BACAAJA, SEMARANG- Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maemoen menggagas program kelas konsultasi bagi calon pengantin sebagai upaya membangun keluarga harmonis di Jawa Tengah. Gagasan ini disampaikan saat menerima audiensi Badan Penasihatan, Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Jawa Tengah di kantornya, Senin, (9/2/2026).
Menurut Taj Yasin, meski di tengah keterbatasan anggaran, program ini penting untuk menjawab kompleksitas persoalan rumah tangga yang kerap muncul setelah pernikahan. “Saya ingin Pemerintah Provinsi Jawa Tengah punya program kelas calon pengantin. Ini penting, karena persoalan rumah tangga sekarang semakin kompleks,” ujar Taj Yasin.
Baca juga: Sudah Berlaku! Seks di Luar Nikah dan Living Together Bisa Bikin Masuk Penjara
Ia berharap, kelas tersebut bisa menjadi langkah pencegahan sejak dini terhadap berbagai masalah rumah tangga, termasuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Taj Yasin juga mendorong BP4 untuk berkolaborasi dengan program Kecamatan Berdaya, yang telah memiliki layanan paralegal bagi masyarakat terdampak KDRT.
Ketua BP4 Jawa Tengah, Eman Sulaeman, menyambut positif gagasan tersebut. Menurutnya, peran BP4 sangat sejalan dengan tugas pemerintah dalam mempersiapkan pasangan untuk membangun keluarga sakinah.
Fungsi Mitigasi
“Tugas BP4 bukan hanya pendampingan sebelum menikah, tapi juga mediasi dan advokasi keluarga yang berkonflik, termasuk mitigasi dampak perceraian, terutama bagi anak-anak,” jelas Eman. Ia menambahkan, BP4 memiliki konsultan dan fasilitator yang telah tersertifikasi.
Eman menilai kelas calon pengantin akan memberi manfaat besar jika dijalankan secara kolaboratif. Ia berharap kerja sama dengan Pemprov Jateng bisa segera diwujudkan demi memperkuat harmonisasi keluarga di daerah.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jawa Tengah, Ema Rachmawati, menyampaikan bahwa Pemprov sebenarnya sudah memiliki sejumlah program penunjang ketahanan keluarga, seperti program generasi reproduksi dan ketahanan keluarga.
Baca juga: Berharap Keajaiban, Keluarga Tetap Siapin Nikahan Meski Dera-Munif Masih Ditahan
Terkait kelas calon pengantin, Ema menyebut wacana tersebut sudah lama dibahas dan rencananya akan dilaksanakan secara daring. “Kami berencana membuka kelas calon pengantin lewat Zoom. Ini jadi ruang belajar dan konsultasi bagi pasangan yang akan menikah, supaya paham bahwa berkeluarga itu bukan cuma soal bahagia,” ujar Ema.
Ia menambahkan, materi kelas nantinya bisa menggunakan modul dari Kementerian Agama dan melibatkan konsultan serta fasilitator tersertifikasi, termasuk dari BP4 Jawa Tengah.
Karena menikah itu bukan cuma siap undangan dan katering. Yang lebih penting: siap ngobrol saat beda pendapat, siap sabar saat masalah datang, dan siap belajar bahwa cinta saja kadang nggak cukup tanpa ilmu. (tebe)


