Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Guru Hukum Siswa Suruh Makan Lumpur, Sekolah Mendadak Riuh Didatangi Orangtua
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Pendidikan

Guru Hukum Siswa Suruh Makan Lumpur, Sekolah Mendadak Riuh Didatangi Orangtua

Namun situasi mulai berubah ketika guru piket beberapa kali meminta para siswa menghentikan permainan dan kembali masuk untuk belajar. Teguran demi teguran disebut sudah diberikan, tetapi para siswa tetap bermain dan tidak menghiraukan arahan tersebut.

Nugroho P.
Last updated: Mei 9, 2026 7:51 pm
By Nugroho P.
5 Min Read
Share
ilustrasi siswa SD. (ist)
SHARE

BACAAJA, PULAUTALIABU – Suasana di sebuah sekolah dasar di Pulau Taliabu tiba-tiba berubah tegang setelah muncul kabar seorang guru menghukum murid dengan cara tak biasa. Peristiwa yang terjadi di SDN Bobong itu langsung bikin geger warga setelah sejumlah siswa disebut diminta memakan tanah lumpur gara-gara terus bermain bola saat ditegur guru piket.

Awalnya, kondisi sekolah sore itu terlihat biasa saja. Sejumlah siswa tampak asyik bermain bola dari gumpalan tanah lumpur di halaman sekolah. Permainan sederhana itu dilakukan beberapa murid kelas empat dan kelas lima setelah kegiatan belajar berlangsung.

Namun situasi mulai berubah ketika guru piket beberapa kali meminta para siswa menghentikan permainan dan kembali masuk untuk belajar. Teguran demi teguran disebut sudah diberikan, tetapi para siswa tetap bermain dan tidak menghiraukan arahan tersebut.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pulau Taliabu, Damruddin Rahman, menjelaskan bahwa total ada sembilan siswa yang terlibat dalam permainan itu. Terdiri dari satu siswa kelas empat dan delapan siswa kelas lima.

Menurut Damruddin, guru piket saat itu mulai kesal karena para siswa terus membandel. Dalam kondisi emosi bercampur kecewa, guru tersebut spontan memberikan hukuman dengan menyuruh siswa memakan gumpalan tanah lumpur yang sebelumnya dijadikan bola permainan.

Pihak dinas menduga ucapan itu awalnya hanya bermaksud sebagai gertakan agar siswa berhenti bermain. Namun situasi ternyata berjalan di luar dugaan karena beberapa siswa benar-benar melakukan perintah tersebut.

“Lima orang makan lumpur, empat lainnya tidak,” ujar Damruddin saat menjelaskan kronologi kejadian. Setelah itu, para siswa langsung mencuci mulut masing-masing untuk membersihkan tanah yang sempat masuk ke dalam mulut mereka.

Meski kejadian itu selesai di sekolah, dampaknya ternyata baru terasa setelah anak-anak pulang ke rumah. Para siswa kemudian menceritakan apa yang mereka alami kepada orangtua masing-masing.

Cerita itulah yang langsung memancing emosi keluarga. Orangtua murid merasa marah dan tidak terima anak mereka dihukum dengan cara yang dianggap tidak pantas dan berbahaya bagi kesehatan.

Keesokan harinya, suasana sekolah mendadak ramai. Sejumlah orangtua datang dengan emosi tinggi untuk mencari guru yang memberikan hukuman tersebut. Ketegangan di lingkungan sekolah pun tidak bisa dihindari.

Menurut keterangan pihak dinas pendidikan, beberapa orangtua bahkan disebut sempat ingin memukul guru yang bersangkutan karena terlalu emosi mendengar anak mereka diminta makan tanah lumpur.

Keributan di sekolah itu kemudian direkam warga dan videonya cepat menyebar di media sosial. Dalam waktu singkat, kejadian tersebut langsung viral dan memancing banyak komentar dari netizen.

Banyak warganet mengecam tindakan guru yang dinilai sudah melewati batas dalam memberi hukuman kepada murid. Mereka menilai pendekatan seperti itu tidak layak diterapkan di lingkungan pendidikan.

Namun ada juga sebagian orang yang mencoba melihat kejadian itu sebagai luapan emosi sesaat dari seorang guru yang kesulitan menghadapi murid membandel. Meski begitu, mayoritas tetap menilai hukuman tersebut tidak bisa dibenarkan.

Kasus ini kembali membuka perdebatan soal cara mendisiplinkan siswa di sekolah. Sebagian guru masih memakai pendekatan keras agar murid patuh, tetapi masyarakat sekarang mulai lebih sensitif terhadap perlakuan yang dianggap bisa melukai anak.

Apalagi isu perlindungan anak dan kesehatan mental kini semakin sering jadi perhatian publik. Banyak orangtua berharap sekolah tetap menjadi tempat aman dan nyaman bagi anak-anak untuk belajar.

Pihak Dinas Pendidikan Pulau Taliabu mengaku langsung turun tangan untuk meredam situasi agar konflik tidak semakin besar. Mereka juga berusaha mempertemukan pihak sekolah dan keluarga siswa supaya persoalan bisa diselesaikan secara baik-baik.

Damruddin mengatakan pihaknya memahami kemarahan orangtua karena kejadian tersebut memang menyangkut anak-anak mereka. Namun ia juga mengingatkan agar persoalan tidak diselesaikan dengan kekerasan terhadap guru.

Menurutnya, kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi semua pihak, baik sekolah maupun orangtua. Komunikasi dan cara mendisiplinkan siswa dinilai perlu diperbaiki supaya kejadian serupa tidak kembali terulang.

Sampai sekarang, video keributan di sekolah tersebut masih ramai dibicarakan di media sosial. Banyak warga berharap dunia pendidikan bisa lebih mengedepankan pendekatan yang manusiawi tanpa harus mempermalukan atau membahayakan murid.

Di tengah polemik yang terus bergulir, satu hal yang kini jadi perhatian besar publik adalah bagaimana sekolah bisa tetap tegas mendidik siswa tanpa harus menggunakan hukuman yang berisiko bagi kesehatan maupun psikologis anak-anak. (*)

You Might Also Like

Jawa Tengah Masih Kekurangan 2.298 Guru

Gara-Gara Talud Ambrol, Kegiatan Belajar di MI Sampang Majatengah Terancam Mandek

Anak Semarang Udah Nggak Takut Sekolah!

Undip Gandeng PT Chung Giwa Indonesia, Dorong Mahasiswa go Global

Ya Ampun.. Sekolah Negeri Disegel, Anak-Anak Belajar di Tenda

TAGGED:hukumanmakan lumpurpendidikansd
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article AXIS CUP 2026 Ngegas di 88 Kota: Push Rank Kini Bisa Jadi Jalan Karier
Next Article Virus Tikus Diam-Diam Muncul, Kemenkes Mulai Pasang Alarm Kewaspadaan

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Agustina Ogah Balikin Jabatan, Eks Bos PDAM Dipaksa Duel Lagi

Luthfi: Pelaku Ekraf Jangan Cuma Viral, Tapi Juga Buka Peluang Kerja

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Ucapan Trump Makin Panas, Iran Malah Kian Susah Ditekan

Perjuangan Atikah Nyisihin Separuh Gaji Demi Rumah Impian

Eh..Surabaya Mulai Siaga, Virus Tikus Ini Bikin Banyak Warga Curiga

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diusung pemerintah sebenarnya punya niat baik: anak sekolah kenyang, cerdas, dan sehat. Tapi realitanya, justru banyak siswa keracunan massal di berbagai daerah. Programnya keren di pidato, tapi di lapangan? Bisa bikin perut mules berjamaah.
Pendidikan

Maraknya Keracunan MBG, Begini Kata Ahli UGM

Oktober 6, 2025
Rektor Undip (tengah) bersama konten kreator menunjukkan perbedaan warna almet lama (kanan) dan almet batu (kiri). (instagram @thesadewa)
Pendidikan

Jas Almet Undip Ganti Warna, Rektor: Masa Keren Gini Dibilang Mirip Terpal

September 7, 2025
Ilustrasi korban pelecehan atau kekerasan seksual.
Pendidikan

Kasus UI Jadi Alarm Keras! UIN Walisongo Gas Penyadaran Kolektif Cegah Kekerasan Seksual

April 16, 2026
Faradiba Anugerah Kaay (tiga dari kiri) di Kampus SCU Bendan Kota Semarang, Rabu (28/1/2026). Foto: Eka Setiawan
Pendidikan

Prihatin Kesehatan Mental di Papua, Psikolog Putri Lulusan SCU Ingin Mengabdi di Tanah Kelahiran

Januari 29, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Guru Hukum Siswa Suruh Makan Lumpur, Sekolah Mendadak Riuh Didatangi Orangtua
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?