BACAAJA, JAKARTA – Sekjen Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Hasto Kristiyanto ngomong cukup keras soal kondisi demokrasi di Indonesia saat ini.
Dalam pidatonya di upacara Hari Lahir Pancasila, Hasto bilang PDIP khawatir dengan menguatnya nuansa militerisme dan makin sempitnya ruang kritik di masyarakat.
Pidato itu disampaikan Hasto saat memimpin upacara Hari Lahir Pancasila di Sekolah Partai PDIP, Jakarta, Senin (1/6/2026).
Bacaaja: Ketua DPRD Jateng Ungkap PR Besar Demokrasi Indonesia: Bukan Sekadar soal Pemilu
Bacaaja: PDIP Jateng Kebut Konsolidasi Struktur Partai hingga Akar Rumput, Target Menang Pemilu 2029
Menurut Hasto, masyarakat yang kritis ke pemerintah seharusnya nggak dibungkam atau malah ditekan. Soalnya, kritik justru lahir karena warga peduli dan cinta sama negaranya sendiri.
“Kita juga menolak berbagai bentuk pembungkaman terhadap masyarakat yang kritis,” kata Hasto.
Ia bilang, sikap kritis bukan ancaman buat negara. Justru itu bagian penting dari demokrasi yang sehat.
“Sikap kritis adalah tanggung jawab politik setiap warga negara karena rasa cinta kepada tanah air. Sikap kritis nggak bisa dihadapi dengan represi,” lanjutnya.
Ucapan Hasto langsung disambut teriakan “Betul!” dari peserta upacara.
Dalam pidatonya, Hasto juga nyinggung soal nilai-nilai Pancasila yang menurutnya lahir dari semangat melawan penjajahan dan penindasan.
Karena itu, ia menilai penyalahgunaan kekuasaan dan tindakan represif bertentangan dengan semangat Pancasila.
Menurut dia, kemerdekaan sejati bukan cuma soal bebas dari penjajahan asing, tapi juga soal kebebasan warga buat ngomong, berpendapat, sampai berkumpul tanpa rasa takut.
“Harus ada kemerdekaan berpendapat, berserikat, dan berkumpul,” ujarnya.
Hasto juga mengingatkan kalau aparat negara seharusnya hadir buat melindungi rakyat, bukan malah menyalahgunakan kekuasaan.
Menariknya, Hasto bilang PDIP juga belajar dari pengalaman saat jadi bagian pemerintahan. Menurutnya, kritik tetap penting supaya demokrasi nggak kehilangan arah.
“Namanya juga Partai Demokrasi Indonesia. Kritik itu penting di dalam demokrasi,” pungkasnya. (*)

