BACAAJA, SEMARANG – Semakin ke sini, cuaca kian susah ditebak. Anomali cuaca datang tanpa permisi. Matahari lagi terik-teriknya, eh tiba-tiba turun hujan.
Pernah ngalamin gitu? Pagi masih panas terik, eh sore tiba-tiba hujan deras? Atau desa sebelah diguyur hujan, sementara tempatmu masih terang benderang? Kalau iya, ternyata kamu nggak sendirian.
Belakangan ini, cuaca di Jawa Tengah memang terasa makin random. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi itu bukan sekadar perasaan warga, melainkan dipengaruhi banyak faktor yang saling bertemu, mulai dari kondisi atmosfer di sekitar kita hingga perubahan iklim global.
Kepala Kelompok Kerja Layanan Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Sulistiyowati, menjelaskan salah satu penyebabnya adalah pemanasan udara di wilayah tertentu yang memicu tumbuhnya awan hujan dalam area yang sangat sempit.
Bacaaja: Panen Kopi Temanggung Anjlok sampai 60 Persen, Cuaca Jadi Biang Kerok
Bacaaja: Ancaman Pangan hingga Kesehatan, Kemarau Bikin Rawan Gagal Panen dan ISPA Meningkat
Akibatnya, hujan bisa turun deras hanya di satu desa, sementara wilayah yang letaknya cuma beberapa kilometer masih tetap kering.
“Fenomena hujan yang hanya lewat di satu desa sementara desa sebelahnya tetap kering disebabkan oleh pemanasan lokal yang memicu awan konvektif tumbuh dalam skala sangat sempit,” ujarnya, Rabu (1/7/2026).
Tapi bukan cuma itu. BMKG menjelaskan pola cuaca di Jawa Tengah juga dipengaruhi fenomena iklim dunia seperti El Nino dan La Nina. Dua fenomena ini berperan besar menentukan banyak atau sedikitnya pasokan uap air ke Indonesia, yang akhirnya memengaruhi panjang pendeknya musim hujan maupun kemarau.
Masih ada “pemain” lain yang ikut bikin cuaca makin susah ditebak, yaitu Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby Ekuator, dan gelombang Kelvin.
Meski terdengar rumit, ketiga fenomena ini punya satu kesamaan: bisa muncul kapan saja. Saat aktif melintasi Indonesia, mereka mampu memicu pembentukan awan hujan, bahkan ketika suatu daerah sedang berada di musim kemarau.
Belum selesai sampai di situ, perubahan iklim juga ikut memperumit kondisi.
Menurut Sulistiyowati, perubahan iklim membuat pola musim yang dulu relatif mudah diprediksi kini mulai bergeser. Awal musim hujan maupun kemarau tak lagi datang sesuai kebiasaan, sementara cuaca ekstrem semakin sering terjadi.
“Dari hasil analisis BMKG, faktor yang menyebabkan pola hujan di Jawa Tengah semakin tidak menentu merupakan kombinasi variabilitas iklim global, seperti El Nino dan La Nina, serta dampak perubahan iklim,” jelasnya.
Naiknya suhu bumi juga membuat dinamika atmosfer dan lautan berubah. Dampaknya, berbagai fenomena cuaca ekstrem kini lebih sering muncul dibanding beberapa tahun lalu.
Karena itu, BMKG mengingatkan masyarakat untuk tidak lagi mengandalkan patokan musim seperti dulu. Kalau biasanya merasa hafal kapan hujan atau kemarau datang, sekarang saatnya lebih rajin mengecek prakiraan cuaca sebelum beraktivitas.
Informasi cuaca yang diperbarui setiap hari dinilai jauh lebih akurat untuk menjadi pegangan, terutama bagi petani, nelayan, pelaku transportasi, hingga masyarakat yang punya banyak aktivitas di luar ruangan. (dul)

