BACAAJA, ATLANTA- Dua puluh tahun setelah terakhir kali bertemu di laga kompetitif besar, dua rival klasik ini kembali beradu untuk memperebutkan satu tiket menuju final.
Di satu sisi ada Inggris yang sedang menemukan identitas baru bersama Thomas Tuchel. Di sisi lain, Argentina datang dengan aura juara bertahan yang belum kehilangan sentuhan magisnya.
Kalau bicara Inggris versus Argentina, yang teringat bukan cuma soal sepak bola. Rivalitas keduanya sudah melahirkan banyak cerita ikonik, mulai dari gol “Tangan Tuhan” Diego Maradona pada 1986 hingga drama kartu merah David Beckham di Piala Dunia 1998.
Baca juga: Mbappe Lagi Ganas, Tapi Spanyol Punya ‘Kutukan’ Buat Les Blues
Kini, generasi baru mendapat giliran menulis bab berikutnya. Secara statistik, Inggris memang masih unggul dengan hanya menelan dua kekalahan dalam 14 pertemuan melawan La Albiceleste. Namun sejarah tak lagi banyak berarti ketika peluit kick-off dibunyikan.
Sorotan utama tentu tertuju pada duel dua ikon berbeda generasi. Jude Bellingham sedang menjalani turnamen terbaiknya dengan koleksi enam gol, termasuk dua gol dramatis saat membawa Inggris menyingkirkan Norwegia di perempat final.
Di kubu lawan, Lionel Messi masih menunjukkan kelasnya. Sang kapten Tim Tango memimpin daftar top skor sementara dengan delapan gol, ditambah sederet assist yang membuat pertahanan lawan terus dibuat sibuk. Bukan cuma soal mencetak gol. Pertandingan ini juga bisa menjadi penentu perebutan Sepatu Emas Piala Dunia 2026.
Konsistensi Argentina
Kalau Inggris mengandalkan mental bangkit, Argentina membawa modal konsistensi. Sejak September tahun lalu, Lionel Scaloni sukses membawa timnya mencatat 13 kemenangan beruntun.
Di fase gugur mereka juga menunjukkan karakter juara. Sempat tertinggal dua gol dari Mesir, Argentina mampu membalikkan keadaan dan akhirnya menyingkirkan Swiss lewat gol dramatis Julian Alvarez di babak tambahan. Produktivitas mereka juga mengerikan. Empat pertandingan terakhir selalu berakhir dengan tiga gol yang dicetak La Albiceleste.
Pertarungan di lini tengah diprediksi menjadi penentu. Inggris akan mengandalkan Declan Rice dan Kobbie Mainoo untuk mempersempit ruang gerak Messi.
Baca juga: Piala Dunia Selalu Punya Cara Menyatukan Banyak Orang
Sebaliknya, Argentina berharap Enzo Fernandez, Alexis Mac Allister, serta Leandro Paredes mampu mendominasi penguasaan bola dan memberi ruang bagi Messi untuk mengatur tempo. Di lini depan, Scaloni tinggal menentukan siapa yang mendampingi Messi, Julian Alvarez atau Lautaro Martínez.
Di atas kertas, duel ini benar-benar sulit ditebak. Inggris sedang tumbuh menjadi tim yang tangguh bersama Tuchel, sementara Argentina masih membawa DNA juara yang selalu tahu cara bertahan hidup dalam pertandingan besar.
Statistik boleh berpihak ke siapa saja, sejarah juga bisa diperdebatkan. Tapi di semifinal Piala Dunia, satu kesalahan kecil sering lebih menentukan daripada seribu angka di atas kertas. (tebe)

