BACAAJA, BANJARNEGARA – Ada yang berbeda di Ruang Paripurna DPRD Banjarnegara pada Senin (8/9/2025). Bukan sidang biasa, bukan pula rapat internal. Ruang itu jadi tempat di mana suara anak muda menggema, menyentuh hati, dan menggugah nurani penguasa.
Sepuluh pemuda, dengan nama gerakan Pemuda Banjarnegara Bersuara, hadir tidak sekadar untuk menyampaikan keluhan. Mereka datang membawa semangat, data, serta mimpi besar tentang masa depan Banjarnegara. Sejak pagi menjelang siang, hingga cahaya matahari mulai meredup di balik perbukitan, suara-suara itu tak surut.
Diskusi dimulai tepat pukul 10.00 WIB dan baru usai sekitar pukul 18.00 WIB. Nyaris delapan jam lamanya, suasana tetap hidup. Tidak ada amarah, tidak pula saling menyalahkan. Yang ada adalah energi dialog, saling mendengar, dan saling mengingatkan.
Para pemuda ini tidak datang dari satu kampus atau satu komunitas. Mereka adalah perwakilan dari berbagai latar belakang, namun disatukan oleh keresahan yang sama: Banjarnegara butuh langkah nyata, bukan hanya janji.
Lebih dari Sekadar Audiensi: Ini Gerakan Kesadaran
Isu yang mereka angkat bukan isu ringan. Dari krisis lingkungan, ketimpangan pertanian, jalan rusak di pelosok, hingga persoalan serius seperti rendahnya UMK dan transparansi tunjangan anggota dewan. Mereka bicara dengan data, dengan nurani, dan dengan tanggung jawab.
Salah satu wajah paling vokal dalam forum tersebut adalah Najwan Muhammad Syahbana. Ia menegaskan bahwa aspirasi ini bukan sekadar agenda sesaat. “Kita tidak datang untuk basa-basi. Kita datang karena ingin Banjarnegara maju. Kita ingin ruang ini jadi milik publik, bukan eksklusif,” ujarnya.
Najwan menyebut, semua isu yang dibawa lahir dari realitas yang mereka temui di lapangan. Dari para petani yang kesulitan air, buruh yang upahnya tak cukup, hingga mahasiswa yang menyoroti peran DPRD yang kian minim dalam pengawasan.
Komitmen Mengawal dan Menyatukan Suara Anak Muda
Najwan menegaskan bahwa perjuangan mereka tidak berhenti di forum itu. Mereka berjanji akan mengawal setiap poin yang dibahas agar benar-benar ditindaklanjuti oleh eksekutif dan legislatif. “Ini baru awal. Kami akan kawal terus,” tegasnya.
Lebih dari itu, Najwan juga mengajak pemuda Banjarnegara untuk bersatu dalam gerakan yang lebih luas. “Jangan terpecah hanya karena perbedaan pandangan atau organisasi. Hari ini kita buktikan bahwa suara kita bisa didengar jika bersatu.”
Tak sedikit dari pemuda lain yang turut hadir menyampaikan keresahan, termasuk soal perizinan tambang, akses pendidikan di desa-desa terpencil, dan maraknya proyek infrastruktur yang tak ramah lingkungan.
Sambutan Terbuka dari DPRD: “Kami Diingatkan Kembali”
Ketua DPRD Banjarnegara Anas Hidayat mengakui bahwa pertemuan itu menjadi semacam alarm moral bagi lembaga yang ia pimpin. “Kami tersentuh dan sekaligus diingatkan. Terkadang kita terlalu larut dalam birokrasi dan lupa pada amanah awal kami sebagai wakil rakyat,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa DPRD akan tetap membuka pintu selebar-lebarnya untuk publik, termasuk kelompok-kelompok pemuda. “Kami tidak anti kritik. Bahkan kritik dari anak muda justru menjadi energi bagi kami,” imbuhnya.
Menurut Anas, apa yang dilakukan 10 pemuda ini menjadi simbol harapan bahwa politik lokal masih punya ruh demokrasi yang hidup, dan Banjarnegara masih punya generasi yang peduli.
Demokrasi Tak Lagi Milik Elit, Tapi Juga Milik Pemuda
Audiensi ini memang berakhir saat langit mulai gelap. Namun, percikan semangat dari ruangan itu menyala terang hingga keluar gedung. Sebuah pelajaran penting bahwa demokrasi tidak hanya hadir lewat kotak suara lima tahun sekali, tapi juga lewat ruang dialog dan keberanian menyampaikan kebenaran.
Pemuda Banjarnegara Bersuara telah membuktikan bahwa gerakan anak muda tak selalu harus turun ke jalan. Duduk berdiskusi pun bisa sama kerasnya, sama beraninya, dan bahkan lebih berdampak ketika dilakukan dengan kedewasaan.
Apa yang mereka suarakan bukan sekadar tuntutan, tapi cinta pada tanah kelahiran. Mereka tidak datang membawa kebencian, tapi membawa harapan. Dan itu jauh lebih kuat (*)

