BACAAJA, JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lagi-lagi jadi perhatian. Kali ini, ada 49 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang kena suspend alias dihentikan sementara operasionalnya. Penyebabnya? Belum memenuhi standar yang sudah ditetapkan.
Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menjelaskan langkah ini bukan bentuk hukuman semata, tapi bagian dari evaluasi besar-besaran. Fokusnya jelas: higienitas, keamanan pangan, dan kepatuhan prosedur operasional.
“Total ada 49 SPPG yang kami suspend. Ini bagian dari pembenahan dan pengawasan,” ujar Dadan dalam keterangannya di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Meski begitu, kabarnya nggak melulu soal penghentian. Dari puluhan yang disetop, empat SPPG sudah boleh beroperasi lagi setelah dinyatakan lolos evaluasi. Lokasinya tersebar di Bengkulu, Kalimantan Selatan, dan Papua.
Menurut Dadan, mekanisme suspend ini diterapkan kalau ditemukan ketidaksesuaian—mulai dari kualitas bahan baku, proses pengolahan, sampai standar keamanan pangan. Jadi, bukan asal tutup, tapi ada catatan yang harus dibereskan dulu.
Selama masa suspend, setiap SPPG wajib melakukan perbaikan menyeluruh. Setelah semua poin dipenuhi dan dicek ulang, barulah bisa kembali melayani penerima manfaat program MBG.
Langkah ini jadi sinyal kalau pengawasan program gizi nggak main-main. Di satu sisi, memang ada dapur yang harus berhenti dulu. Tapi di sisi lain, kualitas dan keamanan makanan buat masyarakat tetap jadi prioritas utama. (*)


