BACAAJA, SEMARANG- Nilai tukar rupiah yang terus tertekan mulai memunculkan pertanyaan lama: apakah Indonesia sedang menuju krisis seperti 1998? Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Undip, Sugiyanto menilai, tanda-tanda tekanan ekonomi memang sudah terlihat, meski situasinya belum sama dengan 28 tahun lalu.
Pada perdagangan Jumat (12/6/2026) pagi, rupiah berada di level Rp17.930 per dolar AS. Posisinya masih belum benar-benar beranjak dari keterpurukan. Sugiyanto mengatakan, jika melihat kondisi ekonomi saat ini, pelemahan rupiah memang sudah menunjukkan sinyal yang perlu diwaspadai.
Namun, ia belum melihat potensi krisis 1998 terjadi dalam waktu dekat karena pola yang terjadi berbeda. “Kalau selama ini memang sudah jauh melemah. Tapi apakah akan sampai pada kondisi 98, kelihatannya dalam waktu pendek belum karena model gerakannya berbeda dari dampak ke sosial,” kata Sugiyanto.
Baca juga: Ketika Dolar Naik, Jangan Biarkan UMKM Berjuang Sendiri
Menurutnya, yang menarik, kondisi ekonomi dan politik saat ini berjalan tidak searah. Dari sisi ekonomi, berbagai indikator sudah mulai menunjukkan tekanan, sementara situasi politik masih terlihat relatif tenang.
“Seolah-olah ini kan krisis ekonomi tapi politiknya seolah-olah belum,” ujarnya. Sugiyanto menilai pemerintah masih percaya diri menghadapi situasi tersebut karena belum muncul gerakan sosial yang besar di masyarakat. Di sisi lain, partai-partai politik juga dinilai masih berada dalam posisi yang nyaman.
Hubungan Antarpartai
“Pemerintah masih seenaknya aja mengubah-ubah aturan. Seolah-olah pemerintah meyakini betul bahwa rakyat tidak bergerak,” katanya. Ia bahkan menduga kondisi politik yang stabil saat ini dipengaruhi oleh hubungan antarpartai yang sama-sama memperoleh keuntungan dari situasi yang ada.
Namun, kondisi tersebut bisa berubah jika beban ekonomi masyarakat semakin berat. “Yang nanti tidak terkontrol kalau rakyat itu merasa betul-betul berat,” ujar Sugiyanto.
Menurutnya, potensi krisis politik bisa muncul ketika tekanan ekonomi semakin membesar dan langsung dirasakan masyarakat luas. “Jadi tampaknya politik nanti akan menjadi krisis ketika ekonomi semakin parah,” katanya.
Baca juga: Terburuk Sepanjang Sejarah! Rupiah Makin Lemah, Jebol Rp18.000 per Dolar AS
Sugiyanto berharap pemerintah segera mengambil langkah yang mampu memulihkan kepercayaan pasar dan memperbaiki kondisi ekonomi. Sebab, jika tekanan terhadap rupiah, inflasi, dan daya beli terus berlanjut, dampaknya bisa meluas ke sektor sosial maupun politik.
Ekonomi sudah berkali-kali mengirim notifikasi darurat, tapi politik masih seperti ponsel yang diaktifkan mode senyap. Pertanyaannya bukan lagi apakah alarmnya berbunyi, melainkan sampai kapan semua orang memilih tombol “ingatkan saya nanti”. (bae)

