BACAAJA, SEMARANG – Puluhan kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang tergabung dalam Badan Koordinasi (Badko) HMI Jateng-DIY turun ke jalan dan menggelar aksi di depan Kantor Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah, Kamis (18/6/2026).
Mereka datang membawa satu pesan utama: jangan cuma fokus bikin angka ekonomi terlihat bagus, tapi lupa sama kondisi masyarakat yang masih ngerasa hidup makin berat.
Sepanjang aksi, massa bergantian ngasih orasi dan menyampaikan kritik soal kondisi ekonomi nasional. Mulai dari nilai tukar rupiah, daya beli masyarakat, lapangan kerja, sampai kebijakan pemerintah yang dinilai belum benar-benar nyentuh kebutuhan rakyat.
Bacaaja: Tak Ada Pejabat Temui Massa Aksi, PMII Semarang: Mengecewakan! Kami Datang Bawa Kajian
Bacaaja: Usai Jaga, Dokter Muda Undip Ikut Demo di Semarang: Harga Obat Naik saat Rupiah Lemah
Ketua Bidang Pembinaan Anggota Badko HMI Jateng-DIY, Gema Dilal, menilai langkah pemerintah menjaga stabilitas rupiah lewat kebijakan suku bunga belum cukup kalau nggak dibarengi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, ketika suku bunga naik, beban masyarakat juga ikut bertambah karena cicilan dan biaya pinjaman makin tinggi. Padahal di saat yang sama, daya beli masyarakat justru sedang melemah.
“Kalau suku bunga naik, otomatis cicilan masyarakat juga naik. Padahal saat ini daya beli masyarakat sedang turun. Yang perlu diperbaiki bukan hanya angka-angka ekonomi, tetapi bagaimana pendapatan masyarakat bisa meningkat,” kata Gema.
Ia menilai pemerintah seharusnya lebih serius mendorong kenaikan pendapatan masyarakat, membuka lapangan kerja yang layak, dan memperbaiki kesejahteraan pekerja.
Menurutnya, ukuran keberhasilan ekonomi nggak bisa cuma dilihat dari grafik atau angka statistik.
“Kami melihat masyarakat sering hanya dipandang sebagai data statistik. Padahal yang dibutuhkan adalah kebijakan yang benar-benar berdampak pada kehidupan sehari-hari masyarakat,” lanjutnya.
Dalam orasinya, Gema juga menyinggung fenomena makin banyaknya anak muda Indonesia yang memilih mencari pekerjaan di luar negeri.
Menurutnya, salah satu alasan utama adalah karena banyak generasi muda merasa peluang mendapatkan penghasilan yang layak lebih besar di luar Indonesia.
Ia menilai kondisi tersebut seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah untuk lebih serius menciptakan lapangan kerja yang berkualitas dan menjamin kesejahteraan pekerja.
Nggak cuma soal ekonomi, aksi yang mengusung tema “Reformasi Total” itu juga menyoroti arah kebijakan pemerintah yang dinilai makin tersentralisasi.
Ketua Bidang Hukum, Pertanahan, dan Keamanan Badko HMI Jateng-DIY, Billy Al Sabir, mengatakan semangat reformasi 1998 seharusnya memperkuat peran daerah, bukan justru membuat daerah semakin bergantung kepada pemerintah pusat.
“Kami melihat banyak kebijakan yang diputuskan dari pusat tanpa mempertimbangkan kondisi daerah. Padahal setiap daerah memiliki persoalan dan potensi yang berbeda-beda,” ujar Billy.
Ia mencontohkan sejumlah program nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih yang menurutnya diterapkan dengan pola yang sama di berbagai daerah. Padahal, menurut Billy, kebutuhan dan karakteristik tiap daerah tidak selalu seragam.
“Kami datang ke BI karena ingin mengingatkan bahwa persoalan ekonomi tidak bisa hanya dilihat dari angka. Yang harus dilihat adalah bagaimana dampaknya terhadap rakyat,” katanya.
Ia menilai ketika masyarakat masih kesulitan memenuhi kebutuhan hidup dan daya beli terus melemah, maka ada persoalan yang perlu dievaluasi secara serius.
Aksi berlangsung tertib dengan pengawalan aparat kepolisian. Tidak ada penutupan jalan maupun gangguan berarti terhadap aktivitas masyarakat di sekitar Kantor BI Jawa Tengah. (dul)

