BACAAJA, PURBALINGGA – Katanya warga Indonesia kental dengan semangat gotong royong dan suka membantu. Namun, peristiwa di Purbalingga ini sama sekali tak menggambarkan semangat gotong royong dan suka menolong.
Miris memang. Saat sebuah mobil pikap pengangkut telur mengalami kecelakaan di Desa Kutawis, Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga, warga yang datang malah ramai-ramai menjarah muatan telur yang berserakan.
Sementara, sang sopir dan kernet masih terjebak di dalam kabin, tak ada yang berupaya menolong dan mengevakuasi mereka.
Bacaaja: Lagi-lagi Silayur Telan Tumbal, Bocah Kecil Tewas setelah Kecelakaan Motor Vs Truk
Bacaaja: MBG Wajib Sajikan Telur dan Ayam 2 Kali Seminggu, Gus Yasin: Berdayakan Peternak Lokal
Peristiwa itu terjadi pada Minggu (28/6/2026) sekitar pukul 16.00 WIB. Mobil pikap yang dikemudikan Arif (50) terguling setelah berusaha menghindari sebuah mobil berwarna hitam yang melaju kencang dan mengambil jalur terlalu ke tengah saat melintas di tanjakan Jembatan Kali Kacangan.
Akibat kecelakaan tersebut, Arif bersama karyawannya, Romadhon (23), sempat terjebak di dalam kabin selama sekitar 30 menit sebelum akhirnya berhasil dievakuasi melalui pintu sebelah kiri.
Namun, saat keduanya masih berusaha menyelamatkan diri, muatan telur yang dibawa justru menjadi sasaran warga.
“Kami masih di dalam kabin. Warga datang katanya mau menolong, tapi nyatanya pada ngambilin telur sampai habis,” ujar Arif, dikutip dari Tribun Jateng.
Awalnya Arif mengira warga hanya membantu mengumpulkan telur yang berserakan agar tidak rusak. Kenyataannya, telur-telur yang masih utuh justru dibawa pulang. Bahkan, menurutnya, ada warga yang mengambil hingga satu peti.
“Yang tersisa di pikap hanya cangkang-cangkang telur yang pecah,” katanya.
Arif menjelaskan, mobilnya mengangkut 133 peti telur atau sekitar 1,33 ton dengan nilai mencapai Rp26 juta. Berdasarkan pengalamannya, benturan saat kecelakaan biasanya tidak membuat seluruh telur pecah.
Karena itu, ia memperkirakan telur yang masih layak jual bernilai sekitar Rp10 juta hingga Rp13 juta. Namun seluruh telur yang masih utuh raib dibawa warga.
Kekecewaan Arif bertambah setelah mendengar ada anggapan bahwa telur tersebut sudah “diikhlaskan” pemiliknya.
Saat kembali ke lokasi sehari setelah kejadian, ia mendapat informasi dari kepala dusun bahwa sebagian warga mengira telur yang berserakan boleh diambil.
Meski begitu, Arif memilih tidak memperpanjang persoalan. Sebagai pedagang yang setiap hari melintasi wilayah tersebut, ia hanya berharap warga yang membawa telur dalam jumlah banyak bersedia mengembalikannya.
“Kalau ambil satu atau dua kilogram tidak apa-apa. Tapi yang membawa sampai satu atau dua peti, tolong dikembalikan. Saya juga hanya masyarakat yang sedang usaha,” ucapnya.
Ia mengaku bersyukur karena tetap ada warga yang membantu proses evakuasi dirinya dan Romadhon. Bahkan, dua orang yang mengambil telur telah menghubunginya dan bersedia mengganti kerugian sekitar Rp260 ribu.
Saat ini Arif juga masih berkomunikasi dengan pihak desa. Kepala dusun disebut akan membantu menghubungi warga agar telur yang sempat dibawa dari lokasi kecelakaan dapat dikembalikan. (*)

