BACAAJA, SEMARANG – Musim kemarau di Jawa Tengah baru dimulai. BPBD Jateng menyebut puncak kemarau tahun 2026 diprediksi baru datang pada Agustus, sehingga ancaman kekeringan di sejumlah wilayah masih perlu diwaspadai.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Tengah Bergas Catursasi Penanggungan mengatakan, BPBD sudah memetakan daerah-daerah yang paling rawan terdampak kekeringan.
Dari hasil pemetaan itu, ada empat kabupaten yang dinilai paling rentan dan menjadi perhatian utama saat penyaluran bantuan air bersih.
Bacaaja: Ancaman Pangan hingga Kesehatan, Kemarau Bikin Rawan Gagal Panen dan ISPA Meningkat
Bacaaja: Langganan Bencana Kekeringan, Kini Jabungan Siapkan Strategi Baru Hadapi Kemarau
“Paling rawan kekeringan Grobogan, Blora, Rembang, Sragen,” kata Bergas, Jumat (3/7/2026).
Empat daerah itu diprioritaskan karena saat kemarau panjang, sumber air bersih warga di wilayah tersebut lebih rentan menyusut.
Karena itu, BPBD menaruh perhatian lebih pada daerah-daerah tersebut untuk mengantisipasi kebutuhan air bersih masyarakat.
Meski begitu, kondisi air baku di waduk dan bendungan sejauh ini masih relatif aman. Informasi itu diterima BPBD dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).
“Kondisi air baku di waduk atau bendungan masih dalam level aman, khususnya utk irigasi pertanian,” kata Bergas.
Sebelumnya, BPBD Jateng menyebut sudah ada 11 kabupaten/kota yang mulai melakukan dropping air bersih kepada masyarakat.
Pemprov Jateng bersama BPBD telah menyiapkan 123 juta liter air bersih untuk menghadapi potensi kekeringan tahun ini. (bae)

