Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Saat Ribuan Warga Klaten Bilang “Siap Lepas dari Bansos”
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

Saat Ribuan Warga Klaten Bilang “Siap Lepas dari Bansos”

Biasanya wisuda identik dengan toga dan ijazah. Tapi di Klaten, ribuan warga menjalani "wisuda" dengan makna yang jauh lebih besar: resmi lulus dari status penerima bantuan sosial.

T. Budianto
Last updated: Juni 30, 2026 7:47 pm
By T. Budianto
4 Min Read
Share
WISUDA GRADUASI: Para peserta Wisuda Graduasi Mandiri di Graha Bung Karno, Klaten, Selasa (30/6/2026). (Foto: Pemprov Jateng)
SHARE

BACAAJA, KLATEN- Kabar baik datang dari Kabupaten Klaten. Sebanyak 2.596 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) resmi keluar dari data kemiskinan setelah dinilai berhasil meningkatkan taraf hidup dan memilih menjalani graduasi mandiri.

Momentum tersebut ditandai dalam acara Wisuda Graduasi Mandiri yang digelar di Graha Bung Karno, Klaten, Selasa (30/6/2026). Pada tahap pertama 2026, tercatat ada 54.555 keluarga yang masih menerima manfaat PKH di Klaten.

Dari jumlah itu, sebanyak 2.596 keluarga dinyatakan lulus dari program. Rinciannya, 992 keluarga memilih graduasi mandiri karena merasa sudah mampu memenuhi kebutuhan hidup tanpa bantuan pemerintah, sementara 1.604 keluarga lainnya berhasil graduasi setelah mengikuti Program Pemberdayaan Sosial Ekonomi (PPSE).

Salah satu kisah inspiratif datang dari Sri Giatmi, warga Desa Bero, Kecamatan Trucuk. Perempuan yang kini berjualan jamu keliling itu mengaku dirinya mantap memilih graduasi karena merasa usahanya sudah cukup menopang kebutuhan keluarga.

Baca juga: Jutaan Penerima Bantuan Iuran JKN di Jateng Berstatus Non-Aktif, Benarkah Tanda Kemiskinan Turun?

“Kalau memang sudah mampu, ya harus berani graduasi. Dulu saya dibantu pemerintah sampai akhirnya bisa bangkit. Sekarang dari hasil jualan jamu, alhamdulillah kebutuhan keluarga sudah bisa terpenuhi,” ujarnya.

Sri Giatmi mengenang masa-masa sulit saat pertama kali menjadi peserta PKH pada 2013. Saat itu, sekadar membelikan jajanan untuk anak pun terasa berat. Bantuan PKH menjadi penyelamat, mulai dari biaya pendidikan hingga kebutuhan gizi keluarga.

Tak hanya dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, sebagian bantuan juga disisihkannya sebagai modal usaha. Sedikit demi sedikit, usahanya berkembang. Kini penghasilannya cukup untuk menghidupi keluarga. Anak sulungnya telah bekerja di sebuah pabrik, sementara anak keduanya duduk di bangku kelas 3 SMP.

Ia pun mengajak peserta PKH lain yang merasa sudah mampu agar tidak ragu mengikuti jejaknya. “Masih banyak saudara kita yang lebih membutuhkan. Kalau memang sudah cukup, ayo berani graduasi mandiri,” katanya.

Penyaluran PPSE

Selain prosesi graduasi, acara tersebut juga diisi penyaluran bantuan Program Pemberdayaan Sosial Ekonomi (PPSE) dari Kementerian Sosial. Melalui program ini, keluarga penerima manfaat bisa memperoleh bantuan modal usaha hingga Rp5 juta.

Bantuan itu dirasakan langsung oleh Tri Suwiyem, warga Klaten Tengah, yang menerima peralatan untuk mengembangkan usaha baksonya. “Usaha saya sudah jalan enam bulan. Alhamdulillah sekarang dapat bantuan peralatan dan saya juga sudah graduasi. Semoga usaha kami makin berkembang,” tuturnya.

Acara tersebut turut dihadiri Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi, Wamensos, Agus Jabo Priyono, serta Hamenang Wajar Ismoyo. Ahmad Luthfi memberikan apresiasi kepada ribuan keluarga yang berhasil keluar dari kemiskinan.

Baca juga: Bansos Dipercepat Cair, PKH dan BPNT Mulai April

Menurutnya, graduasi bukan sekadar berhenti menerima bantuan, melainkan bukti bahwa masyarakat telah memiliki kemandirian ekonomi. “Graduasi seperti ini juga terjadi di Kendal dan Brebes. Mereka sudah bisa berdiri sendiri dan tidak lagi bergantung pada bantuan sosial,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberhasilan menekan angka kemiskinan tidak bisa dilakukan sendirian. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, hingga berbagai pemangku kepentingan. Upaya bersama itu, kata dia, ikut mendorong turunnya angka kemiskinan di Jawa Tengah dari 9,58 persen menjadi 9,39 persen pada 2025.

Senada dengan itu, Agus Jabo Priyono menilai keterbukaan data masyarakat miskin menjadi kunci agar setiap program bantuan benar-benar tepat sasaran dan mampu mempercepat penghapusan kemiskinan ekstrem.

Kemiskinan memang tidak bisa selesai hanya dengan membagi bantuan. Tapi ketika bantuan berhasil melahirkan keberanian untuk berkata, “Sekarang giliran yang lain yang lebih membutuhkan,” di situlah sebuah program benar-benar bisa disebut berhasil, karena tujuan bansos sejatinya bukan membuat orang bergantung, melainkan membuat mereka siap berjalan sendiri. (tebe)

You Might Also Like

ASN Semarang All Out, Siap Bawa Pulang Medali di Pornas XVII 2025

KBRI Tokyo Kasih Apresiasi, Tiga Lulusan JIDS Jadi Driver Bus Asing Pertama di Aichi Jepang

Tujuh Tokoh Jateng Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

Shadow Economy Mau Diawasi, UMKM Jangan Ikut Diseret-seret!

Google, Meta, TikTok Pesta Iklan, Media Lokal Kebagian Sisa

TAGGED:kpmPemkab Klatenpemprov jatengPKH
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Ilustrasi tawuran. Janjian Duel via Instagram, Dua Geng Magelang Malah Berujung Ditangkap
Next Article Widodo Buka Jalan Talenta Lokal Masuk PSIS

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) saat diwawancara awak media, Kamis (3/9/2026). (dul)

Kekeringan di Jateng Makin Luas, Gus Yasin: Sudah Salah Istisqa dan Ajukan Modifikasi Cuaca

DITUNTUT BERALAH: Sekda Cilacap Sadmoko Danardono dituntut bersalah dalam sidang tuntutan di Pengadilan Tipikor Semarang, Selasa (29/9/2026). (bae)

Sekda Cilacap Dituntut Hukuman Lebih Ringan dari Bupati, Cuma 4 Tahun Penjara

BARANG BUKTI - Petugas kepolisian menunjukkan barang bukti celurit dan sepeda motor yang digunakan remaja asal Sragen yang acung-acungkan senjata tajam di Underpass Joglo, Kota Solo.

Viral Acungkan Celurit di Underpass Joglo Solo, Dua Remaja Sragen Klepek-klepek Ditangkap Polisi

RESMIKAN PONPES--Jaksa Agung Muda Intelijen Kejaksaan Agung RI, Reda Manthovani, merangkul santri tunanetra dalam acara peresmian Pondok Pesantren Sahabat Mata di Semarang, Selasa (29/9/2026). (ist)

Pesantren Khusus Tunanetra di Semarang, Santri Dibekali Keterampilan

DITUNTUT BERALAH: Bupati Cilacap nonaktif Syamsul Auliya Rachman dituntut bersalah dalam sidang tuntutan di Pengadilan Tipikor Semarang, Selasa (29/9/2026). (bae)

Bupati Cilacap Dituntut 7 Tahun Penjara, Hak Dipilih Dicabut 3 Tahun

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Daerah

Cek Kesehatan Gratis Dukung Generasi Emas 2045

Agustus 4, 2025
Daerah

95 Persen RT di Semarang Serbu Dana Rp25 Juta, Sisanya Pilih Nunggu Dulu

Agustus 16, 2025
Sepak Bola

Widodo Siapkan Mahesa Jenar Hadapi Persebaya

Juli 4, 2026
Jaksa melintas di lobi kantor Kejati Jateng. (bae)
Hukum

Polda Jateng Larang Pengelola SPPG Polri Hadiri Panggilan Kejaksaan, Kejati: Ya Monggo, tapi . . .

Juli 10, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Saat Ribuan Warga Klaten Bilang “Siap Lepas dari Bansos”
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?