BACAAJA, SEMARANG – Curhat ke AI sekarang terasa gampang banget. Tinggal buka chatbot, ketik semua keresahan, lalu dalam hitungan detik muncul jawaban yang seolah-olah memahami perasaan kita.
Buat sebagian remaja, cara ini bahkan terasa lebih nyaman dibanding cerita kepada teman atau orang dewasa. AI dianggap tidak menghakimi, selalu tersedia, dan bisa diajak ngobrol kapan saja.
Tapi di balik kenyamanan itu, ada risiko yang nggak boleh disepelekan. Kebiasaan menjadikan AI sebagai tempat utama untuk mencurahkan masalah bisa membuat remaja salah memahami batas antara respons mesin dan empati manusia.
Kepala petugas kesehatan Crisis Text Line, dr. Shairi Turner, MD, MPH, mengingatkan bahwa AI memang mampu memberikan informasi, refleksi, sampai kalimat yang menenangkan. Namun, mesin tidak benar-benar memahami pengalaman hidup seseorang.
Masalahnya makin serius ketika remaja sedang menghadapi tekanan mental yang berat. Respons AI belum tentu mampu mengenali perubahan kecil yang menjadi tanda seseorang sedang berada dalam kondisi berbahaya.
Dalam situasi krisis, konselor manusia punya kemampuan untuk menilai keselamatan, menggali kondisi secara langsung, dan menentukan apakah seseorang membutuhkan bantuan segera. Hal seperti ini tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada algoritma.
Dukungan psikologis juga bukan cuma soal memberikan jawaban yang terdengar menenangkan. Ada kepercayaan, hubungan emosional, kemampuan membaca situasi, serta proses saling memahami yang terbentuk lewat interaksi antarmanusia.
Risiko lain yang muncul adalah kemampuan sosial remaja bisa ikut tergerus. Masa remaja merupakan fase penting untuk belajar menghadapi perbedaan pendapat, menerima kritik, mengelola emosi, dan membangun hubungan dengan orang lain.
Kalau semua keluhan selalu diarahkan ke mesin, kesempatan untuk berlatih menghadapi percakapan nyata bisa makin sedikit. Padahal, kemampuan tersebut bakal sangat dibutuhkan ketika mereka memasuki dunia kuliah, kerja, maupun kehidupan sosial yang lebih luas.
AI juga bisa melewatkan sinyal-sinyal kecil yang biasanya ditangkap manusia. Nada bicara, ekspresi wajah, perubahan perilaku, hingga bahasa tubuh dapat memberikan petunjuk penting mengenai kondisi seseorang.
Ada persoalan lain yang nggak kalah mengkhawatirkan, yakni bias konfirmasi. Sistem AI tertentu bisa cenderung mengikuti pola pembicaraan pengguna sehingga responsnya terasa membenarkan apa yang sedang dipikirkan.
Bagi remaja yang sedang tertekan, respons seperti itu bisa menjadi masalah. Pikiran negatif yang seharusnya ditantang justru berpotensi makin kuat karena mendapatkan validasi terus-menerus dari mesin.
Akibatnya, remaja bisa merasa sudah mendapatkan dukungan yang cukup. Mereka pun berisiko menunda bercerita kepada orang yang dipercaya atau mencari bantuan profesional.
Meski begitu, bukan berarti AI harus dijauhi sepenuhnya. Teknologi ini tetap punya manfaat jika ditempatkan pada posisi yang tepat.
AI bisa membantu mencari informasi, memberikan ide untuk mengelola stres, atau menjadi pintu awal untuk menemukan sumber bantuan kesehatan mental. Yang penting, teknologi tidak dijadikan pengganti hubungan dengan manusia.
Dr. Turner menyarankan AI lebih baik dipakai untuk memperkuat akses menuju layanan kesehatan mental, bukan menggantikan konselor, psikolog, dokter, atau orang terdekat.
Orangtua juga tidak perlu langsung panik ketika mengetahui anaknya sering curhat dengan AI. Yang lebih penting adalah membuka obrolan tanpa menghakimi.
Tanyakan apa yang biasanya dibicarakan anak dengan AI dan kenapa ia merasa lebih nyaman bercerita kepada mesin. Dari situ, orangtua bisa memahami kebutuhan anak sekaligus mengarahkan mereka agar tetap punya ruang untuk berinteraksi dengan manusia.
Pada akhirnya, AI boleh jadi teman ngobrol tambahan. Tapi untuk persoalan yang menyangkut kesehatan mental, apalagi ketika sudah muncul tanda bahaya, manusia tetap nggak bisa digantikan begitu saja oleh layar dan algoritma. (*)

