BACAAJA, SEMARANG- Pemkot Semarang bergerak cepat menangani kasus tragis yang menimpa siswi kelas 2 SMP berinisial T, korban pembakaran oleh pamannya sendiri di kawasan Tambakmulyo, Semarang Utara.
Atas arahan Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, jajaran kecamatan langsung turun tangan. Camat Semarang Utara, Siwi Wahyuningsih bersama pihak kelurahan langsung koordinasi lintas instansi, mulai dari DP3A, Dinas Sosial, hingga Rumah Sakit Umum Daerah KRMT Wongsonegoro (RSWN).
Baca juga: Miris, Ratusan Perempuan dan Anak di Jateng Alami Kekerasan pada 2025
Langkah ini diambil buat memastikan korban dapat perlindungan maksimal sekaligus penanganan medis yang layak, apalagi sebelumnya sempat ada kendala biaya pengobatan.
“Kami langsung lakukan atensi dan intervensi. Karena korban masih di bawah umur, kami koordinasi dengan DP3A untuk perlindungan perempuan dan anak,” ujar Siwi, Rabu (22/4/2026).
Pendampingan Intensif
Proses penanganan diawali dengan pendampingan intensif dan asesmen kondisi korban bersama DP3A. Diketahui, sebelumnya korban sempat dibawa ke rumah sakit swasta, tapi akhirnya dipulangkan karena keterbatasan biaya.
Melihat kondisi tersebut, pihak kecamatan bersama DP3A langsung mengambil langkah cepat dengan merujuk korban ke RSWN agar bisa mendapat perawatan lebih intensif.
“Karena tidak bisa di-cover BPJS di rumah sakit sebelumnya, akhirnya kita bantu dan kirim ke RSWN untuk pengobatan lebih lanjut,” jelasnya. Dari hasil pemeriksaan, korban mengalami luka bakar sekitar 30 persen, terutama di bagian lengan kanan hingga punggung. Kondisi ini cukup serius dan rentan infeksi, sehingga butuh penanganan medis ekstra.
Baca juga: Aniaya Anak Sambil Rekam, Ayah Kandung Bejat Diciduk Polisi
Selain perawatan medis, Dinas Sosial juga turun tangan dengan memberikan bantuan logistik berupa sembako untuk membantu keluarga korban selama masa pemulihan.
Di saat seharusnya rumah jadi tempat paling aman, justru jadi sumber luka paling dalam. Negara boleh gercep setelah kejadian, tapi pertanyaan yang nggak kalah penting: kenapa rasa aman di dalam rumah masih sering kalah cepat dibanding datangnya tragedi? (tebe)

