BACAAJA, SEMARANG – Piala Dunia 2026 tetap menarik perhatian pecinta sepak bola di Indonesia. Namun, gaung turnamen terbesar dunia itu dinilai belum mampu memberi dorongan besar terhadap perputaran ekonomi seperti yang pernah terjadi pada edisi-edisi sebelumnya.
Pengamat sepak bola, Amir Machmud NS, mengatakan dampak ekonomi pasti dirasakan negara-negara penyelenggara. Tahun ini, keuntungan tersebut lebih banyak mengalir ke Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko yang menjadi tuan rumah.
Sementara di Indonesia, situasinya dinilai berbeda. Menurut Amir, Piala Dunia kali ini berlangsung saat kondisi ekonomi masyarakat belum sepenuhnya pulih sehingga efeknya terhadap konsumsi dan belanja publik tidak terlalu besar.
Baca juga: Demam Piala Dunia Bisa Jadi Suntikan Semangat buat Kompetisi Lokal
“Untuk kali ini kita melihat tidak menjadi pendorong kekuatan ekonomi yang hebat, apalagi terselenggara di tengah kelesuan ekonomi kita,” ujarnya saat dimintai komentar via telepon, Sabtu (20/6/2026).
Ia mencontohkan, pada Piala Dunia edisi-edisi sebelumnya masyarakat terlihat lebih antusias membeli atribut tim favorit. Kaus, bendera, hingga berbagai pernak-pernik sepak bola mudah ditemukan di banyak tempat.
Kini, fenomena tersebut mulai berkurang. Penjualan merchandise dan atribut pendukung tim nasional peserta Piala Dunia tidak seramai tahun-tahun sebelumnya.
“Dulu kaus-kaus yang menyimbolkan tim-tim dunia seperti Brasil, Portugal, atau Inggris cukup banyak beredar. Sekarang ini berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” katanya.
Jarang Terlihat
Amir juga melihat suasana kampung bertema Piala Dunia yang dulu cukup mudah ditemui kini tidak sebanyak sebelumnya. Jika pada edisi 2018 dan 2022 banyak lingkungan warga yang memasang dekorasi khusus, tahun ini pemandangan serupa relatif lebih jarang terlihat.
Meski begitu, ia menilai minat masyarakat mengikuti perkembangan Piala Dunia tidak ikut surut. Banyak orang tetap menonton pertandingan dan mengikuti kabar tim favorit mereka, meski tidak diwujudkan dalam bentuk belanja atau perayaan yang besar.
“Euforianya tidak berkurang dari sisi keinginan untuk mengikuti perkembangan sepak bola dunia. Orang tetap ingin tahu hasil pertandingan dan tim kesayangannya,” jelasnya.
Baca juga: Piala Dunia Jadi Momentum TVRI Bangkit, Blank Spot Siap Dikejar
Menurut Amir, di tengah berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi masyarakat, Piala Dunia setidaknya memberi ruang hiburan sejenak. Turnamen ini menjadi kesempatan bagi banyak orang untuk mengalihkan perhatian dari rutinitas dan persoalan sehari-hari sambil menikmati pertandingan dari tim-tim terbaik dunia.
Piala Dunia memang masih bisa membuat orang rela begadang sampai dini hari. Tapi kali ini, yang paling disiplin menjaga pertahanan bukan cuma lini belakang tim favorit, melainkan juga isi dompet para suporternya. (bae)

