BACAAJA, SEMARANG- Pemprov Jateng lagi ngebut ngajak banyak pihak buat urusan yang sering dianggap sepele tapi sebenarnya krusial: rumah yang layak buat ditinggali.
Lewat semangat gotong royong, Pemprov kolaborasi bareng Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Jateng buat bantu perbaikan Rumah Tak Layak Huni (RTLH). Tahun 2026 ini, ada 111 rumah warga yang bakal direhab dengan total bantuan lebih dari Rp2,1 miliar.
Wagub Jateng, Taj Yasin Maimoen bilang, program RTLH bukan cuma perkara semen, bata, atau genteng baru. Menurutnya, rumah yang layak itu juga soal harga diri dan harapan hidup warga.
Baca juga: Diterjang Angin, Rumah Warga Siap Diperbaiki Lewat RTLH
“Kalau ada masalah, duduk bareng-bareng, langsung bantu. Ini yang penting,” kata Gus Yasin. Ia menilai, kenyamanan hidup nggak lahir cuma dari bangunan bagus, tapi juga dari lingkungan yang masih punya rasa peduli.
Makanya, ia ngajak budaya gotong royong jangan sampai hilang. Sebab kebutuhan rumah layak di Jawa Tengah masih besar banget dan nggak mungkin ditangani sendirian lewat APBD. Mulai dari pemerintah daerah, CSR perusahaan, Baznas, sampai masyarakat disebut harus ikut turun tangan.
Data yang dipaparkan juga bikin geleng kepala. Awal 2025, backlog perumahan di Jateng masih tembus 1,3 juta unit. Sampai akhir 2025 memang sudah tertangani sekitar 274 ribu unit, tapi sisanya masih lebih dari 1 juta rumah.
Masih Panjang
Masuk Triwulan I tahun 2026, ada tambahan penanganan 6.798 unit RTLH. Artinya, perjuangan buat bikin warga punya rumah layak masih panjang. Gus Yasin juga kasih apresiasi buat ASN muslim di lingkungan Pemprov Jateng yang rutin menyalurkan zakat lewat Baznas. Dana itu kemudian diputar lagi buat program sosial, termasuk rehab rumah warga kurang mampu.
Salah satu penerima bantuan, Rohmiyati (54), warga Getasan, Kabupaten Semarang, jadi bukti kalau bantuan rumah kadang lebih menenangkan daripada sekadar janji.
Selama ini ia tinggal di rumah yang kondisinya memprihatinkan. Di tengah ekonomi yang pas-pasan, Rohmiyati juga harus merawat suaminya yang mengalami gagal ginjal dan harus cuci darah dua kali seminggu.
Baca juga: Puluhan Rumah di Sragen Mulai Dibedah, Bupati Turun Langsung Pantau Proyek Desa Bebas RTLH
Kerja serabutan yang ia jalani jelas belum cukup buat renovasi rumah. Karena itu, kabar rumahnya bakal diperbaiki jadi hal yang paling ia syukuri tahun ini. “Bantuan ini sangat berarti bagi keluarga kami,” ucap Rohmiyati.
Buat Rohmiyati, rumah baru nanti bukan cuma soal tembok yang lebih kokoh atau atap yang nggak bocor lagi. Tapi juga tentang rasa tenang buat bertahan hidup.
Di tengah zaman ketika orang gampang pamer rumah estetik di media sosial, masih ada warga yang cuma berharap rumahnya sekadar aman saat hujan datang. Dan kadang, gotong royong adalah “arsitek” terakhir yang masih mau mengetuk pintu mereka. (tebe)

