BACAAJA, PEKALONGAN – Kasus dugaan pencabulan dan kekerasan seksual di sebuah padepokan di Pekalongan bikin geger warga. Setelah pengasuh padepokan ditangkap polisi, puluhan santriwati langsung dijemput orang tua mereka dan memilih pulang dari tempat tersebut.
Video suasana penjemputan santriwati itu viral di media sosial setelah diunggah akun Instagram @feedgramindo. Dalam video, para santriwati terlihat membawa tas dan barang bawaan masing-masing sambil menunggu keluarga datang menjemput.
Suasana di lokasi tampak penuh kepanikan dan kebingungan. Beberapa santriwati pulang menggunakan sepeda motor bersama orang tua dan wali mereka.
Bacaaja: Pengakuan Getir Ayah Korban Ashari Pati: Anak Dipondokin Biar Pinter, Malah Dilecehin Kiai
Bacaaja: Kiai Ashari Pati Buron: Polisi Kemarin Gak Nahan Katanya Kooperatif, Sekarang Sibuk Nyari
Kasus ini terjadi di Padepokan Padang Ati yang berada di Simbangkulon, Buaran, Pekalongan.
Polisi sebelumnya mengamankan pengasuh padepokan bernama Abdul Khalim Fadlun terkait dugaan pencabulan terhadap sejumlah santriwati.
Penangkapan dilakukan usai kasus tersebut ramai dibicarakan publik, termasuk setelah muncul pengakuan salah satu mantan santriwati yang sebelumnya viral karena mengaku hamil usai berhubungan lewat mimpi.
Saat ini, Polresta Pekalongan Kota menyebut sudah ada enam korban yang menjalani pemeriksaan. Para korban berusia antara 17 sampai 25 tahun.
Kapolres Pekalongan Kota, AKBP Riki Yariandi, mengatakan jumlah korban diduga bisa bertambah karena masih banyak yang belum berani melapor.
“Kami juga membuka kemungkinan adanya tambahan korban lain karena dugaan korban disebut lebih dari 25 orang,” ujarnya, Jumat (29/5/2026).
Sebelum penangkapan terjadi, suasana di padepokan sempat memanas setelah sekelompok massa dari organisasi masyarakat Yakuza Maneges mendatangi lokasi dan meminta pimpinan padepokan bertanggung jawab.
Dalam aksi itu, sejumlah mantan santriwati juga disebut memberikan kesaksian di depan para santri lain supaya korban berani bicara dan melapor ke polisi.
Juru bicara kelompok massa, Eko Ebes, mengatakan pihaknya menerima banyak aduan dari korban. Namun sampai sekarang baru enam orang yang resmi membuat laporan.
Kasus ini kini masih ditangani polisi dan pemeriksaan terhadap korban maupun pihak terkait terus berlangsung. (*)

