Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: 100 Hari Wafatnya KH Imam Aziz: Mengenang Sosok Kiai Rakyat
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

100 Hari Wafatnya KH Imam Aziz: Mengenang Sosok Kiai Rakyat

Mengenang sosok KH Imam Aziz (Mbah Dukuh), melalui dua buku dan cerita para sahabat.

R. Izra
Last updated: Oktober 19, 2025 2:37 pm
By R. Izra
5 Min Read
Share
Bedah buku di Pesantren Bumi Cendekia, Sleman, DIY, dalam rangaka mengenang sosok KH Imam Aziz.
Bedah buku di Pesantren Bumi Cendekia, Sleman, DIY, dalam rangaka mengenang sosok KH Imam Aziz.
SHARE

BACAAJA, SLEMAN — Semasa hidupnya, KH Muhammad Imam Aziz dikenal sebagai pembela gigih kemanusiaan. Sosok penting di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) ini tak hanya seorang kiai yang lahir dari rahim pesantren, tetapi juga intelektual organik yang kerap turun langsung ke masyarakat untuk melakukan advokasi.

Lahir di Pati, Jawa Tengah, pada 29 Maret 1962, Imam Aziz merupakan putra pasangan KH Abdul Aziz Yasin dan Hj Fathimah. Jejak kekiaiannya lengkap setelah ia mendirikan Pondok Pesantren Bumi Cendekia di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, bersama para sahabatnya.

Sosok yang akrab disapa Mas Imam — atau Mbah Dukuh oleh kalangan dekatnya — wafat pada Sabtu, 12 Juli 2025, di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, dalam usia 63 tahun.

Tepat seratus hari kepergiannya, para sahabat dan murid mengenang beliau melalui peluncuran dua buku yang merekam jejak hidup dan pemikirannya sebagai “Kiai Rakjat”.

Acara bertajuk “Launching dan Diskusi Buku: Mengenang KH Imam Aziz” digelar di Pesantren Bumi Cendekia, Gombang, Sleman, pada Jumat (17/10).

Dua buku yang diperkenalkan berjudul “Jejak Kiai Rakjat (KH Imam Aziz dalam Kenangan)” dan “Sik Apik Dianggo, Sik Elek Diguang (Teologi Rekonsiliasi Gerakan Sosial dan NU Masa Depan)”.

Buku pertama berisi kisah dan kenangan dari para sahabat, murid, serta keluarga. Sementara buku kedua merupakan kumpulan tulisan Imam Aziz — mulai dari masa mudanya hingga menjelang akhir hayat.

“Saat seratus hari beliau wafat, banyak tulisan kenangan bertebaran di media sosial. Dari situ kami merasa perlu mengumpulkannya agar tidak hilang begitu saja,” ujar Heru Prasetia, penyunting buku sekaligus murid KH Imam Aziz.

Heru menilai, kedua buku ini menjadi dokumentasi penting bagi generasi muda untuk memahami cara berpikir dan semangat kebangsaan almarhum.

“Kalau ingin mengenal Mas Imam secara utuh, dua buku ini bisa jadi pintu awal,” tambahnya.

Menjembatani Tradisi dan Modernitas

Dalam sesi diskusi, I Made Supriatma, antropolog sekaligus sahabat lama KH Imam Aziz, menyebut almarhum sebagai sosok yang mampu menjembatani tradisi dan modernitas tanpa kehilangan akar budaya.

“Mas Imam mencintai tradisi bukan untuk dipertahankan secara kaku, tapi dijadikan sumber inspirasi agar kita bisa menjadi modern tanpa tercerabut dari akar,” ujarnya.

Menurut Made, Imam Aziz adalah figur moral yang selalu gelisah setiap kali melihat ketidakadilan.

“Mas Imam kelihatannya tenang, tapi di dalamnya ada nilai yang kokoh — moralitas yang tidak tergoyahkan,” katanya.

Sementara itu, Arif Aris Mundayat, dosen antropologi dari Universitas Sebelas Maret (UNS), menilai karya-karya Imam Aziz sebagai manifesto moral seorang ulama yang menulis dengan ketulusan.

“Beliau menulis bukan sekadar refleksi intelektual, tetapi dari kedalaman hati,” ujar Arif.

Ia menambahkan, pemikiran Imam Aziz tentang teologi rekonsiliasi merupakan ajakan untuk menyembuhkan luka sosial dan sejarah bangsa dengan pendekatan kemanusiaan, bukan sekadar politik.

“Mas Imam mengajak kita membangun rekonsiliasi berbasis hati,” imbuhnya.

Sahabat sekaligus rekan seperjuangannya, Alissa Wahid, mengenang Imam Aziz sebagai pribadi yang rendah hati dan jauh dari sorotan.

Putri KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang kini menjabat sebagai Direktur Jaringan Gusdurian itu menyebut, Imam Aziz tak pernah mencari panggung.

“Mas Imam bukan orang yang mengejar sorotan. Ia berbicara sederhana, tapi gagasannya selalu membumi,” ujar Alissa.

Menurutnya, pemikiran KH Imam dapat menjadi panduan penting bagi arah gerakan sosial dan kepemimpinan NU ke depan.

“Kalau kita cukup jeli membaca pemikirannya, di situ ada blueprint besar untuk masa depan,” tambahnya.

Kiai yang merakyat

Para sahabat dan murid menggambarkan Imam Aziz sebagai ulama pembelajar, penulis, sekaligus pejuang kemanusiaan.

Sejak muda, ia menempuh pendidikan di Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga (kini UIN), dan aktif di PMII serta Lembaga Pers Mahasiswa Arena. Dari sana, tumbuh pemikiran yang kritis dan progresif, namun tetap berpijak kuat pada nilai-nilai pesantren.

Ia berperan penting dalam Muktamar Warga NU di Cirebon tahun 2004, yang menegaskan kembali khittah sosial dan kultural NU. Imam Aziz juga mendirikan LKiS, lembaga yang berperan besar dalam pengembangan wacana Islam progresif dan advokasi sosial di Yogyakarta.

Sepanjang hidupnya, ia mendampingi kelompok-kelompok marginal — mulai dari anak jalanan, jemaah Ahmadiyah, masyarakat Kendeng, hingga warga Wadas yang menolak tambang batu andesit.

Selain menjadi Ketua PBNU periode 2010–2021, Imam Aziz juga mengasuh Pesantren Bumi Cendekia Yogyakarta, tempat ia menanamkan nilai-nilai keislaman yang humanis dan berpihak pada rakyat kecil.

Kini, seratus hari setelah kepergiannya, nama KH Muhammad Imam Aziz tetap hidup dalam kenangan banyak orang — sebagai Kiai Rakjat, seorang ulama yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk kemanusiaan. (*)

You Might Also Like

Sidang MK Memanas, MBG Disebut Geser Prioritas Pendidikan

Ter Stegen Comeback setelah 7 Bulan, Langsung Kebobolan di Menit ke-6

Fahmi Kampiun Ceqiu 10 Ball Tournament

Inflasi Jateng: Dari Cabai Pedas sampai Emas, Tantangan dan Harapan di Tangan Luthfi–Yasin

Kesaksian Wabup Purworejo hingga Pelari Pemula: Soekarno Run 2026 Bikin Ketagihan

TAGGED:100 hari wafatnya imam azizbedah bukulaunchingmbah dukuhpesantren bumi cendekia
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Ilustrasi siswa SMK. Nunggak SPP, Siswa SMK Beprestasi di Purworejo Dipaksa Mundur
Next Article Korupsi, Tiga Doktor UGM Bakal Diadili di Semarang

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Pelatih Basket Jateng Diduga Aniaya Pemain, Perbasi Turun Tangan

Luthfi Ingin Bank Jateng Jadi “Bank Sejuta Umat”

HUT ke-81 RI, Naik Trans Jateng Cuma Bayar 19 Persen

Bukan Sekadar Aspal, Ini Sebab Jalan Majapahit Cepat Rusak

Tradisigila Belum Mau Pulang: Street Love Memories Jadi Album Ketiga yang Penuh Cinta

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Info

Libur Akhir Tahun, Kapolda Turun Gunung Cek Posyan Tawangmangu

Desember 24, 2025
Salinan surat pemanggilan saksi, berkop Kejaksaan Agung. Dalam surat itu, eks-Pangdam IV/Diponegoro Letjen Widi Prasetijono disebut sebagai tersangka kasus korupsi BUMD Cilacap.
Hukum

Eks-Pangdam Diponegoro Letjen Widi Tersangka Korupsi BUMD Cilacap? Ada Salinan Surat Berkop Kejagung

Februari 13, 2026
KIAI CABUL - Kiai Ashari, pengasuh Ponpes Ndholo Kusumo, Pati, mengaku wali untuk memanipulasi psikologi korban. Kiai Ashari mencabuli 50 santriwati, mayoritas korban berasal dari keluarga rentan.
Hukum

The Power of Kiai Ashari: Cabuli 50 Santriwati, Bebas Berkeliaran Gak Ditahan, Polisi Kalah Sakti?

Mei 5, 2026
Pendidikan

Sekolah Kemitraan, Andalan Jateng Atasi Keterbatasan Kuota

Desember 27, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: 100 Hari Wafatnya KH Imam Aziz: Mengenang Sosok Kiai Rakyat
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?