BACAAJA, SEMARANG – Aktivis dan mahasiswa di Semarang mulai panas mesin. Usai peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, berbagai elemen masyarakat sipil dikabarkan tengah nyiapin aksi besar pada 11 Juni mendatang.
Nggak cuma soal lingkungan, aksi ini bakal bawa isu yang lebih luas: tentang makin matinya rasa keadilan di Indonesia.
Sejumlah organisasi mahasiswa, LBH, sampai kelompok masyarakat sipil disebut bakal turun bareng dalam agenda tersebut.
Aktivis dari LBH Rantai Keadilan, Evangelis Roma Situmorang, bilang persoalan yang terjadi saat ini makin kompleks dan nggak bisa dianggap sepele.
Bacaaja: Mahasiswa Internasional Ikut Nongkrong di Perpustakaan Desa Campuranom
Bacaaja: Hari Lahir Pancasila, Sekjen PDIP Tegaskan Pentingnya Kritik untuk Demokrasi Sehat
Menurutnya, banyak kasus yang sampai sekarang belum nemu titik terang. Mulai dari persoalan perempuan, konflik tanah adat, sampai masyarakat kecil yang kesulitan cari keadilan.
“Banyak sekali persoalan yang kami temui di lapangan. Ada persoalan perempuan, tanah adat, masyarakat yang kesulitan memperoleh keadilan, dan berbagai kasus lain yang membutuhkan perhatian bersama,” ujar Evangelis, Jumat (5/6/2026).
Ia mengatakan, berbagai kelompok masyarakat sipil sekarang mulai bangun komunikasi buat nyatuin suara jelang aksi 11 Juni nanti.
Mahasiswa dari berbagai kampus di Semarang juga disebut bakal ikut turun. Termasuk mahasiswa Papua yang selama ini aktif menyuarakan isu kemanusiaan dan demokrasi.
“Nanti tanggal 11 kami akan membawa isu yang lebih luas lagi, yakni tentang matinya rasa keadilan. Kami ingin mengingatkan bahwa masih banyak persoalan yang belum terselesaikan di negeri ini,” katanya.
Sementara itu, Aris Petege dari Aliansi Mahasiswa Papua Semarang memastikan pihaknya siap gabung dalam aksi tersebut.
Menurut Aris, persoalan yang terjadi di Papua juga jadi bagian dari isu keadilan yang harus terus diperjuangkan bersama.
“Kami melihat masih banyak persoalan yang membutuhkan perhatian. Karena itu solidaritas antar mahasiswa dan masyarakat sipil perlu terus diperkuat,” ujarnya.
Aris juga berharap ruang demokrasi tetap terbuka dan masyarakat masih bisa menyampaikan kritik tanpa rasa takut.
“Kami ingin semua suara bisa didengar. Itu yang menjadi harapan kami ke depan,” tambahnya.
Aksi 11 Juni mendatang diprediksi bakal jadi salah satu konsolidasi besar mahasiswa dan aktivis di Semarang dengan membawa beragam isu sosial, demokrasi, dan keadilan yang belakangan makin ramai dibahas publik. (*)

