BACAAJA, SEMARANG- Gambang Semarang masih terus hidup di tengah perubahan zaman. Di saat hiburan makin digital dan serba cepat, kesenian tradisional ini ternyata belum kehilangan panggung.
Tri Subekso dari perkumpulan Gambang Semarang Art Company (GSAC) bilang, Gambang Semarang bukan sekadar tari. Lebih dari itu, ini seni pertunjukan lengkap. Ada musik, cerita, sampai unsur teater.
“Jadi kami ini punya misi untuk mengenalkan kembali Gambang Semarang sebagai satu pertunjukan yang utuh,” ujarnya saat ditemui dalam acara pameran kesenian di Semarang, Senin (21/4/2206).
Selama ini banyak orang cuma tahu Gambang Semarang sebatas tari empat penari. Padahal isinya lebih kaya. Mirip lenong atau ketoprak yang punya alur cerita dan pesan.
Baca juga: Budaya Lokal Semarang Makin Tenggelam di Timeline
Gambang Semarang juga jadi simbol percampuran budaya. Ada unsur Jawa dan Tionghoa yang menyatu. Terlihat dari gerakan, musik, sampai alat yang dipakai. Lewat pentas, mereka juga bawa cerita tentang Semarang. Kota yang penuh keberagaman. Semua itu dibungkus dalam pertunjukan yang ringan tapi bermakna.
Di sisi lain, tantangan zaman nggak bisa dihindari. Teknologi berkembang cepat. Selera hiburan juga berubah. Tri mengaku sempat kepikiran soal nasib Gambang Semarang ke depan. Apakah masih bisa relevan di era modern seperti sekarang. “Sejauh ini sejak kami awal berdiri sampai hari ini, itu masih diminati,” ujarnya.
Diminati Anak Muda
Hal menarik justru datang dari penonton. Tri selaku Direktur GSAC menyatakan, banyak anak muda mulai datang ke pementasan Gambang Semarang. Mereka penasaran dan akhirnya menikmati.
Setiap kali GSAC tampil, penontonnya ramai. Antusiasme terasa, apalagi saat pentas digelar di ruang-ruang kampung. Tahun 2025 jadi momen penting. GSAC bikin Festival Gubuk Semarang di empat kampung lama. Mulai dari Sekayu, lalu Kelenteng Siho Kiong di Sebandaran.
Kemudian lanjut ke Kampung Kauman dan ditutup di Kampung Sumatera. Di tiap lokasi, warga datang berbondong-bondong. Dari situ terlihat, Gambang Semarang masih punya tempat. Bahkan bisa jadi jembatan antara tradisi dan generasi sekarang.
Baca juga: Lebih dari Sekadar Tradisi, Dugderan Semarang Diperjuangkan Jadi Warisan Budaya Nasional
Kuncinya ada di cara penyajian. Selama bisa dekat dengan penonton dan dikemas menarik, kesenian lama tetap bisa hidup. Bahkan, makin relevan di tengah zaman yang terus berubah.
Di saat banyak konten cuma bertahan 15 detik lalu hilang, Gambang Semarang justru tetap berdiri tanpa harus viral. Mungkin bukan karena kalah cepat, tapi karena nggak semua yang bertahan harus ikut buru-buru. Kadang yang awet justru yang nggak ikut tren. (bae)

