BACAAJA, SEMARANG- Menguatnya dolar AS dan melemahnya rupiah mulai dirasakan para pelaku usaha kecil. Bukan hanya perusahaan besar, para pedagang makanan dan minuman juga mengaku harus menghadapi kenaikan biaya produksi yang terjadi perlahan dalam beberapa waktu terakhir.
Syauqibillah (22), penjual risol di sekitar Muladi Doom, Tembalang menjadi salah satu pedagang yang merasakan dampaknya. Menurutnya, beberapa kebutuhan usaha yang biasa dibeli kini mengalami kenaikan harga, mulai dari kemasan hingga bahan baku.
“Yang paling terasa itu kemasan. Dulu styrofoam masih sekitar Rp300, mika sekitar Rp400. Sekarang dua-duanya sudah tembus Rp500,” ujar Syauqi, Senin (8/6/2026).
Tak hanya itu, harga tepung yang menjadi bahan utama pembuatan risol juga ikut naik. Syauqi mengaku sebelumnya biasa menggunakan tepung dengan kualitas lebih baik. Namun karena harga terus merangkak naik, ia terpaksa beralih ke produk yang lebih murah agar biaya produksi tetap terkendali.
Baca juga: Terburuk Sepanjang Sejarah! Rupiah Makin Lemah, Jebol Rp18.000 per Dolar AS
“Dulu saya pakai yang harganya sekitar Rp8.500 per kilo, sekarang sudah Rp10 ribu. Akhirnya saya ganti ke yang lebih murah. Memang ada pengaruh ke kualitas, tapi kalau tidak begitu ya susah juga,” katanya.
Meski biaya produksi meningkat, Syauqi belum berani menaikkan harga jual risolnya. Ia memilih memangkas keuntungan demi menjaga pelanggan tetap membeli produknya. “Kalau harga dinaikkan takut pembeli berkurang. Jadi sementara saya tahan dulu. Untungnya memang lebih sedikit, tapi usaha tetap harus jalan,” tuturnya.
Cerita serupa juga datang dari Raihan Kusuma Hakim, pedagang minuman dan makanan ringan yang sama-sama berjualan di sekitar Muladi Doom. Menurutnya, kenaikan harga paling terasa justru terjadi pada kemasan plastik.
Lebih Terasa
“Kalau yang paling bikin berat itu plastik. Naiknya jauh lebih terasa dibanding bahan lain,” ujarnya. Karena biaya kemasan terus meningkat, Raihan akhirnya menaikkan harga beberapa minuman yang dijual. Namun untuk makanan, ia masih berusaha mempertahankan harga lama.
“Saya masih jual tahu goreng Rp1.000 per buah. Yang naik cuma minuman karena memang kemasannya yang mahal. Mau tidak mau harus menyesuaikan,” katanya.
Meski banyak kabar soal kenaikan harga bahan pangan, Raihan mengaku hingga saat ini harga tahu yang menjadi salah satu bahan dagangannya masih relatif stabil. “Kalau di tempat saya, tahu masih aman. Yang paling terasa memang kemasan plastik itu,” ujarnya.
Baik Syauqi maupun Raihan mengaku tidak bisa memastikan secara langsung kaitan antara menguatnya dolar dengan kenaikan harga yang mereka rasakan. Namun mereka menduga kondisi tersebut turut memengaruhi harga bahan baku dan kebutuhan produksi di pasaran.
Baca juga: Rakyat Gak Pakai Dolar, tapi Harga Menu Makanan di Warteg Semarang Melonjak
Sebagai pelaku usaha kecil, keduanya hanya berharap kondisi ekonomi bisa lebih stabil sehingga biaya produksi tidak terus melonjak. “Harapannya ya semoga usaha tetap bisa bertahan. Karena kalau biaya naik terus sementara harga jual tidak bisa ikut naik, yang berat ya pelaku usaha kecil seperti kami,” kata Syauqi.
Di tengah situasi yang serba tidak pasti, banyak pedagang kecil memilih bertahan dengan cara mengurangi keuntungan daripada kehilangan pelanggan. Bagi mereka, menjaga usaha tetap hidup menjadi prioritas utama, meski harus mengorbankan sebagian pendapatan yang seharusnya bisa diperoleh.
Konsumen sering mengeluh saat harga jajanan naik seribu rupiah. Padahal sebelum sampai ke titik itu, banyak pelaku UMKM sudah lebih dulu mengalah. Mereka mengganti bahan yang lebih murah, memangkas keuntungan, bahkan menahan kenaikan harga selama mungkin. Karena di dunia usaha kecil, yang paling mahal ternyata bukan tepung atau plastik, melainkan kehilangan pelanggan yang sudah susah payah dipercaya. (dul)

