BACAAJA, SEMARANG – Simpang Lima Semarang mendadak jadi lautan penari, Minggu (9/8/2026). Sekitar 25 ribu warga kompak mengikuti Festival Tari Dug Dug Der Semarangan.
Bukan sekadar joget bareng, kegiatan ini sekaligus membawa pulang rekor baru dari Lembaga Prestasi Indonesia-Dunia (LEPRID).
Festival tersebut tercatat sebagai “Pemrakarsa dan Penyelenggara Rekor Festival Nari Bareng Dug Dug Der Semarangan diikuti Peserta Terbanyak.”
Bacaaja: Bocah 17 Tahun Pecahkan Rekor Timnas
Bacaaja: Bocah Boyolali Bikin NASA Kasih Salut
Piagam rekor itu diserahkan langsung Pendiri sekaligus Ketua Umum LEPRID Paulus Pangka kepada Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti.
Namun, Agustina tidak menganggap rekor tersebut sebagai pencapaian pribadi. Menurutnya, penghargaan itu justru milik warga Kota Semarang.
“Ketika 25 ribu orang menari bersama, kita melihat ada kebersamaan, kegembiraan, dan rasa bangga menjadi bagian dari Kota Semarang,” ujar politikus PDIP itu.
Festival ini juga menjadi cara Pemkot Semarang mengenalkan budaya lokal kepada generasi muda. Agustina ingin tradisi tidak hanya berhenti sebagai cerita sejarah.
“Kalau masyarakat ikut menari, budaya itu tidak disimpan sebagai sejarah semata, melainkan benar-benar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” katanya.
Tari Dug Dug Der Semarangan sendiri tidak bisa dilepaskan dari tradisi Dugderan yang sudah berkembang di Semarang sejak abad ke-19.
Nama Dugderan berasal dari bunyi bedug “dug” dan dentuman meriam “der” yang dahulu menjadi penanda datangnya bulan Ramadan. Tradisi ini juga lekat dengan ikon Warak Ngendog.
Festival tari ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. (bae)

