BACAAJA, SOLO – Wali Kota Solo, Respati Ardi, turun langsung memimpin kerja bakti massal di kawasan Pasar Gedhe hingga bantaran Sungai Kalipepe, Senin (9/2/2026).
Ratusan personel gabungan TNI-Polri dan jajaran OPD dikerahkan. Namun di balik aksi bersih-bersih itu, Respati justru menemukan persoalan klasik: manajemen sampah yang amburadul.
Tumpukan sampah terlihat di sejumlah titik pasar. Pengangkutan yang lambat membuat bau menyengat tak terhindarkan. Kondisi tersebut dinilai menciptakan lingkungan kumuh dan tidak sehat, jauh dari citra kota wisata.
Bacaaja: Respati Siapkan Saingan Wisata Jalanan Thailand di Yos Sudarso Solo
Bacaaja: Solo Punya Logo Baru di Usia ke-281, Respati Gandeng ISI: Biar Nggak Ada Unsur Subjektif
Respati pun meminta dinas terkait tidak lagi setengah hati dalam menangani persoalan kebersihan pasar. Menurutnya, lingkungan yang bersih bukan sekadar urusan estetika, tetapi juga menentukan kenyamanan aktivitas jual beli.
“Tahun 1988 sudah dicanangkan Surakarta sebagai kota berseri—bersih, sehat, rapi, dan indah. Kita lakukan ini dengan niat baik agar kota tetap layak dinikmati seluruh masyarakat,” ujarnya.
Tak hanya menyasar pemerintah, Respati juga memberi peringatan keras kepada pedagang. Ia menegaskan aturan kebersihan bukan formalitas yang boleh diabaikan.
“Kami akan buat komitmen dengan pedagang. Jika ada yang bertahun-tahun berjualan tapi tidak mengindahkan kebersihan, kami akan tindak tegas. SHP bisa kami cabut, karena masih banyak masyarakat lain yang ingin menggunakan kios,” tegasnya.
Langkah ini dinilai penting, terlebih Solo bersiap menghadapi lonjakan kunjungan saat Ramadan. Pemerintah kota tidak ingin wisatawan disambut wajah pasar yang kotor.
Respati menambahkan, kebersihan juga akan terus diperkuat di kawasan wisata. Baginya, sektor pariwisata bukan pelengkap, melainkan denyut ekonomi Kota Bengawan.
“Kita bersiap di Ramadan, bersiap mendatangkan banyak wisatawan. Kebersihan menjadi hal utama agar orang nyaman berkunjung,” katanya.
Ia menegaskan, menjaga lingkungan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis. Sebab, ketika kota gagal merawat kebersihan, yang dipertaruhkan bukan hanya citra daerah, tetapi juga sumber pendapatan.
“Kita komitmen menjaga iklim pariwisata, karena kota ini hidup dari pariwisata,” tandas Respati. (*)


