BACAAJA, BLITAR– Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menyampaikan keprihatinannya terhadap maraknya kasus bullying atau perundungan yang terjadi di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Hal itu disampaikan Megawati saat memberikan pidato usai meresmikan Istana Gebang di Kota Blitar, Jawa Timur. Dalam pidatonya, ia menyoroti semakin lunturnya nilai kemanusiaan yang seharusnya menjadi fondasi kehidupan berbangsa.
“Saat ini, saya melihat begitu banyak perundungan. Orang disia-siakan dan dihina. Pertanyaan saya: di mana rasa perikemanusiaan kalian? Apakah Pancasila hanya di atas kertas, atau benar-benar ada di dalam hati sanubari kalian?” kata Megawati.
Baca juga: Megawati Menangis Nonton Pesta Babi, Papua Mendadak Jadi Sorotan Lagi
Menurutnya, fenomena perundungan yang terjadi saat ini sering kali berawal dari sikap diskriminatif terhadap sesama, termasuk karena faktor ekonomi. Megawati mengaku sedih melihat masih ada anak-anak yang dijauhi hanya karena berasal dari keluarga kurang mampu. Bahkan, ia menilai pola pikir seperti itu terkadang ikut diwariskan oleh orang dewasa.
“Mengapa itu terjadi? Karena ada sikap-sikap yang membeda-bedakan, seperti ‘jangan temani dia, dia anak miskin’,” ujarnya. Dalam pandangannya, semangat Pancasila yang selama ini sering dikumandangkan seharusnya diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, terutama sila kedua tentang kemanusiaan yang adil dan beradab.
Usai menyinggung persoalan moral dan sosial, Megawati juga mengalihkan perhatian pada isu ketahanan pangan nasional. Ia mengingatkan bahwa sejak 2021 dirinya telah menginstruksikan kader partai untuk mengembangkan berbagai tanaman pangan pendamping beras sebagai upaya menjaga ketersediaan pangan masyarakat.
Belum Dijalankan
Namun, menurutnya, instruksi tersebut belum dijalankan secara optimal. “Sejak 2021 sebagai Ketua Umum, saya sudah memberikan instruksi ke seluruh daerah untuk menanam 10 tanaman pangan sebagai pendamping beras. Siapa yang sudah mengerjakan? Angkat tangan,” ujarnya di hadapan kader partai.
Dalam kesempatan itu, Megawati juga mengisahkan kembali pemahaman tentang Marhaenisme yang ia peroleh dari Bung Karno. Ia menjelaskan bahwa konsep tersebut berangkat dari sosok Marhaen, seorang petani kecil yang memiliki alat produksi sendiri tetapi hidup dalam keterbatasan.
Menurut Megawati, Bung Karno pernah mengingatkan bahwa persoalan pangan merupakan kebutuhan paling mendasar rakyat. Jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, maka berbagai persoalan sosial dapat muncul.
Baca juga: Megawati: Pancasila Jangan Cuma Jadi Lirik Lagu
“Bapak saya bilang, kalau rakyat tidak bisa makan, itu bisa terjadi kekurangan lalu kerusuhan,” tutur Megawati. Peresmian kembali Istana Gebang berlangsung di hadapan ribuan kader dan simpatisan PDI Perjuangan.
Rumah bersejarah yang menjadi tempat tinggal masa kecil Bung Karno itu kini kembali difungsikan sebagai ruang sejarah, kebangsaan, dan inspirasi bagi generasi muda.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah keluarga besar Bung Karno, antara lain M. Prananda Prabowo, Puti Guntur Soekarno, Romy Soekarno, serta Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto.
Ironisnya, di sekolah anak-anak masih diajarkan menghafal lima sila Pancasila dengan lancar saat upacara. Namun di luar kelas, masih ada yang dijauhi karena miskin, dibully karena berbeda, dan diejek karena tidak dianggap setara. Mungkin masalahnya bukan karena kita lupa bunyi Pancasila, melainkan terlalu sering menghafalnya tanpa benar-benar mempraktikkannya. (tebe)

