BACAAJA, SEMARANG- Resepsi HUT ke-81 Kemerdekaan RI tingkat RW IV Kelurahan Tlogosari Kulon digelar meriah melalui pagelaran wayang kulit di Lapangan Serbaguna RW IV, Jalan Gusti Putri III, Tlogosari Kulon.
Pagelaran mengangkat lakon “Wahyu Topeng Wojo” yang dibawakan dalang Ki Sigit Ariyanto. Pertunjukan semakin meriah dengan kehadiran pelawak Jolang serta iringan karawitan dari Sanggar Seni Utomo Laras RW IV. Tak hanya wayang kulit, penampilan Penembromo Kelurahan PKK RW IV juga ikut menjadi bagian dari rangkaian hiburan untuk masyarakat.
Ketua RW IV Kelurahan Tlogosari Kulon, H Suryadi mengatakan, kegiatan peringatan kemerdekaan tersebut digelar dengan semangat gotong royong. Seluruh pembiayaan berasal dari swadaya masyarakat dan dukungan para pengusaha yang berada di wilayah RW IV.
Baca juga: Luthfi: Kemerdekaan Harus Terasa di Meja Makan Rakyat
“Peringatan HUT RI ke-81 tingkat RW IV ini tanpa menggunakan dana Banop. Biayanya murni swadaya masyarakat dan dimotori para pengusaha di wilayah RW IV,” kata Suryadi.
Menurutnya, pemilihan wayang kulit bukan tanpa alasan. Pertunjukan tradisional tersebut diharapkan menjadi ruang untuk kembali mengenalkan budaya kepada masyarakat, terutama generasi muda.
Wayang, kata dia, tidak semestinya hanya dipandang sebagai tontonan. Lebih dari itu, berbagai cerita dan karakter di dalamnya mengandung nilai kehidupan yang relevan dengan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. “Wayang bukan sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan dan tatanan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,” ujarnya.
Dihadiri Wali Kota
Pagelaran tersebut turut dihadiri Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti, Ketua Fraksi PDIP DPRD Kota Semarang Rahmulyo Adi Wibowo, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang Indriyasari, Camat Pedurungan, Lurah, LPMK, para ketua RW se-Kelurahan Tlogosari Kulon, serta masyarakat setempat.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng memberikan apresiasi atas inisiatif warga RW IV yang mampu menggelar pertunjukan wayang kulit dengan kekuatan gotong royong.
Menurut Agustina, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki kepedulian terhadap kebudayaan sekaligus mampu bergerak bersama tanpa selalu bergantung pada anggaran pemerintah.
Baca juga: Dua Sekolah di Wonoplumbon Satukan Barisan Rayakan Kemerdekaan
Ia juga mengapresiasi panitia dan berharap semangat kebersamaan tersebut terus dipertahankan. Agustina berharap warga semakin guyub, rukun, serta aktif mendukung berbagai program pemerintah Kota Semarang.
Di tengah banyaknya hiburan modern, RW IV justru memilih wayang kulit untuk merayakan kemerdekaan. Pesannya cukup jelas: budaya tidak harus menunggu panggung besar dan anggaran jumbo. Kadang cukup warga guyub, pengusaha ikut urunan, lalu dalang naik panggung.
Sebab, kalau gotong royong masih hidup, merayakan kemerdekaan ternyata tak harus mahal, yang penting jangan sampai semangat kebersamaannya yang “merdeka” alias jalan sendiri-sendiri. (tebe)

