PAGI belum benar-benar ramai di Pedukuhan Gondang, Umbulharjo, Kabupaten Sleman. Namun aktivitas warga di lereng Gunung Merapi itu sudah dimulai.
Di sebuah bangunan sederhana milik Kelompok Sengkut Makaryo, orang-orang berkumpul. Mereka datang silih berganti sembari menenteng wadah aluminium.
Tempat itu menjadi titik penting bagi para peternak untuk mengumpulkan susu sapi hasil perahan.
Susu dari masing-masing peternak ditimbang lebih dulu. Setelah terkumpul, pengurus kelompok segera menyetor ke Koperasi Sapi Merapi Sejahtera yang ada di wilayah itu.
Rutinitas itu berlangsung hampir setiap pagi. Dari kandang-kandang sapi di lereng Merapi, susu mengalir menjadi salah satu sumber penghasilan warga.

Dua kali sehari memerah susu sapi
Para peternak sapi perah sudah terbiasa dengan sibuknya rutinitas pagi hari. Seperti pengakuan Tari, peternak sekaligus sekretaris Kelompok Sengkut Makaryo.
Kata dia, anggota kelompoknya yang aktif menyetor susu sapi ada 15 orang. Jumlah ternaknya berbeda-beda, umumnya dua hingga empat ekor sapi perah.
Setiap hari para peternak memerah sapi dua kali. Pagi hari, proses pemerahan dilakukan setelah subuh. Susu kemudian dikumpulkan sekitar pukul 06.00 WIB. Sementara sore hari, susu kembali diperah dan dikumpulkan sekitar pukul 15.00 WIB.
Tari menyebut perkiraan produksi susu harian berbeda-beda.
“Kalau sekarang sehari dapat 15–16 liter dari satu ekor sapi,” jelas Tari saat ditemui, Minggu (9/8/2026).
Angka itu merupakan perkiraan produksi satu ekor sapi dalam sehari saat berada dalam masa produktif. Meski jika sangat produktif, satu sapi sehari bisa 20-an liter susu.
Ada masa ketika produksi susu sedang tinggi. Namun, ketika sapi mulai bunting, produksinya perlahan menurun.
“Kalau sudah bunting itu turun, turun, turun. Sampai umur 7 bulan itu nanti sudah kering berarti enggak diperas,” ujarnya.
Karena itu, jumlah susu yang dibawa setiap peternak ke tempat pengumpulan bisa berbeda dari hari ke hari.
Susu segar, rezeki setiap hari

Bagi warga, sapi perah bukan sekadar hewan ternak yang dipelihara di kandang.Ada pemasukan yang mengalir setiap kali susu berhasil diperah.
Susu yang terkumpul dari anggota kemudian dibeli koperasi dengan harga sekitar Rp7.900 per liter. Dari sana, susu dibawa untuk masuk ke proses distribusi berikutnya.
Selain disetorkan ke koperasi, Tari juga terkadang menjual susu secara eceran kepada wisatawan atau pembeli yang datang langsung.
“Kalau ngecer Rp10.000 per liter,” katanya.
Namun, susu segar bukan barang yang bisa lama-lama dibiarkan.
Tari menyebut susu dalam kondisi ruang terbuka hanya mampu bertahan sekitar tiga jam. Karena itu, proses pengumpulan hingga penjemputan harus dilakukan tepat waktu.
Budaya Beternak
Budaya beternak di kawasan tersebut juga sudah berlangsung sejak lama. Tari mengatakan, ketika masih kecil, warga di sekitar tempat tinggalnya lebih banyak memelihara sapi Jawa.
Seiring waktu, sebagian warga kemudian beralih memelihara sapi perah.
Peralihan itu membuat aktivitas beternak tidak hanya menghasilkan anak sapi, tetapi juga susu yang bisa dijual secara rutin.
“Kalau sapi perah itu kalau normal itu setiap tahun bisa beranak. Dan tiap hari bisa tiap bulan bisa bayaran susu gitu,” kata Tari.
Sapi-sapi tersebut juga membutuhkan asupan pakan yang cukup agar produksi susu tetap terjaga.
Rumput menjadi makanan utama. Peternak kemudian menambahkan konsentrat sebagai pakan tambahan. (bae)

