BACAAJA, SEMARANG – Cuaca panas dan gerah selama beberapa hari tanpa hujan bukan berarti kondisi langit di Kota Semarang sedang aman. Justru, kondisi tersebut perlu diwaspadai karena bisa menjadi pertanda meningkatnya potensi cuaca ekstrem.
Ketua Tim Manajemen Sistem Operasional BMKG, Giyarto, menjelaskan kondisi tersebut berkaitan dengan proses konvektif atau pembentukan awan hujan di atmosfer.
Kata dia, ketika proses ini melambat selama beberapa hari, pembentukan awan berpotensi berlangsung lebih maksimal setelahnya.
Bacaaja: Masuk Musim Hujan, BPBD Semarang Siap Antisipasi Banjir dan Longsor
Bacaaja: Bagaimana Prediksi Banjir di Genuk Tahun Ini? Begini Penjelasan BPBD Kota Semarang
“Apabila dua sampai tiga hari atau empat hari tidak hujan, kemudian cuaca pagi hari cenderung panas dan gerah, itu justru berbahaya,” kata Giyarto, Senin (2/11/2026).
Menurutnya, ketika proses pembentukan awan mencapai kondisi maksimal, potensi cuaca ekstrem bisa meningkat. Salah satunya terbentuk awan cumulonimbus yang dapat memicu hujan lebat disertai angin kencang.
Dampaknya tidak hanya berupa genangan atau banjir. Kondisi tersebut juga berpotensi memicu angin puting beliung, hujan es, hingga sambaran petir.
Karena itu, masyarakat diminta tidak lengah ketika cuaca terasa panas selama beberapa hari berturut-turut. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian, terutama saat Semarang masih berada dalam masa pancaroba atau peralihan menuju musim hujan.
Giyarto menjelaskan, kondisi cuaca pada masa pancaroba sangat dipengaruhi dinamika atmosfer harian. Proses pembentukan awan hujan bisa berlangsung cepat maupun lambat.
Pada kondisi tertentu, hujan bisa turun setiap sore atau awal malam. Namun, ada pula wilayah yang tidak diguyur hujan selama dua hingga tiga hari.
Faktor lokal seperti kondisi geografis juga memengaruhi pembentukan hujan. Wilayah dengan kondisi orografi atau perbukitan bisa lebih sering mengalami hujan karena menjadi daerah tangkapan awan. (bae)

