TAJUK RENCANA
PENGUATAN dolar Amerika Serikat terhadap rupiah kembali menjadi ujian bagi perekonomian nasional. Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, nilai tukar rupiah yang melemah bukan sekadar angka di layar monitor perbankan atau statistik ekonomi yang hanya dipahami kalangan tertentu.
Dampaknya menjalar hingga ke pasar tradisional, dapur produksi UMKM, warung makan, industri rumahan, hingga sentra-sentra usaha kecil yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi daerah.
Di Kota Semarang, dampak tersebut mulai dirasakan oleh berbagai sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kenaikan harga bahan baku impor menjadi persoalan yang paling nyata. Pelaku usaha tahu dan tempe misalnya, harus menghadapi kenaikan harga kedelai impor yang selama ini masih mendominasi kebutuhan nasional.
Begitu pula pelaku usaha makanan dan minuman yang menggunakan bahan tambahan pangan impor, pengusaha percetakan yang bergantung pada bahan baku tertentu, hingga pelaku konveksi yang memanfaatkan kain atau perlengkapan produksi dari luar negeri.
Bagi perusahaan besar, gejolak nilai tukar mungkin dapat diantisipasi melalui manajemen risiko, cadangan modal, atau strategi bisnis yang lebih kompleks. Namun bagi UMKM, setiap kenaikan harga bahan baku langsung berdampak pada biaya produksi harian.
Pilihan yang tersedia pun tidak banyak. Harga jual dinaikkan dengan risiko kehilangan pelanggan, atau mempertahankan harga dengan konsekuensi margin keuntungan semakin menipis.
Inilah situasi yang saat ini dihadapi ribuan pelaku UMKM di Kota Semarang. Persoalan menjadi semakin kompleks ketika pelemahan rupiah berpotensi memicu kenaikan harga berbagai barang kebutuhan masyarakat.
Jika harga-harga meningkat sementara pendapatan masyarakat tidak bertambah, daya beli akan menurun. Pada titik inilah UMKM menghadapi tekanan ganda. Biaya produksi naik, sementara kemampuan konsumen untuk berbelanja justru melemah.
Padahal selama ini UMKM telah terbukti menjadi sektor yang paling tangguh menghadapi berbagai krisis. Saat krisis moneter 1998 mengguncang perekonomian nasional, UMKM menjadi salah satu sektor yang mampu bertahan.
Ketika pandemi Covid-19 melumpuhkan banyak aktivitas ekonomi, UMKM kembali menjadi penyangga kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, menjaga keberlangsungan UMKM bukan sekadar menyelamatkan pelaku usaha, melainkan menjaga stabilitas ekonomi daerah secara keseluruhan.
Kontribusi Besar
Data menunjukkan bahwa UMKM memiliki kontribusi besar terhadap penciptaan lapangan kerja dan perputaran ekonomi lokal. Di Jateng sendiri terdapat jutaan UMKM yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Di Kota Semarang, keberadaan UMKM tidak hanya menopang ekonomi keluarga, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan ekonomi perkotaan.
Karena itu, kenaikan dolar AS tidak boleh dipandang semata sebagai persoalan kurs mata uang. Dampaknya harus dibaca sebagai tantangan nyata yang membutuhkan langkah antisipatif dari berbagai pihak.
Pemerintah daerah perlu memperkuat program pendampingan dan perlindungan bagi UMKM. Akses pembiayaan yang lebih mudah, bantuan permodalan berbunga rendah, pelatihan efisiensi produksi, hingga perluasan akses pasar harus menjadi prioritas.
Di sisi lain, pelaku usaha juga perlu didorong untuk meningkatkan inovasi dan mencari alternatif bahan baku lokal yang lebih kompetitif agar ketergantungan terhadap produk impor dapat dikurangi secara bertahap.
Perbankan, lembaga keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, asosiasi usaha, hingga perguruan tinggi juga perlu terlibat dalam menciptakan ekosistem yang mampu membantu UMKM menghadapi gejolak ekonomi global.
Kolaborasi menjadi kata kunci. Sebab persoalan yang dihadapi bukan hanya milik pelaku usaha, melainkan bagian dari tantangan pembangunan ekonomi daerah.
Momentum ini juga seharusnya menjadi pengingat penting tentang perlunya memperkuat kemandirian ekonomi lokal. Selama berbagai sektor usaha masih sangat bergantung pada bahan baku impor, setiap gejolak nilai tukar akan selalu menjadi ancaman yang berulang.
Pengembangan industri bahan baku dalam negeri harus menjadi agenda jangka panjang yang tidak boleh diabaikan. Pada akhirnya, kenaikan dolar AS memang berada di luar kendali pelaku UMKM di Semarang.
Namun dampaknya nyata dirasakan setiap hari, mulai dari naiknya harga kedelai, kemasan, bahan produksi, hingga berkurangnya daya beli konsumen. Dalam situasi seperti ini, UMKM tidak boleh dibiarkan berjuang sendiri.
Sebab ketika usaha kecil mulai goyah, yang dipertaruhkan bukan hanya keuntungan bisnis, melainkan keberlangsungan ekonomi keluarga, lapangan pekerjaan, dan denyut ekonomi masyarakat yang selama ini bergerak dari sektor usaha kecil.
Dolar mungkin bergerak di pasar global, tetapi dampaknya bisa terasa hingga ke pengrajin, pedagang tempe, pemilik warung makan, dan pelaku usaha rumahan di sudut-sudut Kota Semarang.
Menjaga UMKM tetap hidup berarti menjaga fondasi ekonomi daerah tetap kokoh. Dan ketika badai ekonomi datang dari luar negeri, benteng pertama yang harus diperkuat adalah mereka yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi rakyat. (*)

