Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Harga Kedelai Naik, Daya Beli Turun
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Fokus

Harga Kedelai Naik, Daya Beli Turun

Kenaikan harga kedelai impor ternyata bukan cuma bikin produsen tahu pusing menghitung biaya produksi. Dampaknya kini merembet ke pasar. Saat harga kebutuhan hidup makin menekan kantong warga, pembeli mulai mengerem belanja. Akibatnya, tahu yang dulu laris manis kini harus menghadapi kenyataan pahit: pesanan berkurang, pasar makin sepi.

T. Budianto
Last updated: Juni 10, 2026 6:17 pm
By T. Budianto
3 Min Read
Share
PRODUKSI TAHU: Pekerja menyelesaikan proses produksi tahu di Pabrik Tahu Hasan (HS), Jomblang, Kecamatan Candisari, Kota Semarang, Rabu (10/6/2026). (Foto: dul)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG- Dampak kenaikan harga kedelai impor ternyata tidak berhenti pada meningkatnya biaya produksi. Di lapangan, para produsen tahu juga mulai merasakan menurunnya daya beli masyarakat yang berimbas pada berkurangnya permintaan.

Kondisi itu diungkapkan Hartono, pekerja di Pabrik Tahu Hasan (HS) yang berlokasi di Jomblang, Candisari, Kota Semarang. Dia menyebut perubahan pola belanja pelanggan semakin terlihat dalam beberapa bulan terakhir.

Pedagang yang biasanya membeli tahu dalam jumlah besar kini mulai mengurangi pesanan karena penjualan mereka juga mengalami penurunan. “Biasanya ada yang ambil empat, sekarang dua. Ada yang dulu ambil tiga, sekarang satu. Pedagang bilang pembelinya lagi sepi,” kata Hartono, Rabu (10/6/2026).

Baca juga: Ketika Dolar Naik, Jangan Biarkan UMKM Berjuang Sendiri

Penurunan jumlah pembelian tersebut menjadi gambaran bahwa tekanan ekonomi tidak hanya dirasakan oleh produsen, tetapi juga oleh masyarakat sebagai konsumen akhir. Ketika harga berbagai kebutuhan hidup meningkat, banyak warga memilih mengurangi pengeluaran, termasuk untuk membeli bahan makanan.

Akibatnya, efek domino terjadi di sepanjang rantai distribusi. Pedagang menjual lebih sedikit, produsen menerima pesanan lebih sedikit, dan perputaran ekonomi menjadi lebih lambat dibandingkan sebelumnya.

Hartono mengaku situasi saat ini berbeda dengan beberapa tahun lalu ketika permintaan tahu relatif stabil. Menurutnya, saat pasar sedang ramai, produksi bisa berjalan lebih lancar karena barang yang dibuat langsung terserap oleh pedagang.

Terasa Berkurang

Namun kini, kondisi tersebut mulai berubah. Meski produksi tetap dilakukan setiap hari, jumlah pesanan tidak lagi seramai sebelumnya. “Kalau pedagang sepi ya kita ikut sepi. Biasanya ramai, sekarang terasa berkurang,” ujarnya.

Selain dipengaruhi daya beli masyarakat, Hartono menilai gejolak nilai tukar dolar juga menjadi faktor yang memperberat kondisi pelaku usaha tahu. Pasalnya, sebagian besar kedelai yang digunakan masih berasal dari luar negeri, khususnya Amerika Serikat.

Ketergantungan terhadap bahan baku impor membuat produsen sulit menghindari dampak fluktuasi kurs. Ketika dolar menguat, harga kedelai ikut naik dan biaya produksi semakin tinggi.

Baca juga: Permainkan Harga Kedelai, Mentan Ancam Cabut Izin Usaha

Sementara di sisi lain, kemampuan masyarakat untuk membeli produk juga cenderung menurun. “Kami berharap keadaan bisa kembali stabil seperti dulu. Kalau ekonomi membaik, pedagang ramai, otomatis kami juga ikut ramai,” tutur Hartono.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, para pelaku usaha tahu masih berusaha mempertahankan produksinya. Mereka berharap stabilitas harga bahan baku dan membaiknya kondisi ekonomi dapat mengembalikan daya beli masyarakat sehingga usaha kecil yang bergantung pada sektor pangan tetap dapat bertahan.

Dulu tahu dikenal sebagai lauk rakyat yang murah meriah dan selalu ada di meja makan. Kini, bahkan tahu ikut merasakan tekanan ekonomi. Saat dolar naik, kedelai mahal.

Saat harga kebutuhan lain ikut merangkak, pembeli pun mulai mengurangi belanja. Akhirnya yang mengembang bukan hanya adonan tahu, tetapi juga daftar persoalan yang harus ditanggung pelaku usaha kecil setiap harinya. (dul)

You Might Also Like

Sekali Jalan Rp200 Ribu, Risiko Seumur Hidup Bui

Puan Sentil Pejabat, Jangan Tunggu KPK Datang Baru Sadar

Hercules Indonesia Hujani Gaza dengan 28 Ton Bantuan Kemanusiaan

Balik Nama Gratis, Masih Nunda?

Kasus Dosen Untag, AKBP B Kena Pasal Berlapis

TAGGED:dolar naikheadlinekedelaiprodusen tahurupiah melemah
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Perbaikan Ruas Cepu-Randublatung: Pemprov Gelontorkan Rp34 Miliar
Next Article Luthfi Minta Tiap Daerah Punya Ekonomi Kreatif Unggulan

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

DIVONIS BERSALAH--Gus Yazid didampingi penasihat hukumnya meninggalkan ruang sidang usai divonis bersalah oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (9/9/2026). (bae)

Bantu Letjen Widi Samarkan Duit Korupsi BUMD Cilacap, Gus Yazid Dibui

CEK KESIAPAN MTQ - Dirjen Kemenag, Abu Rokhmad, Setelah menghadiri rapat checking terakhir kesiapan Provinsi Jawa Tengah sebagai Tuan Rumah MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Rabu (9/9/2026). (dul)

2.242 Peserta Siap Ramaikan MTQ Nasional di Semarang

JENGUK KORBAN: Menteri HAM RI, Natalius Pigai didampingi KaKanwil Kemenham Jateng, Mustafa Beleng saat meninjau korban dugaan keracunan program MBG di RSUD Dr R Soedjati Soemodiardjo, Grobogan, Selasa (13/1/2026). (ist)

Keracunan MBG Terbesar di Pati? 231 Siswa Tumbang, Operasional SPPG Gembong 1 Dihentikan Sementara

Panggung utama event MTQ Nasional di Lapangan Pancasila, Simpang Lima Semarang. (ist)

12 Venue MTQ Nasional Dilengkapi Posko Kesehatan, 306 Tim Medis Siaga

DIVONIS BERSALAH--Gus Yazid (kemeja hijau) duduk mendengarkan vonis putusan kasus TPPU, di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (9/9/2026). (bae)

Gus Yazid Hanya Divonis 1 Tahun dalam Kasus TPPU Lahan Cilacap

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Fokus

Sekolah Dasar Negeri Sepi Peminat, Pengamat Singgung Pergeseran Penduduk

Juli 18, 2026
Ekonomi

Ekonomi Syariah Jangan Berhenti di Buku Pelajaran, Harus Jadi Kebiasaan di Sekolah

Juni 28, 2026
Daerah

Bantuan Rp25 Juta per RT Belum Cair, Pemkot Masih Nyusun Perwal

April 20, 2026
Info

Kompas Sudah Ada, Tinggal Jangan Jalan Sambil Merem

Juni 1, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Harga Kedelai Naik, Daya Beli Turun
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?