Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Dialek Semarangan Bertahan di Tengah Gempuran Bahasa Jaksel dan Slang TikTok
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Fokus

Dialek Semarangan Bertahan di Tengah Gempuran Bahasa Jaksel dan Slang TikTok

R. Izra
Last updated: Mei 14, 2026 5:33 pm
By R. Izra
4 Min Read
Share
DIALEK SEMARANGAN - Dialek Semarangan bukan sekadar logat bahasa, tapi merupakan identitas.
DIALEK SEMARANGAN - Dialek Semarangan bukan sekadar logat bahasa, tapi merupakan identitas.
SHARE

BACAAJA, SEMARANG – Bahasa gaul media sosial makin hari makin mendominasi obrolan anak muda. Istilah kayak “loe-gue”, “anjir”, “spill”, sampai slang ala TikTok sekarang lebih sering muncul di tongkrongan maupun chat sehari-hari.

Namun, di tengah gempuran bahasa viral itu, logat khas Semarang masih belum benar-benar hilang.

Buat sebagian anak muda Kota Lumpia, logat Semarangan bukan sekadar cara ngomong, tapi identitas yang sudah nempel sejak kecil dan rasanya susah dilepas begitu saja.

Salah satunya dirasakan Muhammad Huda Lil Mutaqin, warga asli Kabupaten Semarang yang kini tinggal di Ngaliyan, Kota Semarang.

Bacaaja: ‘Ndes’ Mulai Jarang Kedengeran, Dialek Semarangan Pelan-pelan Hilang dari Tongkrongan
Bacaaja: Dialek Semarang yang Kian Tenggelam di Kota Sendiri

Menurut Huda, logat Semarang sudah jadi bagian dari kesehariannya sejak kecil. Jadi tanpa sadar, gaya ngomong khas Semarangan tetap kebawa sampai sekarang.

“Karena memang sudah terbiasa memakai logat Semarangan. Ada imbuhan kata seperti nda, e, dan lain sebagainya,” ujarnya, Rabu (13/5/2026).

Meski begitu, Huda mengakui kalau suasana lingkungan juga berpengaruh besar terhadap cara orang berbicara. Di daerah perkotaan, apalagi kawasan kampus seperti Ngaliyan atau Gunungpati, anak muda memang cenderung lebih sering memakai bahasa Indonesia.

“Di daerah kota memang lebih sering pakai bahasa Indonesia karena dianggap lebih resmi. Apalagi di lingkungan kampus,” katanya.

Tapi buat Huda, pakai logat Semarang bukan sesuatu yang bikin malu. Justru menurutnya itu jadi ciri khas yang membedakan warga Semarang dengan daerah lain.

“Kalau malu tidak, karena itu identitas asli warga Semarang,” tegasnya.

Ia juga merasa, penggunaan bahasa yang sama dalam tongkrongan bikin hubungan pertemanan jadi lebih dekat dan nyambung.

“Kalau tidak memakai bahasa yang sama, rasanya kurang mengeratkan pertemanan,” ujarnya.

Beberapa kata khas Semarang yang masih sering dipakai Huda antara lain “nda”, “ojo ngono”, sampai tambahan huruf “e” di akhir percakapan yang sering muncul tanpa sadar.

Menurutnya, logat Semarang juga nggak bisa dibilang kuno ataupun harus dianggap keren berlebihan.

“Menurut saya bukan masalah keren atau kuno, tapi lebih ke khas. Karena logat Semarang berbeda dengan daerah lain,” jelasnya.

Hal serupa juga dirasakan Muhammad Yassar Aryasena. Ia mengaku logat Semarangan sudah otomatis kebawa karena sejak kecil terbiasa mendengar orang sekitar berbicara seperti itu.

“Dari kecil dengarnya logat Semarang, jadi otomatis ikut mempraktikkan,” katanya.

Meski begitu, Yassar melihat sekarang banyak anak muda mulai ikut gaya bicara daerah lain karena dianggap lebih keren atau lucu.

“Anak sekarang lebih suka logat Jakarta kayak loe-gue karena dianggap keren. Kadang juga pakai Sunda karena dianggap lebih halus, atau ngapak karena lucu,” ujarnya sambil tertawa.

Tapi saat ditanya apakah malu memakai logat Semarang, jawabannya langsung ceplas-ceplos khas anak Semarang.

“Wah yo nek malu yo ogak to,” katanya.

Yassar bilang, salah satu kata yang masih sering muncul di tongkrongan sampai sekarang adalah “ndes”.

“Misal bilang, ‘Piye ki ndes?’,” ujarnya.

Buatnya, logat Semarang punya kesan santai dan lebih cair dibanding beberapa logat daerah lain di Jawa Tengah.

“Menurutku masih keren sih. Logat Semarang itu paling nyantai,” katanya.

Meski media sosial punya pengaruh besar terhadap cara anak muda berbicara, mereka merasa logat daerah tetap penting dipertahankan.

Soalnya kalau sampai hilang, bukan cuma bahasa yang berubah, tapi juga suasana khas pergaulan orang Semarang yang ikut memudar.

“Kalau dialek hilang agak masalah juga, karena feel ngomong di sini itu beda,” kata Yassar.

Di tengah derasnya budaya internet dan bahasa gaul viral, sebagian anak muda Semarang ternyata masih ingin menjaga logat daerahnya tetap hidup. Karena buat mereka, bahasa Semarang bukan cuma soal medok atau ceplas-ceplos, tapi bagian dari identitas yang bikin Kota Lumpia punya rasa berbeda. (*)

You Might Also Like

Adaptasi Warga Pesisir Semarang-Demak Mencari Penghidupan di Tengah Rob

Kemarau Datang, BPBD Jateng Siaga Salurkan Air Bersih ke Warga

Buruh Sritex Meradang, Nasibnya Kayak Roller Coaster Gak Jelas Arahnya

Gol Sabda Bikin PSIS Raih Tiga Poin di Laga Perdana

Rekening Pejabat Makin Gendut! Presiden Teken Perpres Kenaikan Gaji Pejabat, ASN, dan TNI-Polri

TAGGED:bahasa gaulbahasa slangdialek semaranganheadlinejakselmedsostiktok
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article KERETA TERTEMPER SEPEDA MOTOR - Tabrakan antara kereta api dengan sepeda motor di Jember. Pemotor disebut mengabaikan peringatan klakson dari masinis. (Instagram @railfanssindo) Abaikan Klakson Masinis, Pengendara Sepeda Motor Tertemper Kereta Sangkuriang
Next Article Atasi RTLH, Jateng Pilih Gotong Royong

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Dispora Dorong Cabor Mandiri, Tak Semua Kejuaraan Bisa Dibiayai APBD

PSIS Siap Tempur di Bantul

Sate Kambing Nangkring di Posisi 4 Dunia

Buah MBG Anak SD Tak Boleh Asal Sajikan

Remaja SMP Sudah Pakai Skincare, Ini Resikonya

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Menimbang Keadilan Upah di Tengah Pertumbuhan Ekonomi

November 10, 2025
Info

Kuota Haji Jateng 2026 Tembus 34 Ribu

Januari 12, 2026
Unik

Libur Panjang, Wali Kota Agustina Cek Posko PAM Nataru

Desember 23, 2025
Daerah

Driver Ojol & Mahasiswa Bersatu, Demo di Polda Jateng Berujung Gas Air Mata

Agustus 29, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Dialek Semarangan Bertahan di Tengah Gempuran Bahasa Jaksel dan Slang TikTok
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?