BACAAJA, SEMARANG– Kota Semarang punya cara baru buat merayakan keberagamannya. Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, memperkenalkan Tari Dug Dug Der sebagai karya budaya yang diharapkan menjadi identitas lokal sekaligus simbol kebersamaan warga.
Nama “Dug Dug Der” tentu nggak muncul dari ruang kosong. Tarian tersebut mengambil inspirasi dari tradisi tahunan Dugderan yang selama ini menjadi salah satu ikon budaya Semarang dan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Menurut Agustina, Semarang sejak awal memang tumbuh dari perjumpaan banyak budaya, etnis, agama, dan tradisi. Karena itu, nilai keberagaman tersebut coba diterjemahkan lewat gerakan tari. “Kota Semarang berdiri di atas keberagaman. Perbedaan bukan sesuatu yang memisahkan, tetapi kekuatan yang menyatukan,” ujarnya.
Baca juga: Semarang Pulangkan Jejak Sejarahnya
Tari Dug Dug Der juga dirancang supaya nggak eksklusif. Gerakannya dibuat mudah dipelajari dan bisa dimainkan siapa saja, mulai anak sekolah, komunitas seni, sampai masyarakat umum.
Jadi, bukan tarian yang cuma bagus ditonton lalu selesai. Pemkot Semarang ingin tarian ini benar-benar hidup di tengah masyarakat. “Budaya hanya akan tetap hidup apabila terus diwariskan dan dipraktikkan masyarakatnya,” kata Agustina.
Buat Agustina, urusan budaya juga nggak bisa dipisahkan dari pembangunan kota. Semarang yang maju bukan cuma soal jalan mulus, gedung tinggi, atau pertumbuhan ekonomi, tetapi juga soal warganya masih punya rasa persaudaraan.
Tanpa Sekat
Ketika orang dari latar belakang berbeda bisa menari bersama tanpa sekat, menurutnya, di situlah wajah Semarang yang sebenarnya terlihat: rukun, terbuka, dan menghargai perbedaan. Nggak berhenti di perkenalan, Pemkot Semarang langsung menyiapkan panggung besar untuk Tari Dug Dug Der.
Festival Tari Dug Dug Der Semarang 2026 akan digelar Minggu (9/8/2026), mulai pukul 06.00 WIB di Lapangan Pancasila Simpang Lima. Targetnya bukan kaleng-kaleng: sekitar 25 ribu penari bakal dilibatkan.
Pemilihan Simpang Lima juga punya pesan tersendiri. Sebagai salah satu ruang publik utama Semarang, kawasan ini dianggap cocok untuk memperlihatkan semangat persatuan dalam satu gerakan.
Baca juga: Semarang Unjuk Jati Diri di MTQ Nasional
Festival tersebut sekaligus diharapkan memperkuat Dugderan sebagai ikon budaya Semarang dan mendongkrak pariwisata berbasis budaya. Agustina pun mengajak warga datang bersama keluarga, teman, maupun tetangga.
Di zaman ketika perbedaan sering bikin orang gampang ribut, Semarang malah mengajak warganya melakukan hal sebaliknya: bergerak bareng. Besok Minggu, 25 ribu orang bakal “dug dug der” dalam satu irama. Semoga setelah musik berhenti, semangat rukun dan gotong royongnya nggak ikut selesai. (tebe)

