Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Asap Karhutla Bukan Cuma Bikin Sesak Napas, FK UI: Dampaknya Bisa Hantui Anak hingga Dewasa
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

Asap Karhutla Bukan Cuma Bikin Sesak Napas, FK UI: Dampaknya Bisa Hantui Anak hingga Dewasa

R. Izra
Last updated: Oktober 31, 2026 1:15 pm
By R. Izra
4 Min Read
Share
Ilustrasi anak terdampak kabut asap karhutla.
Ilustrasi anak terdampak kabut asap karhutla.
SHARE

BACAAJA, JAKARTA – Bahaya dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) nggak selesai saat api padam dan asap menghilang. Paparannya bisa meninggalkan masalah kesehatan, terutama bagi anak-anak.

Bukan cuma batuk dan sesak napas, asap juga berpotensi mengganggu pertumbuhan paru-paru hingga perkembangan otak. Bahaya asap karhutla bisa menghantui anak-anak di masa sekarang hingga kelak saat dewasa.

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) melalui Indonesian Medical Education and Research Institute (IMERI) mendorong edukasi, kolaborasi lintas disiplin, dan riset berkelanjutan untuk melindungi masyarakat terdampak karhutla.

Komitmen tersebut dibahas dalam webinar bertajuk “Hutan Kita, Kesehatan Kita, Masa Depan Kita” yang digelar secara daring pada Sabtu (31/10/2026).

Bacaaja: Gus Mus hingga Wantimpres Desak Prabowo Tetapkan Karhutla Jadi Bencana Nasional
Bacaaja: “Ini Kebakaran atau Pembakaran Ya?” Ganjar Usul 5 Langkah Tangani Bencana Karhutla di Indonesia

Dekan FKUI, Prof. Dr. dr. Anna Rozaliyani, M.Biomed, Sp.P(K), menegaskan karhutla bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut kesehatan dan keselamatan masyarakat.

“Karhutla bukan sekadar persoalan asap. Ini adalah persoalan kesehatan, keselamatan, dan masa depan generasi kita,” ujarnya.

Direktur IMERI FK UI, Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K), MPH, menambahkan perlindungan kesehatan, terutama bagi anak-anak, harus tetap dilakukan setelah karhutla berlalu. Riset lanjutan juga dibutuhkan untuk memahami dampak jangka panjangnya.

Anak-anak Paling Rentan

Salah satu pembicara, Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A, Subsp. Respi(K), menjelaskan anak-anak lebih rentan terhadap asap karena paru-parunya masih berkembang, saluran napas lebih sempit, dan sistem kekebalan tubuh belum matang.

Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 yang ukurannya sekitar 30 kali lebih kecil dari diameter rambut manusia. Partikel ini bisa masuk jauh ke paru-paru hingga mencapai aliran darah.

Dampak jangka pendeknya meliputi ISPA, serangan asma, iritasi mata, dan penurunan nafsu makan. Sementara paparan berkepanjangan berpotensi mengganggu pertumbuhan paru-paru, meningkatkan risiko asma persisten dan PPOK, hingga memengaruhi perkembangan kognitif anak.

Nastiti menyebut studi terkait kebakaran Indonesia pada 1997 menemukan penurunan kapasitas paru hingga 10 tahun setelah paparan. Paparan sejak dalam kandungan juga dikaitkan dengan gangguan pertumbuhan yang dampaknya dapat bertahan hingga anak-anak dan remaja.

“Diperlukan monitoring ketat jangka panjang terhadap anak yang terdampak,” tegasnya.

Ia menyarankan empat langkah perlindungan, yakni memantau tumbuh kembang anak, mengawasi kondisi pernapasan, memperkuat imunisasi dan pemenuhan nutrisi, serta mendorong lingkungan yang lebih sehat.

Menurut Nastiti, pemantauan tidak boleh berhenti pada pengobatan gejala. Keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, dan pemerintah perlu ikut memastikan anak mendapat perlindungan berkelanjutan.

FKUI Siapkan Riset Lanjutan

Selain edukasi, FKUI juga menyiapkan riset bersama Ikatan Alumni Magister Kedokteran Kerja (ILUNI MKK) untuk mengkaji dampak kesehatan pascakarhutla pada pekerja dan masyarakat.

Studi tersebut direncanakan berlangsung dalam rentang satu hingga tiga bulan setelah kejadian, dengan fokus pada gejala sisa gangguan pernapasan dan keluhan kesehatan lain akibat paparan asap.

Penelitian ini akan dikoordinasikan oleh Klaster Occupational & Environmental Health IMERI FK UI bersama Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FK UI.

Hasilnya diharapkan menjadi dasar edukasi, skrining, dan pemantauan kesehatan kelompok terdampak. Namun, periode satu hingga tiga bulan tersebut merupakan fokus studi yang direncanakan, bukan gambaran lengkap dampak kesehatan jangka panjang.

FK UI menegaskan penanganan karhutla membutuhkan kerja sama kampus, tenaga kesehatan, pemerintah, dunia kerja, dan masyarakat.

Sebab, dampak karhutla bukan cuma soal hutan yang terbakar. Kesehatan masyarakat, terutama generasi muda, juga ikut dipertaruhkan. (*)

You Might Also Like

Hari Lahir Pancasila, Sekjen PDIP Tegaskan Pentingnya Kritik untuk Demokrasi Sehat

Agustina Tinjau Lokasi Kebakaran, Tekankan Pentingnya Kewaspadaan Masyarakat

Borobudur Marathon Naik Level, Kuota 12.500 Pelari Dibuka

DPR Gaspol Dorong Energi Terbarukan Buat Wilayah 3T, Biar Gak Gelap Terus!

Kemarau Belum Puncak, Pemprov Sudah Guyur 3,2 Juta Liter Bantuan Air Bersih

TAGGED:anakdewasafk uiimerikabut asapkarhutla
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka memberikan keterangan kepada awak media seusai melaksanakan salat Jumat di Masjid Jami Ar-Ridho, Jelambar, Jakarta Barat, Jumat (30/10/2026). (Dok Setwapres) MA Batalkan Suket Penyetaraan Ijazah, Gibran Tak Layak Jadi Wapres? Denny Indrayana: Mundur!
Next Article ILUSTRASI: Kereta api sedang melaju di wilayah Daop 4 Semarang. (ist) Cara Batalkan Tiket Kereta Api via Aplikasi Tanpa Harus ke Stasium

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Ilustrasi hujan deras.

Waspada Cuaca Ekstrem di Semarang: 2-4 Hari Tak Hujan Justru Bisa Jadi Pertanda Bahaya

MANGKRAK - Tangga Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang berada di Jalan Mgr. Sugiyopranoto, Kecamatan Semarang Selatan, tampak lapuk dimakan usia. Saat ini, banyak JPO di Semarang mangkrak tak terpakai. (ist) Wakil Gubernur Jawa Tengah (Wabug Jateng) Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) saat memberi keterangan kepada awak media di Gedung Gradhika Kota Semarang, Senin (2/11/2026). (dul)

Gus Yasin Minta Penanganan Penggerebekan Ponpes Putri di Sukoharjo Berjalan Transparan

BANJIR SEMARANG: Warga berjalan menerjang banjir di wilayah Kelurahan Tambakrejo, Kota Semarang, Rabu (29/10/2025). (bae)

Bagaimana Prediksi Banjir di Genuk Tahun Ini? Begini Penjelasan BPBD Kota Semarang

MANGKRAK - Tangga Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang berada di Jalan Mgr. Sugiyopranoto, Kecamatan Semarang Selatan, tampak lapuk dimakan usia. Saat ini, banyak JPO di Semarang mangkrak tak terpakai. (ist) Tangga Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang sudah lapuk di makan usia. (Ist)

Mengapa JPO Semarang Mangkrak Tak Terpakai? Djoko Setijowarno Soroti Infrastruktur Tak Inklusif

BAHAS BENCANA: Pejabat BPBD Kota Semarang dan berbagai pihak sedang koordinasi lintas sektor membahas antisipasi bencana. (ist)

Masuk Musim Hujan, BPBD Semarang Siap Antisipasi Banjir dan Longsor

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Info

Tito Sentil APBD Jakarta, 821 Ribu Rumah Tak Layak Huni

Oktober 25, 2026
Info

Alfamart Ditutup Mendadak, Karyawan Lombok Tengah Mulai Panik Nasib

Mei 21, 2026
Hukum

Baru Dilantik, Lima Kepala Daerah Tumbang di Tahun Sama

Desember 30, 2025
Hukum

Nyolong Emas Demi Operasi Plastik Hidung, Ada-ada Saja..

Juli 21, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Asap Karhutla Bukan Cuma Bikin Sesak Napas, FK UI: Dampaknya Bisa Hantui Anak hingga Dewasa
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?