BACAAJA, SEMARANG – Ancaman pergerakan tanah masih jadi kekhawatiran warga Kampung Deliksari, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Utamanya tiap musim hujan datang.
Meski kondisi ini sudah berlangsung bertahun-tahun, sebagian besar warga tetap memilih bertahan di kampung tempat mereka tinggal sejak lama.
Triastono (44), warga RT 05/RW 06 Deliksari, mengatakan persoalan tanah labil di wilayahnya bukan hal baru. Ia bahkan mengingat fenomena tanah gerak di kampungnya sudah terjadi sejak dirinya masih kecil.
Bacaaja: Longsor Ancam Akses Warga Gunungpati, Jembatan Deliksari Nyaris Ambruk
Bacaaja: Ngeri! Detik-detik Bangunan Ponpes Al Adalah Ambruk Ditelan Tanah Gerak di Tegal
“Kalau musim hujan, tanah di sini seperti bubur. Bagian atasnya kelihatan keras, tapi dalamnya gembur. Jadi kalau hujan deras, tanah bisa bergerak pelan-pelan,” ujarnya saat ditemui, Rabu (11/02/2026).
Menurutnya, sekitar tahun 2018 sejumlah rumah sempat mengalami kerusakan akibat pergerakan tanah. Bahkan, belum lama ini beberapa rumah pada titik lain di Deliksari juga terdampak hingga bagian belakang bangunan roboh.
Tak hanya rumah, jalan utama yang menjadi akses warga juga sering retak dan ambles. Kondisi ini hampir selalu terulang setiap musim hujan tiba.
Meski wilayah tersebut disebut berada di jalur patahan berdasarkan penelitian, Triastono menilai penyebab utamanya bukan gempa, melainkan kondisi tanah yang memang labil.
“Kalau kemarau tanah keras, tapi begitu hujan ya lembek. Jadi setiap musim hujan pasti ada saja jalan rusak atau rumah kena dampak,” katanya. Rabu (11/02/2026).
Warga sebenarnya sudah berupaya mengurangi risiko longsor, salah satunya dengan menanam pohon sebelum musim hujan datang. Bibit tanaman biasanya merupakan bantuan dari kampus maupun instansi lain.
Harapannya, pohon-pohon itu bisa membantu menyerap air dan menahan pergerakan tanah. Namun, dampaknya memang tidak bisa langsung dirasakan dalam waktu singkat.
Meski tinggal di kawasan rawan bencana, banyak warga tetap enggan pindah. Selain lahan yang mereka tempati sudah bersertifikat, lokasi Deliksari juga dianggap cukup strategis karena dekat dengan pusat kota.
Tarman (48) juga menambahkan alasan warga tetap bertahan di kampung tersebut.
“Kalau disuruh pindah berat. Tanah sudah sertifikat semua, akses ke kota juga dekat. Jadi warga tetap memilih tinggal di sini,” ujarnya Rabu (11/02/2026).
Ia juga mengenang masa ketika wilayah Deliksari belum memiliki fasilitas memadai. Warga dulu harus berjalan cukup jauh untuk mendapatkan air bersih. Kini kondisi perlahan membaik dengan masuknya jaringan air, listrik, hingga internet.
Saat ini, harapan warga tertuju pada perbaikan infrastruktur, terutama jalan utama yang sering rusak akibat pergerakan tanah. Meski bantuan pemerintah beberapa kali datang, kerusakan serupa kerap muncul kembali setelah beberapa tahun.
“Pemerintah sebenarnya selalu membantu. BPBD juga sering survei. Tapi karena kondisi tanahnya begitu, dua tahun kemudian longsor lagi,” katanya. Rabu (11/02/2026).
Meski begitu, warga tetap berupaya menjaga kampungnya agar tetap aman dan layak dihuni.
“Kita sebagai warga tetap berusaha yang terbaik untuk Deliksari,” tutup Triastono. (dul)


