BACAAJA, SEMARANG- Ruang Fraksi PDIP DPRD Kota Semarang yang biasanya dipenuhi pembahasan politik mendadak berubah haru, Rabu, (17/6/2026) siang.
Tangis seorang ibu tak terbendung saat menceritakan kondisi putranya yang diduga menjadi korban perundungan dan pengeroyokan oleh tiga kakak kelasnya di toilet sekolah. Cerita itu membuat suasana ruangan mendadak sunyi.
Ristia, ibu dari KAA, datang mengadu dan meminta pendampingan kepada Fraksi PDIP Kota Semarang. Ia diterima langsung oleh tim Komisi D, yakni Michael, Lely Purwandari, dan Kusrin.
Baca juga: Titip Anak Masuk Sekolah? RAW: Maaf, Kursinya Nggak Bisa Ditambah Kayak Bangku Hajatan
Dengan suara bergetar, Ristia mengisahkan bagaimana anaknya pulang dalam kondisi penuh luka. Menurutnya, anaknya mengalami lebih dari delapan titik memar yang tersebar di kepala, wajah, dada, perut, tangan hingga kedua kakinya. Sejumlah luka bahkan tampak membiru akibat dugaan aksi kekerasan yang dilakukan tiga kakak kelasnya.
Tangis Ristia kembali pecah saat menceritakan kronologi kejadian. Ia mengaku sangat terpukul, terlebih karena merasa pihak sekolah terlambat memberikan informasi kepada keluarga mengenai insiden yang dialami putranya.
Di hadapan anggota Komisi D, Ristia juga memperlihatkan sejumlah foto yang menunjukkan kondisi tubuh anaknya setelah kejadian. Foto-foto tersebut memperlihatkan memar di beberapa bagian tubuh korban yang diduga akibat aksi perundungan tersebut.
Penyelesaian Kasus
Melalui pengaduan itu, Ristia berharap Fraksi PDIP Kota Semarang dapat membantu mengawal proses penyelesaian kasus, menjadi jembatan komunikasi antar pihak, sekaligus memastikan keadilan bagi putranya. Ia juga berharap kejadian serupa tidak lagi menimpa siswa lain di lingkungan sekolah.
Menanggapi laporan tersebut, anggota Komisi D DPRD Kota Semarang dari Fraksi PDIP, Michael menegaskan pihaknya serius mengawal dugaan kasus perundungan (bullying) yang terjadi di salah satu SMP swasta ternama di Semarang tersebut. Dalam waktu dekat, Fraksi PDIP berencana mendatangi pihak sekolah untuk meminta penjelasan sekaligus memperjuangkan hak-hak korban.
Baca juga: Dapur Marhaen Diserbu Warga, Ojol hingga Kurir Antre Makan Gratis di Kantor PDIP Jateng
Ketua Fraksi PDIP Kota Semarang Rahmulyo Adi Wibowo atau yang akrab disapa RAW disebut telah bergerak cepat dengan menjalin koordinasi bersama Polrestabes Semarang, Dinas Pendidikan Kota Semarang, serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang.
Menurut Michael, Fraksi PDIP berkomitmen mengawal kasus tersebut hingga seluruh proses berjalan secara adil dan memberikan kepastian bagi korban maupun keluarganya.
Sekolah selalu disebut sebagai rumah kedua bagi anak. Tapi ketika seorang siswa justru pulang membawa luka, lalu seorang ibu harus mencari keadilan hingga ke gedung DPRD, mungkin yang perlu dievaluasi bukan hanya pelaku. Sebab pendidikan seharusnya mengajarkan keberanian melindungi, bukan sekadar keberanian meminta maaf setelah semuanya terlambat. (tebe)

