Ahmad Rofiul Khoir, mahasiswa aktif jurusan Sosiologi FISIP UIN Walisongo Semarang angkatan 2022.
Saya kira yang menarik dari bahasa campuran ini mungkin bisa jadi cara inklusif untuk berteman lintas budaya.
Sudah menjadi fenomena umum di kampus-kampus negeri maupun swasta di kota besar Indonesia, anak muda kerap berbicara menggunakan bahasa gaul khas ibu kota yang bercampur dengan istilah bahasa Inggris.
“Lo kemarin udah nonton film yang lagi viral itu belum sih? Honestly, cinematography-nya tuh aesthetic banget, literally bikin gue speechless!” Begitulah kira-kira percakapan yang sering terdengar di tongkrongan mahasiswa, bahkan merembet hingga ke ruang kelas.
Di kota Semarang khususnya, mahasiswa yang mengenakan bahasa gaul khas ibu kota bukanlah hal langka. Bahasa gaul Jakarta telah merembet dan digunakan oleh para mahasiswa dari daerah non-ibu kota sebagai bahasa pergaulan sehari-hari.
Realitas ini tentu saja menciptakan perasaan insecure dan ketidaknyamanan dalam berkomunikasi, terutama bagi mereka yang tidak berasal dari ibu kota. Seperti yang dirasakan oleh beberapa teman saya, yaitu mahasiswa asal Rembang, Robith, 22 tahun, dan Alfian, 22 tahun. Mereka mengakui merasa canggung bahkan tidak mendapatkan kenyamanan saat berbincang dengan mahasiswa asal ibu kota karena terpaksa harus menggunakan diksi “lo-gue” yang terasa asing di lidah.
Bagaimana jadinya jika mahasiswa asal Rembang yang kental dengan logat pesisir yang kasar, keras, intonasi tinggi, medok, memaksakan diri untuk menggunakan bahasa gaul Jakarta “lo-gue” dalam komunikasi sehari-hari? Tentu hal itu terasa janggal, terutama ketika digunakan untuk berkomunikasi dengan sesama mahasiswa asal Rembang.
Robith (22) mengakui pernah terpaksa menggunakan “lo-gue”, karena “aku-kamu” dianggap kaku, dan mengucapkan bahasa Jawa bagi mahasiswa ibu kota dianggap kurang menghargai. “Saya sering merasa kaku karena aslinya dari Jawa yang notabene menggunakan bahasa Jawa. Jadi kalau berbicara dengan orang yang pakai ‘lo-gue’, agak susah juga. Terkadang kena hujat juga karena logat saya yang medok,” ucap Robit kepada saya tempo hari.
Begitu juga dengan Alfian, ia juga merasakan hal serupa. Ia mengaku logat khas Rembangnya terus terbawa meski berusaha beradaptasi dengan bahasa ibu kota, sehingga memunculkan rasa tidak percaya diri.
“Buat aku, jelas sampai sekarang aku masih kaku banget dalam bahasa ‘lo-gue’. Mungkin karena aku yang nggak mau beradaptasi, atau nggak bisa memosisikan diri. Misal dipaksa pakai bahasa gitu, ya tetep aja aku ngerasa wagu, kaku banget,” ucap Alfian.
Dari kecanggungan tersebut, muncul fenomena menarik di kalangan mahasiswa Jawa, yaitu percampuran dialek Jawa-Jakarta atau “Jawakarta”. Entah sejak kapan dan dari mana asalnya, frasa-frasa campuran seperti “Lo arep neng endi?” sering menjadi bahan candaan di tongkrongan mahasiswa di Semarang. Campuran bahasa ini biasanya muncul spontan, atau memang sengaja dibuat untuk bahan candaan.
Frasa-frasa itu biasanya dipakai dalam berbagai situasi. Pertama, untuk mengejek sesama mahasiswa Jawa yang juga lagi berusaha keras beradaptasi dengan bahasa gaul Jakarta. “Lo arep neng endi, dhe?” atau “Gue arep mangan, dhe,” jadi semacam hiburan, seolah saling mengakui kekakuan dan kecanggungan saat mengenakan dialek ibu kota.
Kedua, untuk bercanda dengan teman-teman Jakarta yang sudah akrab. Campuran dialek ini jadi cara nyeleneh untuk membalas “serangan” bahasa gaul mereka. Alih-alih terus merasa insecure, mahasiswa Jawa membuat versi hybrid yang memang sengaja dibuat-buat. Contoh kalimat yang sering muncul adalah, “Literally gue bingung kok, tenan” dan “Honestly, aku ora ngerti,” dan masih banyak lagi.
Dari candaan-candaan itu, kemudian muncul istilah “Jawakarta”, sebutan untuk mahasiswa yang mencampur aduk antara dua budaya linguistik. Bukan identitas yang serius atau filosofis, tapi lebih ke yang “ya.. relate aja gitu”.
Saya kira yang menarik dari bahasa campuran ini mungkin bisa jadi cara inklusif untuk berteman lintas budaya. Alih-alih memaksakan satu pihak untuk sepenuhnya mengadopsi bahasa pihak lain, “Jawakarta” menawarkan jalan tengah yang menghibur.
Mahasiswa Jawa tidak perlu kehilangan identitas linguistiknya, dan mahasiswa Jakarta pun bisa belajar menghargai keberagaman dialek dengan cara yang menyenangkan. Yang tadinya ada gap dan hierarki linguistik, kini dijembatani dengan humor yang bisa dinikmati semua pihak.
Ketika mahasiswa Jakarta ikut tertawa dan bahkan mengadopsi frasa-frasa itu menandakan adanya penerimaan. Ketika mahasiswa Jawa bisa dengan percaya diri membuat candaan tentang kekakuan mereka sendiri, itu menandakan kenyamanan. Ketika keduanya bisa duduk bersama di tongkrongan tanpa ada yang merasa harus “menjadi orang lain”, saya kira itulah inklusivitas sejati.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


