Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: “Ta Pa Kalembingu”, Filosofi Orang Sumba yang Anggap Saudara Seperti Baju Sendiri
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Pendidikan

“Ta Pa Kalembingu”, Filosofi Orang Sumba yang Anggap Saudara Seperti Baju Sendiri

Di tengah dunia yang makin sibuk ngomong soal individualisme, masyarakat adat Sumba Timur ternyata masih punya filosofi hidup yang bikin banyak orang mikir ulang soal arti keluarga. Namanya “Ta Pa Kalembingu”, konsep yang bukan sekadar hubungan darah, tapi rasa memiliki satu sama lain layaknya pakaian yang selalu melekat di tubuh.

T. Budianto
Last updated: Mei 22, 2026 9:15 am
By T. Budianto
3 Min Read
Share
RITUAL BUDAYA: Warga adat Sumba Timur memainkan alat musik tradisional dalam sebuah ritual budaya yang menjadi bagian dari identitas dan ketangguhan budaya masyarakat setempat. Penelitian dosen SCU, Bernardus Retang Wonghara mengungkap kuatnya konsep kekeluargaan “Ta Pa Kalembingu” atau “kita keluarga” sebagai perekat sosial masyarakat adat setempat. (Foto: Dok Pribadi)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG- Bernardus Retang Wonghara, dosen Fakultas Bahasa dan Seni Soegijapranata Catholic University (SCU) mengungkap, kekuatan terbesar masyarakat adat Sumba Timur ternyata bukan cuma tradisi atau ritual budaya, tapi rasa kekeluargaan yang masih hidup sangat kuat sampai sekarang.

Retang yang lahir di Waingapu, Sumba Timur, mengangkat kehidupan masyarakat adat di daerah asalnya dalam penelitian disertasi doktoralnya di bidang Ilmu Lingkungan SCU.

Salah satu temuan paling menarik dalam riset itu adalah konsep “Ta Pa Kalembingu” atau “kita keluarga” yang menurutnya tidak ditemukan di masyarakat adat lain di Indonesia.

“Kalau di Jawa mungkin klambi artinya pakaian. Di Sumba, saudara itu dianggap seperti pakaian yang melekat dan tidak bisa dipisahkan,” ujar Retang saat ditemui di Kampus SCU Semarang, Kamis (21/5/2026).

Baca juga: Wisudawan Terbaik SCU Raina Ghina ternyata Atlet Menembak: Sabet Medali Kapolri, Jaksa Agung hingga Danjen Kopassus

Menurutnya, konsep itu membuat hubungan sosial masyarakat adat Sumba Timur sangat kuat. Bahkan ketika ada tamu datang, warga biasanya lebih dulu memberikan sirih pinang lalu menelusuri garis silsilah keluarga. “Jadi relasi sosialnya sangat dekat dan kuat,” katanya.

Penelitian Retang yang berjudul Model Ketangguhan Budaya dan Pengetahuan Ekologis Tradisional: Pengembangan dan Penerapan Indikator Kualitatif di Sumba Timur memotret tiga komunitas adat di Sumba Timur yakni Kamanggih, Mondu, dan Kambata Wundut.

Penelitian bertujuan untuk melihat bagaimana mereka bertahan di tengah perubahan zaman, krisis lingkungan, hingga tekanan ekonomi modern. Dalam risetnya, Retang menemukan ada enam indikator utama yang membuat masyarakat adat Sumba Timur tetap tangguh.

Kekuatan Eksternal

Mulai dari identitas budaya, kemampuan adaptasi, jejaring sosial, tata kelola alam berbasis tradisi, kepemimpinan adat, hingga hubungan dengan kekuatan eksternal.

Menurutnya, masyarakat adat Sumba memiliki hubungan yang sangat erat dengan alam. “Kalau hutannya hilang, budayanya juga ikut hilang,” tegasnya. Ia lantas menyoroti ancaman ekspansi ekonomi dan pembukaan lahan yang kerap membuat masyarakat adat terdesak di tanah sendiri.

Padahal, praktik budaya masyarakat Sumba selama ini justru mengandung nilai konservasi alam dan keberlanjutan lingkungan. Retang menjelaskan, ritual adat seperti Warung Hupu Liku dan Puru la Mananga bukan sekadar kegiatan spiritual, tetapi juga bagian dari mekanisme menjaga keseimbangan alam.

Baca juga: SCU Gandeng Pemprov Jateng, Bareng-Bareng Perangi Kemiskinan

Selain itu, budaya lokal seperti bahasa Kambiara, agama Marapu, seni tari, tradisi lisan, hingga tenun ikat masih terus dipertahankan dan diwariskan lintas generasi.

Menariknya, masyarakat adat Sumba juga mulai beradaptasi dengan perkembangan zaman melalui sekolah adat, festival budaya, hingga pemanfaatan media digital untuk menjaga eksistensi budaya mereka.

Di saat banyak orang modern sibuk mencari “healing” ke mana-mana, masyarakat adat Sumba Timur ternyata sejak dulu sudah punya resep bertahan hidup: dekat dengan keluarga, menjaga alam, dan nggak lupa akar budaya sendiri. (eka)

You Might Also Like

Pemkot Evakuasi 86 Pohon Tumbang dalam Semalam

Ngeri! Sudewo Tak Cuma Terima Gratifikasi Uang, Keris Nogososro Juga Diembat

Bos BGN Bilang Nggak Ada Celah Korupsi, Eh Anak Buah Malah Ungkap Modus-modus Korupsi MBG

Lewat Perangko, Agustina Ajak Publik Rawat Sejarah Bangsa

Mau Sekolah Gratis Berasrama? SMK Boarding Jateng Buka Pendaftaran

TAGGED:Bernardus Retang Wongharaheadlinescusumba timur
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Taj Yasin: Media Bukan Cuma Cari Berita, Tapi Ikut Naikin Demokrasi Jateng
Next Article Jateng Media Summit 2026: Jadi Ajang Media Lokal “Reset Arah”

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia, Dino Patti Djalal.

Dino Patti Djalal Kembali Sentil Pemerintahan Prabowo: Tak Kirim Delegasi ke Iran, Takut Amerika?

SETOR UANG--Kontraktor Ferry Septha Indrianto alias Ferry Gareng beranjak usai menjadi saksi sidang korupsi terdakwa Sudewo, di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (6/7/2026). (bae)

Kontraktor Ngaku Setor Duit Rp125 Juta ke “Orangnya” Sudewo untuk Garap Proyek Ini

SAKSI SIDANG--Mantan Pangdam IV/Diponegoro, Letjen TNI Widi Prasetijono (layar monitor, tengah) jadi saksi sidang kasus pencucian uang hasil korupsi lahan BUMD Cilacap, Senin (6/7/2026). (bae)

Jadi Saksi Sidang, Eks Pangdam Widi Pakai Loreng dan Baret Merah

Saleh Wakil Ketua DPRD Jateng Soroti Tantangan Komunikasi Publik Era Digital

Balik Lagi! Thaufan Hidayat Pilih Tetap Berseragam PSIS

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Ketua Golkar Jateng M Saleh meraih gelar doktor bidang hukum dari Universitas Islam Sultan Agung, Sabtu (14/2/2026). Disertasinya terkait keadilan ekologis PSN menuai apresiasi.
Unik

Dinilai Implementatif, Gagasan Mohammad Saleh Layak Diaplikasikan dalam PSN

Februari 17, 2026
Pendidikan

Jateng Pertahankan Guru Non-ASN

Mei 27, 2026
SAMPAIKAN TUNTUTAN - Peserta aksi massa memanjat gerbang kantor Gubernuran Jateng, di Semarang, Senin (13/6/2026). Massa menyampaikan 5 tuntutan rakyat, serta menyorot peran TNI-Polri yang banyak menduduki jabatan sipil, sebagai bagian dari gejala militerisme. (dul)
Info

Ribuan Mahasiswa Semarang Raya Kepung Gubernuran, Sampaikan Panca Tuntutan Rakyat

Juni 15, 2026
TERDAKWA KORUPSI - Eks Direktur Bisnis Ritel dan Unit Usaha Syariah Bank Jateng, Hanawijaya (ubanan) menjalani sidang dakwaan di Semarang, Kamis (7/5/2026). (bae)
Hukum

Waduh! Eks-Bos Bank Jateng Keseret Kredit Siluman Proyek Bandara Internasional

Mei 7, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: “Ta Pa Kalembingu”, Filosofi Orang Sumba yang Anggap Saudara Seperti Baju Sendiri
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?