BACAAJA, SEMARANG – Sejumlah tenaga kesehatan, termasuk dokter, ramai-ramai menyampaikan permintaan maaf setelah komentar mereka terhadap pasien BPJS, Yurizal Tri Chaerawan, menuai kecaman publik.
Sebelumnya, Yurizal sempat viral usai mengeluhkan harus menunggu hingga delapan jam untuk mendapatkan ruang rawat inap.
Alih-alih mendapat simpati, ia justru dihujani komentar pedas dari sejumlah akun yang diduga milik tenaga kesehatan. Belakangan, Yurizal dikabarkan meninggal dunia.
Bacaaja: Sebelum Meninggal, Yurizal Paisen BPJS Dibully Nakes setelah Keluhkan Antrean Ruang Perawatan
Bacaaja: Viral Keluhan Pasien BPJS Ditanggapi Sadis Dokter hingga Korban Meninggal, RSUP dr Sardjito Buka Suara
Salah satu yang menyampaikan permintaan maaf adalah dokter Elda Putri Rahardini. Melalui surat pernyataan yang diunggah di media sosial pada Selasa (4/8/2026), ia mengakui komentarnya tidak pantas dan tidak mencerminkan etika profesi.
“Saya mengakui sepenuhnya bahwa komentar yang saya tuliskan melalui akun media sosial saya beberapa waktu lalu sangatlah tidak pantas, tidak etis, dan menunjukkan ketiadaan empati,” tulis Elda.
Ia juga menyatakan komentarnya tidak mencerminkan sumpah profesi kedokteran maupun nilai kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi. Elda turut menyampaikan belasungkawa kepada keluarga almarhum Yurizal.
Permintaan maaf serupa juga disampaikan Norma Zahara. Dalam unggahan klarifikasinya, ia meminta maaf kepada keluarga Yurizal dan masyarakat atas komentar yang menghina almarhum.
Norma mengaku khilaf saat menggunakan media sosial dan menegaskan akan lebih berhati-hati agar kejadian serupa tidak terulang. Ia juga menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Yurizal.
Dokter Benny C. Sihombing turut menyampaikan permintaan maaf. Ia mengaku bertanggung jawab penuh atas komentar yang ditulisnya di Threads.
“Saya juga menyampaikan turut berdukacita atas meninggalnya pemilik utas yaitu @yurizaltrich. Saya bertanggung jawab penuh atas tulisan yg saya posting dan saya siap menerima konsekuensi dari RS, IDI, MKEK, Pengadilan ataupun instansi lain,” tulisnya.
Permintaan maaf juga datang dari Widhiyarini Pangestika. Ia mengakui komentarnya tidak menunjukkan etika, empati, maupun profesionalisme sebagai tenaga kesehatan.
Selain meminta maaf kepada keluarga almarhum, Widhiyarini juga meminta maaf kepada instansi tempatnya bekerja. Ia menyatakan siap menerima konsekuensi atas tindakannya dan berjanji tidak mengulangi perbuatan serupa. (bae)

