Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Saat Budaya, Iman, dan Harmoni Bertemu di Jantung Semarang
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

Saat Budaya, Iman, dan Harmoni Bertemu di Jantung Semarang

Di tengah dunia yang kerap diramaikan perbedaan, Kota Semarang kembali menunjukkan bahwa keberagaman bisa menjadi kekuatan.

T. Budianto
Last updated: Juni 16, 2026 6:08 pm
By T. Budianto
4 Min Read
Share
TERIMA CENDERA MATA: Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin menerima cendera mata dari perwakilan Zhangzhou Baijiao Ciji Ancestral Temple Management Committee, Tiongkok, dalam rangkaian Perayaan Kedatangan Kimsin Yang Suci (YS) Poo Seng Tay Tee ke-166 di Klenteng Besar Tay Kak Sie, Semarang, Senin (15/6/2026). (Foto: Pemkot Semarang)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG– Pemerintah Kota Semarang memberikan apresiasi atas penyelenggaraan Pentas Panggung Malam Kesenian dalam rangka Perayaan Kedatangan Kimsin Yang Suci (YS) Poo Seng Tay Tee ke-166 yang digelar di Klenteng Besar Tay Kak Sie.

Bagi Pemkot Semarang, perayaan yang telah berlangsung lebih dari satu setengah abad tersebut bukan hanya agenda budaya dan keagamaan, tetapi juga menjadi simbol kuat toleransi dan kerukunan masyarakat di tengah keberagaman Kota Semarang.

Mewakili Wali Kota Semarang, Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin menyampaikan penghargaan kepada Yayasan Klenteng Besar Tay Kak Sie, panitia, relawan, serta seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Baca juga: Cap Go Meh di Semarang: Bukan Sekadar Barongsai, Tapi Panggung Harmoni Warga Jateng

“Tradisi ini bukan sekadar seremoni keagamaan maupun kebudayaan. Perayaan ini telah menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah, budaya, dan identitas Kota Semarang,” ujar Iswar saat menghadiri Pentas Panggung Malam Kesenian, Senin (15/6/2026).

Menurutnya, Semarang tumbuh sebagai kota yang dibangun dari keberagaman. Berbagai kelompok etnis, agama, dan budaya telah hidup berdampingan selama ratusan tahun, membentuk karakter kota yang terbuka dan toleran.

Perayaan Kedatangan Kimsin YS Poo Seng Tay Tee menjadi salah satu warisan budaya yang memperkaya mosaik keberagaman tersebut. Selain menjaga nilai spiritual dan tradisi leluhur, kegiatan itu juga menjadi ruang perjumpaan berbagai kalangan masyarakat.

“Kesenian yang ditampilkan malam ini menjadi bahasa universal yang mampu menyatukan berbagai kalangan tanpa memandang latar belakang. Seni dan budaya memiliki kekuatan membangun jembatan persaudaraan,” kata Iswar.

Identitas Kota

Ia menegaskan, Pemkot memandang pelestarian budaya sebagai investasi jangka panjang yang akan memperkuat identitas kota di tengah derasnya arus globalisasi.

Karena itu, berbagai kegiatan budaya, tradisi masyarakat, dan ekspresi keagamaan terus didorong agar dapat berkembang secara berkelanjutan. “Semakin banyak ruang yang tersedia bagi ekspresi budaya, semakin kuat pula daya tarik Kota Semarang sebagai kota budaya, kota wisata, dan kota yang ramah bagi semua,” ujarnya.

Selain memiliki nilai budaya dan spiritual, kegiatan tersebut juga dinilai memberikan dampak ekonomi yang positif. Kehadiran ribuan masyarakat dan wisatawan dalam berbagai agenda budaya diyakini mampu menggerakkan sektor UMKM, perdagangan, hingga pariwisata lokal.

Perayaan Kedatangan Kimsin YS Poo Seng Tay Tee ke-166 berlangsung pada 14 hingga 16 Juni 2026 dengan pusat kegiatan di Klenteng Tay Kak Sie. Tahun ini menjadi momen istimewa karena untuk pertama kalinya Kimsin Kongco Poo Seng Tay Tee dari Zhangzhou Baijiao Ciji Ancestral Temple Management Committee, Tiongkok, hadir langsung dalam rangkaian perayaan di Semarang.

Baca juga: Imlek Bukan Cuma Barongsai: Menpar Sidak Sam Poo Kong

Kehadiran tersebut menjadi simbol eratnya hubungan sejarah dan spiritual komunitas Tionghoa Semarang dengan akar budaya leluhur mereka. Berbagai kegiatan digelar dalam perayaan tersebut, mulai dari doa bersama, prosesi sakral di klenteng, pentas seni budaya, hingga Kirab Budaya Akbar yang menjadi puncak acara dan melibatkan ribuan umat serta masyarakat umum.

Iswar berharap tradisi yang telah bertahan selama 166 tahun itu terus menjadi kebanggaan Kota Semarang sekaligus memperkuat semangat kebersamaan antarwarga.

“Mari kita jadikan momentum ini sebagai penguat semangat gotong royong, toleransi, dan kolaborasi. Kemajuan sebuah kota tidak hanya diukur dari pembangunan fisik dan infrastruktur, tetapi juga dari kemampuan masyarakatnya menjaga harmoni,” tegasnya.

Di era ketika perbedaan sering kali dijadikan alasan untuk saling menjauh, Semarang justru merayakan keberagaman di jalanan kotanya. Mungkin memang benar, kota yang matang bukanlah kota yang warganya selalu sama pendapat, melainkan kota yang tetap bisa duduk bersama, menonton pertunjukan yang sama, dan pulang dengan rasa saling menghormati. (tebe)

You Might Also Like

Kontingen Jateng Siap Berlaga di Pornas Korpri 2025, Sekda: Main Jujur dan Sportif!

Kapolda Jateng Ribut Temui Orang Tua Bayi CTEV di Karanganyar, Suntikkan Semangat Jalani Terapi

421 Desa di Jateng Siaga TBC

RUU Sisdiknas, Wajib Belajar Jadi 13 Tahun

Novel Baswedan Semprot Sidang Militer Kasus Andrie Yunus: Orang Tidak Kompeten!

TAGGED:headlinekelenteng tay kak siepecinan semarangpemkot semarang
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Bukan Gedung Tinggi atau Jalan Lebar, Ini Kekuatan Kota Semarang
Next Article Jembatan Serayu Banyumas Ditutup Lama, Warga Wajib Putar Arah Lebih Jauh, Ini Jadwalnya

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Raffi Ahmad dan Willie Salim berfoto bersama di sela menghadiri acara Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Rabu, 29 Oktober 2026.

Raffi Ahmad Kena Cancel Culture, Musisi hingga UMKM Ramai-ramai Boikot RANS Carnival

Kuliner legendaris Ayam Goreng Suharti.

Sejarah Kuliner Ayam Goreng Suharti: Dipisahkan Perceraian, Disatukan Keturunan

RUMAH MAKAN: Rumah makan legendaris Ayam Goreng Suharti di Krapyak, Kota Semarang. (ist)

Kabar Duka, Pendiri Ayam Goreng Suharti Meninggal Dunia pada Usia 86 Tahun

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa, Kependudukan, dan Pencatatan Sipil (Dispermadesdukcapil) Jawa Tengah, Nadi Santoso, saat ditemui di kantornya, Kamis (29/10/2026). (dul)

Perangkat Desa Harus Mengundurkan Diri setelah Ditetapkan sebagai Calon Kades

ILUSTRASI: Kereta api sedang melaju di wilayah Daop 4 Semarang. (ist)

Cara Batalkan Tiket Kereta Api via Aplikasi Tanpa Harus ke Stasium

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

TOLAK PROYEK--Aliansi masyarakat berkumpul di di Camp Kendalisodo, Bawen, Rabu (2/9/2026), menyuarakan penolakan proyek geotermal di kawasan Gunung Ungaran dan Telomoyo. (ist)
Info

Jangan Bor Gunung Ungaran! Warga Khawatir Air dan Petani Jadi Korban Proyek Geotermal

September 10, 2026
Hukum

Bukan Sekadar Tanam, Lapas Purwodadi Rawat Bayam, Kangkung hingga Pakcoy

September 8, 2026
Info

Masalah Bangsa Sering Berawal dari Rumah yang Rapuh

Juli 7, 2026
Teknologi

Laptop Gaming Murah, Game Berat Masih Bisa Dilibas?

Oktober 23, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Saat Budaya, Iman, dan Harmoni Bertemu di Jantung Semarang
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?