BACAAJA, JAKARTA – Kasus dugaan korupsi yang menyeret mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, bersama dua mantan wakilnya, Lodewyk Pusung dan Sony Sonjaya, terus menjadi perhatian publik. Di balik penetapan ketiganya sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung, perhatian masyarakat kini juga tertuju pada besarnya nilai anggaran yang diduga bermasalah dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Meski penyidik belum mengumumkan secara resmi total kerugian negara yang ditimbulkan dalam perkara tersebut, sejumlah angka yang muncul dalam proses penyidikan sudah cukup membuat publik mengernyitkan dahi. Nilainya bukan miliaran, melainkan mencapai triliunan rupiah yang berasal dari berbagai proyek pengadaan barang dan jasa.
Kejaksaan Agung mengungkap bahwa dugaan penyimpangan terjadi dalam tata kelola program MBG selama tahun 2025 hingga 2026. Program yang awalnya dirancang untuk mendukung pemenuhan gizi masyarakat itu kini justru menjadi sorotan karena diduga dimanfaatkan untuk praktik yang merugikan keuangan negara.
Direktur Penyidikan Jampidsus Kejaksaan Agung, Syarief Sulaeman Nahdi, menyebut para tersangka diduga melakukan intervensi dalam proses pengadaan sehingga kebutuhan barang dan jasa tidak disusun berdasarkan kondisi riil di lapangan. Selain itu, penyidik menemukan indikasi markup atau penggelembungan harga dalam sejumlah proyek.
Salah satu proyek yang paling menyita perhatian adalah pengadaan motor listrik. Jumlahnya tidak main-main, mencapai 21.801 unit dengan nilai anggaran sekitar Rp1 triliun. Angka tersebut menjadi salah satu temuan terbesar yang kini sedang didalami penyidik.
Nilai pengadaan yang mencapai triliunan rupiah itu memunculkan banyak pertanyaan. Publik mulai mempertanyakan alasan kebutuhan motor listrik dalam jumlah sangat besar serta bagaimana proses perencanaannya bisa disetujui hingga menelan anggaran sedemikian besar.
Tak hanya motor listrik, penyidik juga menemukan dugaan masalah dalam pengadaan 32 ribu pasang sepatu. Proyek tersebut disebut tidak sesuai ketentuan dan diduga mengandung penggelembungan harga yang berpotensi merugikan negara.
Pengadaan perangkat elektronik juga masuk dalam daftar yang diperiksa. Tercatat lebih dari 31 ribu unit tablet diduga dibeli melalui proses yang tidak sesuai aturan dan menjadi bagian dari rangkaian proyek yang sedang diusut.
Yang tak kalah mencolok adalah pengadaan televisi berukuran 75 inci sebanyak 5.400 unit. Penyidik menduga proyek tersebut juga mengandung markup harga sehingga menjadi salah satu fokus pemeriksaan dalam kasus ini.
Meski sejumlah nilai proyek telah terungkap ke publik, Kejaksaan Agung menegaskan bahwa angka tersebut belum bisa disamakan dengan total kerugian negara. Saat ini auditor dan penyidik masih menghitung secara rinci dampak keuangan yang muncul akibat dugaan penyimpangan tersebut.
Perhitungan kerugian negara menjadi salah satu tahapan penting karena akan menjadi dasar dalam proses hukum berikutnya. Angka final nantinya akan menunjukkan seberapa besar kerugian yang benar-benar ditanggung negara akibat dugaan praktik korupsi tersebut.
Kasus ini juga menarik perhatian karena berkaitan dengan program yang menyangkut kebutuhan masyarakat luas. Program MBG sebelumnya dikenal sebagai salah satu upaya pemerintah untuk memperkuat kualitas gizi masyarakat melalui penyediaan makanan bergizi.
Karena itu, dugaan penyimpangan dalam pengelolaan anggaran program tersebut memunculkan kekecewaan di tengah masyarakat. Banyak pihak berharap dana yang seharusnya digunakan untuk kepentingan publik tidak justru tersedot akibat praktik korupsi.
Penetapan Dadan Hindayana dan dua mantan wakilnya sebagai tersangka menjadi babak baru dalam pengungkapan perkara ini. Ketiganya kini harus menjalani proses hukum sambil menunggu perkembangan penyidikan lebih lanjut.
Kejaksaan Agung juga membuka kemungkinan adanya pengembangan perkara apabila ditemukan fakta atau pihak lain yang diduga ikut terlibat. Penyidik saat ini masih menelusuri aliran anggaran, proses pengadaan, hingga pihak-pihak yang berperan dalam pengambilan keputusan.
Di tengah proses yang berjalan, perhatian publik kini tertuju pada satu pertanyaan besar: berapa sebenarnya total uang negara yang diduga hilang dalam kasus ini? Jawaban atas pertanyaan itu masih menunggu hasil audit dan penghitungan resmi yang sedang dilakukan.
Yang jelas, dari data pengadaan yang sudah diungkap ke publik, nilai proyek yang diperiksa mencapai angka yang sangat besar. Mulai dari motor listrik, tablet, sepatu, hingga televisi berukuran jumbo menjadi bagian dari daftar pengadaan yang kini berada di bawah sorotan penyidik.
Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pengawasan terhadap penggunaan anggaran negara harus dilakukan secara ketat, terutama pada program-program strategis yang menyangkut kepentingan masyarakat luas.
Publik kini menanti hasil penyidikan berikutnya, termasuk pengumuman resmi mengenai nilai kerugian negara yang sesungguhnya. Angka tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu fakta paling penting dalam perjalanan kasus yang sedang menyedot perhatian nasional ini.
Sementara itu, ketiga tersangka telah ditahan di Rutan Salemba cabang Kejaksaan Agung untuk 20 hari ke depan. Proses pemeriksaan masih terus berlangsung dan diperkirakan akan membuka lebih banyak fakta mengenai bagaimana anggaran bernilai fantastis tersebut dikelola hingga akhirnya berujung pada dugaan korupsi. (*)

