BACAAJA, SEMARANG – Kecelakaan bus PO Cahaya Trans di Exit Tol Krapyak, Semarang bikin nyesek. Korbannya banyak banget. Dari 33 orang yang di dalam bus, 16 di antaranya tewas.
Ahli Forensik RSUP dr Kariadi Semarang, dokter RP Uva Utomo, bilang, sebagian besar korban tewas akibat cedera kepala berat.
Kondisi itu dipengaruhi situasi saat kecelakaan terjadi. Insiden berlangsung pada dini hari, jadi mayoritaa penumpang sedang tertidur.
“Kecelakaan kan malam hari, semua tertidur, tidak siap. Jadi yang kita temukan memang rata-rata CKB atau cedera kepala berat,” jelas Uva, Senin (22/12/2025).
Bacaaja: Fakta Baru Kecelakaan Bus di Tol Krapyak: Pengemudi Sopir Cadangan, Korban Jadi 16 Orang
Bacaaja: Kesaksian Penumpang Bus Maut PO Cahaya Trans: Jalan Menikung, Sopir Malah Ngegas
Kata dia, tanda cedera kepala berat terlihat dari pendarahan di hidung dan telinga korban.
Selain itu, tim forensik juga menemukan sejumlah cedera lain yang tak kalah serius. Ada juga dislokasi atau patah tulang leher. Lalu trauma pada dada cukup banyak.
“Beberapa korban juga mengalami trauma pada organ perut, sampai organ dalamnya tampak dari luar,” ungkapnya.
Sejumlah jenazah sudah disucikan dan mulai dipulangkan ke daerah asal. Beberapa di antaranya telah diberangkatkan menggunakan ambulans milik Pemprov Jateng.
Sementara itu, polisi mengakui proses pendataan korban tewas sempat mengalami kendala. Kabid Dokkes Polda Jateng, Kombes Agustinus MHT, mengatakan minimnya laporan dari keluarga korban menyulitkan pengumpulan data antemortem di awal.
“Pengambilan data antemortem cukup terkendala. Meski kami sudah cantumkan nomor HP untuk laporan keluarga, yang masuk sangat minim,” kata Agustinus.
Untung saja terbantu alat oleh tim Inafis. Melalui sidik jari, identitas korban bisa langsung diketahui, lengkap dengan nama, alamat, hingga foto.
Tim DVI Polda Jateng bekerja bersama tim Inafis Polrestabes Semarang dan tim forensik RSUP dr Kariadi.
Proses pengumpulan data di kamar jenazah berlangsung hingga siang. Setelah itu, lanjut tahap rekonsiliasi untuk mencocokkan data postmortem dan antemortem.
Berikut daftar identitas korban tewas:
1. Sadimin (57), buruh, warga Wedi, Kabupaten Klaten
2. Srihono (53), buruh, warga Juwiring, Kabupaten Klaten
3. Listiana (44), buruh, warga Trucuk, Kabupaten Klaten
4. Sugimo (62), wiraswasta, warga Banyudono, Kabupaten Boyolali
5. Haryadin (43), swasta, warga Pasar Rebo, Jakarta Timur
6. Mutiara (19), mahasiswa, warga Kabupaten Sleman, DIY
7. Saguh (62), wiraswasta, warga Parung, Kabupaten Bogor
8. Wahyu (26), mahasiswa, warga Kabupaten Boyolali
9. Ngatiyem (48), ibu rumah tangga, warga Mojosongo, Kabupaten Boyolali
10. Erna (53), swasta, warga Rancaungur, Kota Bogor
11. Yanto (47), buruh, warga Trucuk, Kabupaten Klaten
12. Anis (36), swasta, warga Banyudono, Kabupaten Boyolali
13. Noviani (31), ibu rumah tangga, warga Kemang, Kota Bogor
14. Anih (56), ibu rumah tangga, warga Parung, Kota Bogor
15. Dwi (47), ibu rumah tangga, warga Ciputat, Kota Tangerang Selatan
16. Endah (48), petani, warga Cangkringan, Kabupaten Sleman. (bae)

