BACAAJA, SEMARANG – Piala Dunia kini tidak lagi didominasi negara-negara langganan juara. Dalam beberapa edisi terakhir, tim-tim yang dulu jarang diperhitungkan mulai menunjukkan taringnya dan mampu bersaing dengan kekuatan tradisional.
Pengamat sepak bola, Amir Machmud NS menilai, perubahan itu terlihat jelas dari perkembangan negara-negara Asia dan Afrika. Tim yang sebelumnya hanya dianggap pelengkap kini mampu melangkah jauh di turnamen terbesar dunia tersebut.
“Yang menarik sekarang ini adalah lompatan kekuatan-kekuatan Asia dan Afrika,” kata Amir saat dimintai komentar via telepon, Sabtu (20/6/2026). Menurutnya, Jepang menjadi salah satu contoh paling nyata.
Baca juga: Gempita Piala Dunia 2026: Ketika Semarang Ikut Bermain di Luar Lapangan
Negara Asia itu terus menunjukkan kemajuan dan mampu bersaing dengan tim-tim besar dari Eropa maupun Amerika Selatan. “Jepang ini menjadi sinar bagi Asia. Perkembangannya menunjukkan kemajuan yang lebih baik,” ujarnya.
Selain Jepang, Korea Selatan juga pernah membuat kejutan besar dengan menembus semifinal saat menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002. Prestasi itu menjadi bukti bahwa negara Asia mampu berbicara banyak di level tertinggi.
Pencapaian Maroko
Dari Afrika, Amir menyoroti pencapaian Maroko yang sukses menembus semifinal Piala Dunia 2022. Capaian tersebut menjadi tonggak penting karena jarang ada tim Afrika yang mampu melangkah sejauh itu.
“Maroko maju ke semifinal menjadi empat besar. Ini menunjukkan kekuatan yang tidak perlu diragukan lagi,” katanya. Amir menilai kemunculan kekuatan-kekuatan baru membuat persaingan Piala Dunia semakin menarik. Negara-negara besar kini tak bisa lagi menganggap remeh lawan hanya karena berasal dari Asia atau Afrika.
Menurutnya, perkembangan teknologi, pembinaan pemain, hingga semakin terbukanya akses terhadap ilmu kepelatihan membuat jarak kualitas antarnegara semakin menipis. Akibatnya, kejutan-kejutan di Piala Dunia kini semakin sering terjadi.
Baca juga: Demam Piala Dunia Bisa Jadi Suntikan Semangat buat Kompetisi Lokal
Fenomena itu sekaligus menunjukkan bahwa peta persaingan sepak bola dunia terus berubah. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin negara-negara yang dulu hanya menjadi kuda hitam akan menjelma menjadi penantang serius gelar juara pada masa mendatang.
Di sepak bola modern, nama besar memang masih dihormati. Tapi di atas lapangan, sejarah tidak lagi mencetak gol. Yang menentukan tetap tim yang paling siap bermain selama 90 menit. (bae)

