Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Semasa Kecil di Sawah
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Semasa Kecil di Sawah

Redaktur Opini
Last updated: November 25, 2025 10:35 am
By Redaktur Opini
6 Min Read
Share
SHARE

Imaniar Yordan Christy, S.Pd., M.S., guru Bahasa Indonesia SMA N 5 Semarang.

Berbeda dengan masa kecilku dulu, kini anakku justru harus tinggal jauh dari sawah. Aku hanya bisa mengenalkan sawah dari buku bacaan.

Anak-anak yang hidup di perkotaan seringkali merasa asing pada gubuk, sawah dan lumpur. Nasib jadi anak kota membuat mereka lebih akrab dengan mal, playground, dan fried chicken.

Dalam berbagai podcast bertema parenting yang mudah kita jumpai di Youtube, anak-anak yang tidak pernah diajarkan belajar sesuatu dari hal-hal yang “kotor”, tekstur dan bermacam bentuk lainnya, dipercaya akan membuat mereka mengalami gangguan sensorik.

Kepercayaan itu membuat orang tua sibuk berlomba-lomba memasukkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah berbasis montessori learning. Sekolah berbiaya mahal itu pun akhirnya laris manis di kalangan ibu-ibu milenial dan gen z.

Semakin dini anak bersekolah, niscaya perkembangan motorik dan sensorik mereka akan berkembang lebih pesat. Tak heran, bayi usia 6 bulan pun sudah mulai disibukkan aktivitas belajar di playdate baby atau play learning center for baby.

Dalam metode Montessori, anak-anak dibebaskan bereksplorasi dalam belajar. Anak-anak akan diajak menggunakan seluruh panca indera mereka dalam pembelajaran. Mereka akan mencoba dan menemukan pengetahuan dari aktivitas inderawi mereka. Percayalah metode ini laris manis karena ada embel-embel “luar negeri”!

Jika kita melihat aktivitas di sekolah-sekolah yang mengusung metode Montessori, kita akan melihat anak-anak usia dini dilatih memegang tanah, beras, tanaman, memberi makan hewan dan aktivitas lain yang berpusat pada materi pengenalan sensorik, seperti warna, bentuk, dan tekstur. Padahal anak-anak Indonesia pada masa lalu bermain di alam tanpa berpikir bahwa mereka sedang belajar atau bersekolah.

Anak-anak bermain pasaran, rumah-rumahan, “bank-bankan”, berlarian, petak umpet dan permainan tradisional lain tanpa bermaksud menjadikan segala aktivitas itu sebagai bentuk dari belajar. Segala permainan anak-anak dahulu jelas merupakan bentuk pengejawantahan aktivitas motorik dan sensorik.

Aku ingat ketika aku masih kecil dulu kerap menjadikan gubuk sebagai markas persembunyian dari orang tua yang menyuruhku tidur siang. Aku yang tumbuh di kabupaten kecil berslogan Bumi Mina Tani tentu sangat akrab dengan sawah.

Aku dan kawan-kawan tak asing dengan tanah, lumpur, cacing, bahkan ular sawah. Kami menganggap sawah sebagai playground untuk bermain sekaligus tempat yang nyaman menghabiskan siang tanpa merasa gerah.

Berbeda dengan masa kecilku dulu, kini anakku justru harus tinggal jauh dari sawah. Aku hanya bisa mengenalkan sawah dari buku bacaan. Buku Aku Si Penjaga Sawah karangan Lia Herlina menjadi pilihanku saat berkunjung ke toko buku Gramedia.

Aku ingin menebus “dosa” lantaran menjauhkan dunia anakku dari alam yang asri dengan tekad ini hanya sementara. Kelak aku ingin mengajaknya bermain di sawah dan melihat padi, burung, serta orang-orangan sawah dalam wujudnya yang asli.

Buku itu ternyata cukup mengobati kerinduanku pada sawah tempatku dulu sering menghabiskan waktu. Buku berkisah tentang Si Penjaga Sawah. Ia menjadi saksi bisu segala peristiwa yang terjadi di sawah. Ia melihat para petani bekerja keras menyiapkan sawah sebelum ditanami.

Ada kerbau yang digambar dengan sangat menggemaskan oleh Odilia Stevannie. Anakku sangat menyukai gambar kerbau di buku itu. Ia akan mengingat kerbau membantu pekerjaan petani dalam menyiapkan lahan untuk menanam padi.

Aku mengajak anakku melihat aktivitas tandur (menanam padi) dengan gerakan mundur. Di dalam buku ada gambar Pak Tani menyiapkan lahan dan Bu Tani yang menanam, sementara orang-orangan sawah menjadi saksi padi itu mulai tumbuh hingga menguning.

Anak-anak akan diajak mengingat bahwa kita harus menunggu padi hingga seratus hari. Seratus hari tentu waktu yang lama bagi anak-anak. Ada banyak peristiwa yang akan terjadi di sana, dan itu membuat mereka tak sempat menghitung hari.

Si Penunggu Sawah hanya akan bertugas saat burung tiba-tiba datang. Ia akan berbunyi “klontang! klontang!” sehingga mampu mengusir burung-burung pemakan bulir-bulir padi. Jika ada tamu lain yang tak diundang seperti keong dan tikus, Si Penunggu Sawah hanya akan menjadi penonton serta pendoa yang tabah.

Saat menjadi penunggu sawah, orang-orangan sawah tak pernah kesepian. Ia selalu ditemani anak-anak yang bermain di sawah. Mungkin kehadiranku dan teman-temanku juga menjadi hiburan untuk orang-orang di sawah kala itu.

Panen adalah waktu yang membahagiakan bagi petani. Mereka akan banyak tertawa dan bergembira saat memanen padi. Padi dipanen menggunakan sabit. Ani-ani telah lama ditinggalkan.

Di buku itu, aku melihat petani masih merontokkan padi dan menumbuk padi dengan cara tradisional. Padahal pada  masa aku kecil dulu sudah ada mesin perontok padi. Padi-padi itu digiling agar mudah terpisah dari gabah.

Setelah semua padi selesai dipanen, tentu tinggallah Si Penjaga Sawah seorang diri, berdiri tegak menunggu dengan pasrah dan tabah alur kehidupan tandur dan panen yang akan terus berulang. Semua perjuangan itu ia jalani demi nasib yang lebih baik untuk para petani dan orang-orang yang membutuhkan nasi.

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

 

You Might Also Like

Bagaimana Quentin Tarantino Mengolok-olok Polisi di Film-Filmnya

Menimbang Keadilan Upah di Tengah Pertumbuhan Ekonomi

Tidak Ada Alasan Bermusuhan, Semua Manusia Bersaudara Atas Nama Kemanusiaan

Bersama-sama Tapi Sendiri

Ironi Kisah Reyhan dan Fara: Dari Kedekatan Personal ke Penghakiman Nasional

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Cekcok Lampu Sein yang Berujung Nyawa Melayang Tragis!
Next Article Peringatan Keras Puan Puan: Jangan Ada Lagi Kasus Ibu-Bayi Mati Kayak di Papua

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Mahasiswa Diminta Tak Cuma Jadi Komentator

Ilustrasi keracunan MBG. (wahyu/grafis)

Nah Lho! Kepala SPPG Karanganyar Muntah-muntah Cicipi Menu MBG untuk Ibu Hamil

Anggota Komisi VII DPR RI, Andhika Satya Wasistho. (ist)

Ojol Bakal Masuk UMKM, Mas Dewan RI Andhika Minta Pemerintah Perhatikan Jaminan Sosial Pengemudi

PERTAJAM STRATEGI - PLN Icon Plus menyiapkan strategi dengan memperkuat kemampuan tim dalam membaca pasar, memahami kebutuhan pelanggan, hingga mengubah peluang menjadi rencana bisnis.

Sambut Pasar PLTS Atap Makin Luas, PLN Icon Plus Pertajam Strategi lewat PV Academy

TAK BERJARAK - Bupati Temanggung, Agus Setyawan (Agus Gondrong) ngobrol akrab bersama warga pada Festival Lembutan Bansari ke-7 Tahun 2026 di Desa Gentingsari, Kecamatan Bansari, pada Sabtu (8/8/2026) pagi.

Cara Bupati Temanggung Jamin Kesehatan Warga: Balinkes Sediakan Bantuan Hingga Rp2,4 Juta per Orang

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

BoP Kesalahan Paling Epik Prabowo

Maret 11, 2026
Musala Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, Jatim, roboh.
Opini

Tragedi Al-Khoziny: Bukan Takdir, tapi Alarm Sistem Pesantren Kita

Oktober 7, 2025
Opini

Bisakah Kita Memulai Revolusi dari Secangkir Kopi?

April 6, 2026
Opini

Langkah Keliru Indonesia Memasuki Perang Orang Lain

Februari 11, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Semasa Kecil di Sawah
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?