BACAAJA, SEMARANG – Aksi mahasiswa PMII Kota Semarang di depan DPRD Jawa Tengah ternyata nggak cuma berisi orasi dan tuntutan politik. Massa aksi juga datang membawa hasil kajian akademik yang disusun selama hampir dua pekan oleh mahasiswa dari berbagai kampus di Kota Semarang.
Namun, upaya untuk menyampaikan kajian tersebut secara langsung kepada para pengambil kebijakan belum berjalan sesuai harapan.
Ketua Korps PMII Putri (Kopri) Kota Semarang, Fardha Nihayatul Ulum, ngungkapin bahwa mahasiswa sebenarnya ingin berdialog langsung dengan pemerintah daerah maupun DPRD Jawa Tengah.
Bacaaja: PMII Semarang Turun Jalan Soroti MBG, Isyaratkan Gelombang Demo Belum Selesai
Bacaaja: Curhat Aktivis Undip: Bangun-bangun Ditangkap Polisi, Dibilang Tolol Ikut Aksi Demonstrasi
Bahkan sebelum turun ke jalan, mereka mengaku sudah hampir dua minggu mengumpulkan data, masukan, dan hasil kajian dari 15 komisariat PMII yang tersebar di berbagai kampus.
“Kami ingin berdialog secara langsung. Sebelum aksi ini berlangsung, kami sudah hampir dua minggu mengumpulkan kajian dari 15 kampus yang ada di Kota Semarang,” ujar Fardha, Rabu (17/6/2026).
Menurutnya, kehadiran mahasiswa di depan gedung DPRD bukan untuk bikin kericuhan atau sekadar menggelar aksi simbolis. Mereka ingin menyampaikan rekomendasi dan masukan yang disusun berdasarkan hasil penelitian dan diskusi akademik.
Karena itu, Fardha mengaku cukup kecewa saat tidak ada satu pun perwakilan pemerintah maupun DPRD yang menemui massa aksi hingga demonstrasi berlangsung.
“Sampai saat ini belum ada respons dari gubernur, wakil gubernur, wali kota, wakil wali kota maupun DPR. Padahal kami datang membawa kajian dan hasil penelitian,” katanya.
Bagi PMII, dialog antara mahasiswa dan pemangku kebijakan penting dilakukan agar kebijakan yang dibuat pemerintah nggak jauh dari realitas yang dirasakan masyarakat di lapangan.
Apalagi, kata Fardha, mahasiswa berusaha datang dengan pendekatan yang berbasis data dan hasil kajian, bukan sekadar menyampaikan kritik tanpa dasar.
Karena belum mendapat kesempatan berdialog, PMII memastikan aksi kali ini belum menjadi akhir dari gerakan mereka.
Mereka mengaku masih akan menunggu ruang komunikasi dibuka. Namun jika tidak ada respons dari pihak yang dituju, aksi lanjutan berpotensi kembali digelar dalam waktu dekat.
“Kami akan menunggu sampai bisa masuk dan menyampaikan kajian kami. Kalau tidak ada tanggapan, kemungkinan akan ada aksi lanjutan,” tegasnya.
Dengan kata lain, bagi PMII, demonstrasi kemarin bukan cuma soal turun ke jalan. Mereka juga ingin memastikan hasil kajian yang disusun mahasiswa dari 15 kampus benar-benar sampai ke meja para pengambil kebijakan dan nggak berhenti sebagai tumpukan dokumen semata. (dul)

