tetap jalan. Semoga ke depan kondisi ekonomi membaik dan industri tekstil lokal bisa lebih diperhatikan,” tuturnya.

Di tengah gempuran produk impor murah dan tekanan kurs dolar, para pelaku usaha tekstil lokal kini sedang berjuang menjaga usahanya tetap hidup. Sebab jika industri tekstil terus melemah, yang terdampak bukan hanya pedagang, tetapi juga ribuan orang yang bergantung pada roda ekonomi sektor ini.

Bagi mereka, bertahan hari ini bukan sekadar soal mencari untung, tetapi menjaga agar usaha yang sudah dibangun bertahun-tahun tidak ikut tumbang di tengah ketatnya persaingan pasar. (dul)

You Might Also Like

Kemarau Datang, BPBD Kabupaten Semarang Siagakan 750 Ribu Liter Air Bersih

Tim Besar Jadi Magnet Penonton, Nobar Piala Dunia Makin Ramai

Enam Warisan Budaya Semarang Diakui Nasional

Semarang Punya Seniman, Tapi Ekosistemnya Masih “Nyari Bentuk”

Sport Tourism Bisa Jadi Mesin Baru Penggerak Ekonomi

TAGGED:harga bahan bakupakaian impor murahpedagang pakaianpelaku usaha tekstil
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article NYUT-NYUTAN - Perajin tempe di Semarang mengaku ketar-ketir tiap hari menghadapi pelemahan rupiah. Musababnya, bahan baku untuk tahu-tempe di Indonesia masih didominasi kedelai impor dari Amerika Serikat (AS). (dul) Siasat Perajin Tempe agar Harga Tak Naik di Tengah Himpitan Lesunya Rupiah
Next Article PANIC BUYING: Antrean panjang warga di sebuah SPBU di kawasan Ngaliyan, Kota Semarang, Selasa (31/3/2026). Isu kenaikan harga BBM membuat warga panic buying. (dul) Rupiah Ambles APBN Jebol? Pakar Undip Sorot Kebijakan Pemerintah Naikkan BBM

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Gol Sabda Bikin PSIS Raih Tiga Poin di Laga Perdana

847 Kafilah Sudah Tiba di Semarang, MTQ Nasional Tinggal Gas!

Biar Nggak Main Hakim Sendiri, Warga Diajak “Melek” Hukum

MTQ Nasional, Pemprov Siapkan 306 Nakes

3.796 Paralegal Jateng Disiapkan Jadi “Penolong Pertama”

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Fokus

Exit Tol Ngaliyan: Dulu Digadang Jadi Solusi, Sekarang Hilang

April 15, 2026
Fokus

Budaya Lokal Semarang Makin Tenggelam di Timeline

April 21, 2026
NYUT-NYUTAN - Perajin tempe di Semarang mengaku ketar-ketir tiap hari menghadapi pelemahan rupiah. Musababnya, bahan baku untuk tahu-tempe di Indonesia masih didominasi kedelai impor dari Amerika Serikat (AS). (dul)
Fokus

Rupiah Makin Lesu, Perajin Tempe Semarang Ketar-ketir: Bahan Baku Kedelai Masih Impor

Juni 11, 2026
Fokus

Semarang Zoo Siapkan Promo Khusus Peserta MTQ

September 7, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Pelaku Usaha Tekstil Lokal Sekarat! Terhimpit Harga Bahan Baku dan Banjir Pakaian Impor
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?