BACAAJA, SEMARANG- Sebanyak 17 band dan 12 bassist resmi melaju ke babak final kompetisi musik yang digelar Christopherus Music School. Acaranya bakal digelar pada Sabtu-Minggu, 18-19 April 2026 di Uptown Mall BSB, Semarang, dan dipastikan bukan sekadar ajang tampil, tapi pembuktian diri.
Para finalis ini bukan hasil “asal pilih”. Mereka lolos seleksi online yang dikurasi langsung oleh deretan juri yang nggak main-main: Gilang NR, Berry Likumahua, Amos Cahyadi, dan Steve Handoyo yang juga jadi ketua panitia.
Baca juga: Bukan Sekadar Kompetisi, Christopherus Music School Cari Musisi Berkelas
Menurut Steve, penilaian nggak cuma soal siapa paling rame di panggung. “Ada beberapa aspek yang jadi penentu: teknik bermain, aransemen musik, kekompakan, sampai ekspresi dan penjiwaan,” ucap Steve. Jadi ya, bukan sekadar tampil keren, tapi harus “kerasa”.
Menariknya, peserta nggak cuma dari Semarang. Ada juga yang datang dari Kudus, Yogyakarta, Sukoharjo, Temanggung, Tegal, sampai Surabaya. Artinya, ini bukan sekadar lomba lokal, tapi udah naik level jadi ajang regional yang serius.
Daftar Finalis
Deretan band yang bakal tampil di antaranya Soulvegio, Philia, Lohjinawi, ONE, Summer Day, Arpegio, Bukak Titik Jazz, Bahterra, Shosha X, SyncFive, Sudden, Anonymous, Nawasena, Omo, Harmony Junction, hingga Kalam Kudus. Line-up yang cukup buat bikin telinga kerja lembur.
Nggak cuma lomba, acara ini juga dikemas kayak mini festival. Ada penampilan siswa, line dance, UMKM, sampai karaoke interaktif buat yang pengen “unjuk suara dadakan”. Plus, total hadiah yang disiapkan tembus puluhan juta rupiah, lumayan banget buat nambah semangat.
Baca juga: Dari 5 Jadi 3, Tapi Ceritanya Makin Dalam: “Reuni” Bukan Sekadar Lagu Comeback
Lewat event ini, Christopherus Music School pengen ngirim pesan yang cukup nyeletuk: Semarang itu bukan “kuburan seni”. Justru, di sini banyak bibit musisi yang lagi tumbuh dan siap nunjukin kalau mereka bukan cuma jago viral, tapi juga punya kualitas.
Karena di era semua orang bisa viral dalam semalam, mungkin yang lebih langka sekarang bukan popularitas, tapi konsistensi dan kualitas. Dan dari panggung ini, Semarang lagi nyoba bilang: “Tenang, kami nggak mati, cuma lagi nyetel ampli.” (tebe)

