BACAAJA, SEMARANG – Di tengah ratusan mahasiswa yang menggelar aksi demonstrasi di depan DPRD Jawa Tengah, ada satu sosok yang cukup mencuri perhatian.
Namanya Caraka Adhika, seorang dokter muda atau koas dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip). Di sela kesibukannya menjalani pendidikan klinik, ia memilih ikut turun ke jalan untuk menyuarakan keresahan yang menurutnya juga dirasakan banyak anak muda.
Caraka mengaku ada beberapa isu yang membuatnya memutuskan ikut bergabung dalam aksi tersebut. Salah satunya terkait semakin terbukanya peluang aparat aktif menduduki jabatan sipil.
Bacaaja: Kunci Rupiah Mau Bangkit? Guru Besar Undip Bilang MBG dan KDMP Harus Dievaluasi
Bacaaja: PMII Semarang Turun Jalan Soroti MBG, Isyaratkan Gelombang Demo Belum Selesai
Menurutnya, kondisi itu perlu menjadi perhatian karena dikhawatirkan bisa mengarah pada praktik yang pernah terjadi di masa lalu.
“Kekhawatiran saya adalah ketika aparat menduduki jabatan-jabatan sipil. Takutnya kembali seperti masa dwifungsi ABRI,” ujarnya, Rabu (17/6/2026).
Selain soal demokrasi dan tata kelola pemerintahan, Caraka juga ngungkapin kekhawatirannya terhadap kondisi ekonomi yang menurutnya punya dampak langsung ke sektor kesehatan.
Ia menyoroti melemahnya nilai tukar rupiah yang bisa berimbas pada harga obat-obatan di Indonesia.
Pasalnya, hingga saat ini industri farmasi nasional masih cukup bergantung pada bahan baku impor dari luar negeri.
“Kalau rupiah melemah, harga obat juga ikut naik. Karena banyak obat di Indonesia yang masih bergantung pada impor,” katanya.
Bagi Caraka, persoalan ekonomi bukan sekadar angka-angka yang muncul dalam laporan pemerintah. Dampaknya bisa langsung terasa di ruang pelayanan kesehatan dan akhirnya dirasakan pasien.
Sebagai dokter muda yang sedang menjalani pendidikan profesi, Caraka mengaku memang tidak berada di posisi yang bisa menentukan arah kebijakan ekonomi nasional.
Namun ia menilai penggunaan anggaran negara harus benar-benar diperhitungkan agar manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
Dalam praktik sehari-hari, kata dia, tenaga kesehatan sering kali harus mencari pilihan pengobatan yang tetap efektif tetapi lebih terjangkau bagi pasien.
Salah satunya dengan memanfaatkan obat generik yang kualitas dan manfaatnya setara, namun memiliki harga yang lebih ramah di kantong.
Menurut Caraka, langkah-langkah seperti itu sering dilakukan agar masyarakat tetap bisa mendapatkan layanan kesehatan tanpa terbebani biaya yang terlalu tinggi.
Caraka juga menepis anggapan bahwa dirinya ikut aksi hanya karena ajakan teman atau organisasi tertentu.
Ia menegaskan keputusan turun ke jalan lahir dari kesadaran pribadi sebagai warga negara yang merasa perlu ikut menyampaikan pendapat.
“Bukan karena diajak. Saya memang merasa perlu ikut menyampaikan keresahan sebagai warga negara,” ujarnya.
Kehadiran Caraka menunjukkan bahwa kritik terhadap berbagai kebijakan publik nggak cuma datang dari aktivis mahasiswa atau organisasi kemahasiswaan.
Di tengah aksi yang berlangsung, suara serupa juga muncul dari kalangan calon profesional muda yang nantinya akan terjun langsung melayani masyarakat, termasuk di sektor kesehatan. (dul)

