BACAAJA, SEMARANG – Dari 19 standar operasional prosedur (SOP) memasak dan menyajikan MBG, hanya tiga SOP yang dijalankan oleh SPPG Karangturi Semarang.
Pelanggaran berat terhadap SOP diduga keras menjadi pemicu keracunan massal MBG di SMKN 6 Semarang.
Misteri penyebab dugaan keracunan massal yang menimpa ratusan siswa SMK Negeri 6 Semarang usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) masih belum terungkap.
Bacaaja: Keracunan MBG di SMKN 6 Semarang Berbuntut Panjang, BGN Pecat 137 Kepala SPPG
Bacaaja: BGN Bekukan Operasional SPPG Karangturi, Buntut 707 Siswa-Guru SMKN 6 Semarang Keracunan
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang memastikan hasil pemeriksaan laboratorium belum selesai. Sampel makanan masih menjalani proses kultur bakteri untuk memastikan penyebab pasti insiden tersebut.
Kepala Dinkes Kota Semarang, Abdul Hakam, mengatakan proses pemeriksaan memang membutuhkan waktu sekitar 7 hingga 14 hari.
“Kalau hasil pastinya belum selesai. Sampelnya harus dibiakkan dulu untuk mengetahui apakah ada kuman atau bakteri. Jadi memang perlu pemeriksaan kultur bakteri,” ujarnya, Selasa (5/8/2026).
Beberapa menu yang diperiksa antara lain rendang, telur puyuh, dan daun singkong.
Penentuan sampel itu bukan asal pilih. Tim Dinkes lebih dulu melakukan asesmen dan wawancara kepada ratusan siswa yang mengalami gejala.
Hasilnya, sekitar 49 persen siswa mencurigai menu rendang, 40 persen menyebut telur puyuh, sementara sisanya mengarah ke daun singkong.
Meski begitu, Hakam menegaskan dugaan tersebut belum bisa dijadikan kesimpulan sebelum hasil laboratorium keluar.
Menurutnya, kasus keracunan makanan umumnya dipicu bakteri seperti Staphylococcus, Escherichia coli (E-coli), atau Salmonella. Namun, penyebab pasti dalam kasus ini masih menunggu pembuktian ilmiah.
Temuan lain yang juga menjadi perhatian adalah kondisi operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Dari hasil pemeriksaan, makanan untuk SMKN 6 Semarang diketahui mulai dimasak sejak pukul 21.00 WIB, atau jauh sebelum waktu distribusi.
Tak hanya itu, Dinkes juga menemukan SPPG tersebut baru memenuhi tiga dari total 19 standar operasional prosedur (SOP) yang seharusnya diterapkan.
SOP yang dinilai sudah berjalan meliputi distribusi makanan, penyajian kepada siswa, dan pengelolaan bahan baku.
Sementara SOP lainnya masih menjadi bagian dari evaluasi yang dilakukan tim investigasi.
Menariknya, SPPG yang sama juga memasok makanan ke sejumlah sekolah lain, termasuk PAUD, SD, serta program MBG bagi ibu hamil dan balita. Namun, hingga kini tidak ditemukan laporan kejadian serupa dari penerima manfaat lainnya.
Sebelumnya, sebanyak 707 orang, terdiri dari 693 siswa dan 14 guru SMKN 6 Semarang, mengalami gejala yang diduga akibat keracunan setelah menyantap menu MBG pada Jumat (31/7/2026).
Sebanyak 698 orang mendapat penanganan medis di sekolah, sementara 9 orang harus dirujuk ke rumah sakit dan puskesmas untuk menjalani perawatan lebih lanjut. (*)

