BACAAJA, SEMARANG – Bella Puspita Sari kini harus menjalani hari-hari di dalam penjara. Seorang ibu yang mestinya merawat bayinya, justru terpisah karena kasus yang menjeratnya.
Anaknya yang baru berusia 4 bulan kini tak lagi dalam pelukannya. Bayi itu diasuh sang nenek di rumah. Begitu pula dengan anak Bella lainnya yang berusia 4 tahun.
Kondisi Bella disebut terus menurun sejak ditahan. Tekanan batin makin berat karena harus berpisah dari anak-anaknya di usia yang masih sangat butuh ibu.
Bacaaja: Duo Iwan Bos Sritex Dituntut Hukuman 16 Tahun Penjara dan Bayar Rp1,3 Triliun
Bacaaja: Antara Pemenuhan Seksual dan Kepuasan Emosional, Pilih Poliamori atau Open Relationship?
Kuasa hukumnya, Rayhan Abdillah, miris melihat kasus yang menjerat Bella. Ia dikriminalisasi sampai menanggung beban berat.
“Bu Bella posisinya sekarang sedang depresi berat. Ya coba dibayangkan sendiri seorang ibu yang harusnya dia menyusui anaknya, namun karena adanya peristiwa yang sungguh-sungguh mengecewakan menjadi terpisahkan,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Dalam perkara ini, Bella divonis bersalah atas kasus penggelapan dalam jabatanya sebagai Manager PT Terang Jaya Anugerah senilai Rp2,319 miliar. Dia dihukum 2 tahun 6 bulan penjara.
Putusan itu dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri Semarang pada 22 Mei 2025 lalu. Putusan itu dikuatkan hakim banding. Sementara kasasi yang diajukan Bella ditolak pada 26 Januari 2026.
Bella kini telah dieksekusi dan menjalani hukuman di Lapas Perempuan Bulu, Semarang. Ia baru sekitar satu bulan berada di dalam tahanan.
Meski begitu, pihak kuasa hukum menilai ada kejanggalan serius dalam kasus ini. Mereka menyebut dasar perkara berasal dari audit yang tidak valid.
“Klien kami adalah korban kriminalisasi,” tegas Rayhan.
Dia menjelaskan, tuduhan penggelapan muncul dari hasil audit investigatif Kantor Akuntan Publik (KAP) dari Semarang. Menurutnya, audit itu penuh kekeliruan dan tidak didukung data yang kuat.
Ia mencontohkan, angka kerugian disebut miliaran rupiah, sebenarnya hanya berbasis sistem. Tidak ada bukti nyata seperti transaksi, nota, atau barang.
“Audit itu melanggar aturan karena didasarkan dari data-data yang tidak objektif. Secara prosedur sudah keliru,” bebernya.
Atas dasar itu, tim hukum Bella mengajukan upaya hukum luar biasa berupa Peninjauan Kembali (PK). Pendaftaran PK dilakukan melalui PN Semarang, Selasa (21/5/2026).
Novum atau bukti barunya berupa keterangan ahli audit. “Telaah dari Pak Soekamto terhadap hasil audit ini kami ajukan sebagai novum,” bebernya.
Sisi lain, ia telah mengadukan auditor yang membuat kliennya dipenjara. Ia mengadu ke Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) meski tak membuahkan hasil.
Di luar proses pidana, suami Bella, Noviandri tengah mengajukan gugatan perdata di PN Semarang untuk menagih haknya yang dikuasai PT Terang Jaya Anugerah–yang dikelola kerabatnya.
“Ini perdata sekaligus PK maju bareng. Kami akan melakukan upaya sampai titik darah pengabisan,” tegasnya. (*)

