BACAAJA, SEMARANG – Di tengah harga kebutuhan yang terus naik, pelaku usaha fotokopi mulai ikut merasakan tekanan.
Bukan karena pelanggan sepi, tetapi karena harga bahan baku seperti kertas dan plastik terus merangkak naik dalam beberapa bulan terakhir.
Kondisi itu dialami Wina (35), pemilik usaha fotokopi di kawasan Ngaliyan, Semarang. Sudah lebih dari 10 tahun menjalankan usaha, Wina mengaku belakangan harus lebih pintar mengatur pengeluaran agar usahanya tetap jalan tanpa membuat pelanggan kabur.
Bacaaja: Dolar Melesat Rupiah Ambruk, Pelanggan Warteg Mulai Tinggalkan Lauk Ayam
Bacaaja: Kelihatannya Sepele, tapi Jadi Beban Banget Buat Pelaku UMKM: Harga Plastik Naik Gila-gilaan
“Pengaruhnya lumayan terasa. Harga kertas naik, plastik juga naik. Padahal itu kebutuhan utama yang dipakai setiap hari,” kata Wina, Selasa (9/6/2026).
Menurutnya, harga kertas sekarang naik cukup cepat dan hampir sulit diprediksi. Jika dulu satu rim kertas masih berada di kisaran Rp40 ribu sampai Rp48 ribu, kini harganya sudah mendekati Rp60 ribu per rim.
Artinya, untuk membeli satu dus berisi lima rim, biaya yang harus dikeluarkan bisa mencapai sekitar Rp300 ribu.
Meski biaya operasional makin berat, Wina memilih belum menaikkan tarif fotokopi. Alasannya sederhana, ia takut pelanggan beralih ke tempat lain.
“Kalau harga dinaikkan takut pelanggan lari. Tapi kalau enggak dinaikkan, ya keuntungan yang dikorbankan,” ujarnya sambil tersenyum kecil.
Pilihan itu membuat keuntungan yang didapat jauh lebih tipis dibanding sebelumnya. Namun bagi Wina, mempertahankan pelanggan jauh lebih penting daripada mengambil risiko kehilangan mereka karena kenaikan tarif.
Di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil, Wina hanya berharap harga-harga kebutuhan usaha bisa kembali normal agar usaha kecil seperti miliknya tetap bisa bertahan.
“Semoga harga bisa stabil lagi seperti dulu. Biar usaha kecil juga lebih ringan jalaninnya,” tuturnya.
Bagi sebagian orang, kenaikan harga kertas mungkin terlihat sepele. Tapi bagi pelaku usaha kecil seperti Wina, kenaikan itu berarti biaya produksi makin besar sementara pemasukan belum tentu ikut naik.
Di tengah situasi seperti ini, banyak usaha kecil akhirnya memilih bertahan dengan keuntungan minim demi menjaga pelanggan tetap datang. (dul)

