BACAAJA, SEMARANG – Program LIDYA DIMARI milik Dinas Kesehatan Kota Semarang ternyata makin banyak diminati masyarakat. Nggak cuma warga Semarang, pasien dari luar daerah juga mulai datang untuk tes HIV maupun mengambil obat ARV di layanan tersebut.
LIDYA DIMARI sendiri merupakan layanan tes HIV dan pengambilan obat antiretroviral (ARV) yang buka pada malam hari. Program ini dibuat untuk mempermudah masyarakat yang kesulitan mengakses layanan kesehatan di jam kerja.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, dr. Mochamad Abdul Hakam, mengatakan akses layanan yang mudah dan nyaman jadi alasan banyak pasien memilih datang ke Semarang.
Bacaaja: Angka HIV di Semarang Tembus 240 Kasus
Bacaaja: Jangan Jauhi ODHIV, Dinkes Semarang: HIV Nggak Nular dari Salaman atau Makan Bareng
“Sebagian yang datang memang bukan warga Kota Semarang. Mereka mengetahui layanan di Semarang cukup mudah diakses dan nyaman,” ujar Hakam, Rabu (3/6/2026).
Menurutnya, penanganan HIV di Semarang sekarang nggak cuma mengandalkan pasien datang sendiri ke puskesmas atau fasilitas kesehatan. Petugas kesehatan juga aktif turun langsung ke lapangan buat melakukan skrining dan edukasi.
“Kita tidak hanya menunggu di dalam gedung puskesmas. Sekarang petugas juga turun ke lapangan untuk melakukan skrining dan edukasi,” katanya.
Langkah tersebut ikut berdampak pada meningkatnya temuan kasus HIV di Kota Semarang. Berdasarkan data Dinkes, selama Januari sampai Mei 2026 ditemukan 240 kasus HIV baru.
Belakangan, data ini sempat ramai dibahas di media sosial. Salah satu unggahan dari akun @kabarsemarang.id menyebut kelompok laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) menjadi kelompok dengan proporsi temuan tertinggi, yakni 44 persen.
Meski begitu, Dinkes menegaskan angka tersebut bukan berarti seluruh penularan baru terjadi dalam waktu dekat. Menurut Hakam, meningkatnya jumlah kasus yang ditemukan lebih dipengaruhi karena skrining dan tes HIV sekarang makin luas.
“Semakin banyak orang yang melakukan tes, maka semakin besar peluang kasus ditemukan lebih awal sehingga pengobatan bisa segera dimulai,” jelasnya.
Selain memperluas tes HIV, Dinkes Semarang juga terus memastikan layanan pengobatan ARV tetap berjalan agar pasien bisa rutin menjalani terapi.
Hakam menegaskan, kepatuhan minum obat jadi hal paling penting supaya jumlah virus dalam tubuh bisa ditekan dan pasien tetap sehat serta produktif.
“Yang paling penting adalah pasien tetap rutin menjalani pengobatan. Dengan terapi yang tepat, HIV bisa dikendalikan dan pasien tetap bisa menjalani aktivitas seperti biasa,” ujarnya.
Lewat layanan LIDYA DIMARI, Pemkot Semarang berharap makin banyak masyarakat berani melakukan tes HIV tanpa rasa takut atau malu. Dengan deteksi lebih awal, penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan risiko penularan juga bisa ditekan. (dul)

